Whigfield Jalani Operasi Kedua untuk Atasi Nyeri Bekas Kanker Payudara, Tetap Jadwalkan Manggung
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi asal Denmark, Whigfield, mengungkapkan telah menjalani operasi kedua guna mengurangi rasa sakit akibat jaringan parut pengobatan kanker payudara.
- Meski masih dalam masa pemulihan, ia tetap berkomitmen tampil di Jerman awal November mendatang.
- Pengakuan ini menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai penyintas kanker yang aktif mengampanyekan kesadaran deteksi dini.

Whigfield, ikon musik dansa era 90-an, kembali harus naik meja operasi. Penyanyi bernama asli Sannie Carlson itu mengungkapkan melalui Instagram bahwa ia menjalani pembedahan kedua untuk mengatasi nyeri di payudara yang ditimbulkan oleh jaringan parut sisa operasi dan radioterapi kanker payudara beberapa tahun silam.
Unggahan pada 24 Oktober tersebut memperlihatkan Carlson, 56 tahun, berbaring di rumah sakit Milan, Italia, dengan gaun pasien dan penutup kepala bedah. Ia tersenyum sambil mengangkat dua jari, disertai keterangan singkat yang menyapa pengikutnya dengan nada ringan. “Rabu lalu saya menjalani operasi kedua untuk memperbaiki rasa sakit akibat jaringan parut dari operasi kanker payudara dan terapi radiasi beberapa tahun lalu,” tulisnya, seraya menambahkan bahwa ia kini menjalani istirahat total agar cepat pulih sebelum manggung berikutnya.
Meski tengah dalam masa penyembuhan, pelantun “Saturday Night” itu tidak berniat membatalkan penampilannya di Jerman dalam ajang 90s Supershow yang dijadwalkan awal November. Ia bahkan meminta rekomendasi serial televisi untuk mengisi waktu istirahatnya, dan menutup unggahan dengan sapaan khas “Happy Saturday night” — pengingat akan lagu yang pernah merajai tangga musik Inggris pada September 1994.
Unggahan itu langsung dibanjiri pesan dukungan dari sesama musisi dan penggemar. Rozalla, penyanyi yang tenar lewat “Everybody’s Free (To Feel Good)”, menuliskan harapan agar Carlson lekas sembuh. Penggemar lain menambahkan doa dan semangat, menyebut panggung musik masih menantinya. Dukungan serupa pernah mengalir saat Carlson membuka pengalaman serupa pada 2022, ketika ia mengaku harus kembali ke rumah sakit untuk biopsi.
“Berjuang melawan kanker payudara adalah hal yang aneh. Satu momen saya hidup sebaik-baiknya, menciptakan musik baru di London, momen berikutnya saya terjebak dalam gelembung mati rasa,” kenang Carlson dalam unggahan Oktober 2024, seperti dikutip dari akun Instagram-nya.
Pengakuan itu bukan sekadar curahan pribadi. Ia sengaja mengunggah foto payudaranya pasca-perawatan untuk mendorong orang lain melakukan pemeriksaan rutin. Menurutnya, operasi dan radiasi memang berat, tetapi melihat pasien lain — termasuk anak-anak — berjuang memberikan kekuatan tersendiri. Ia juga menyebut banyak pasien yang tak pernah lagi meninggalkan Rumah Sakit San Raffaele di Milan, isyarat betapa kerasnya penyakit tersebut.
Di Indonesia, kisah Whigfield relevan dengan beban kanker payudara yang masih tinggi. Data Globocan 2020 menempatkan kanker payudara sebagai jenis kanker paling umum pada perempuan Indonesia, dengan lebih dari 65.000 kasus baru setiap tahun. Kesadaran deteksi dini melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan mammografi masih menjadi tantangan, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas. Pengalaman penyintas seperti Carlson dapat menjadi pengingat bahwa nyeri atau keluhan setelah pengobatan bukan hal sepele dan perlu ditangani secara medis.
Bagi industri hiburan, keputusan Carlson untuk tetap tampil menunjukkan tekanan yang kerap dihadapi musisi untuk memenuhi jadwal meski kondisi tubuh belum sepenuhnya pulih. Namun, ia menegaskan prioritas pada penyembuhan dengan istirahat total. Publik tentu menantikan apakah ia benar-benar akan naik panggung di Jerman, atau justru memilih menunda demi kesehatan jangka panjang. Yang jelas, pesan positif dan ajakan peduli kanker yang ia sampaikan tetap bergema, jauh melampaui gemerlap panggung retromania.



