Muhammad Toha Menjelma Pilar DPMM FC, Persita Kehilangan Sosok Loyal Sembilan Tahun
Baca dalam 60 detik
- Muhammad Toha tampil penuh dalam sepuluh laga DPMM FC musim ini, mengokupasi pos bek kanan tanpa rotasi.
- Kepindahan ke Brunei menjadi langkah berani di tengah arus pemain diaspora yang justru membanjiri Liga Indonesia.
- DPMM bersaing di papan atas Liga Super Malaysia dan menembus semifinal Piala FA, tetapi ujian sesungguhnya menanti di leg kedua kontra JDT.

Muhammad Toha membuktikan keputusannya merantau ke Brunei bukan sekadar petualangan singkat. Bek kanan berusia 29 tahun itu telah menjadi pilar tak tergantikan bagi DPMM FC, klub berjuluk The Wasp yang berkompetisi di Liga Super Malaysia musim 2026/2027.
Sejak didatangkan dari Persita Tangerang pada awal musim, Toha langsung mengisi pos bek kanan di setiap pertandingan. Catatan menunjukkan ia tampil dalam sepuluh laga DPMM di semua ajang—lima di Liga Super Malaysia dan lima di Piala FA Malaysia—dengan status starter dan nyaris tanpa jeda. Total ia telah mengumpulkan lebih dari 900 menit bermain, sebuah bukti kepercayaan penuh dari tim pelatih.
Konsistensi Toha berbanding lurus dengan performa DPMM. Di Liga Super Malaysia, ia membantu timnya mengalahkan Penang (1-0), Sabah (2-1), dan Kuching City (3-2). Dua kekalahan yang diderita DPMM masing-masing berasal dari Kuala Lumpur (0-1) dan raksasa Johor Darul Ta'zim (0-3). Hasil-hasil itu menempatkan DPMM di peringkat keempat klasemen sementara dengan koleksi 9 poin, terpaut 9 angka dari JDT di puncak.
Perjalanan di Piala FA Malaysia juga menjadi panggung bagi Toha untuk menunjukkan kualitasnya. DPMM menembus semifinal setelah melewati Terengganu FC dengan agregat 6-3 di babak 16 besar, lalu mengatasi Kuala Lumpur dengan agregat 4-3. Namun, langkah mereka terhenti sementara setelah kalah 0-2 dari JDT pada leg pertama semifinal, Jumat (23/10/2026). Leg kedua akan digelar pada 8 November mendatang, menjadi ujian berat bagi Toha dan rekan-rekannya untuk membalikkan keadaan.
Keputusan Toha hijrah ke Malaysia terbilang unik di tengah gelombang pemain diaspora Indonesia yang justru berbondong-bondong pulang untuk memperkuat klub-klub di BRI Liga 1. Nama-nama seperti Rafael Struick, Jens Raven, Eliano Reijnders, Thom Haye, Jordi Amat, Ivar Jenner, Ragnar Oratmangoen, Shayne Pattynama, dan Dion Markx memilih berkarier di tanah air. Toha justru mengambil arah sebaliknya: meninggalkan Persita setelah sembilan musim dan menantang dirinya di kompetisi negara tetangga.
"Saya ingin mencari pengalaman baru di luar sana dan semoga saya bisa mempertahankan karakter permainan, attitude, dan gaya hidup. Saya harus bisa memberi contoh buat pemain lain. Terutama pemain muda," ujar Toha, seperti dikutip dari pemberitaan ileague akhir Juni lalu.
Bagi Persita Tangerang, kepergian Toha meninggalkan lubang di sektor pertahanan yang tidak mudah ditambal. Sembilan tahun pengabdian membuatnya menjadi bagian dari identitas tim. Namun, bagi Toha sendiri, langkah ini adalah upaya memperpanjang karier di level yang lebih kompetitif. Liga Super Malaysia, meski tidak sepopuler liga-liga Eropa, menawarkan tantangan tersendiri dengan adanya klub sekelas JDT yang mendominasi.
Kontrak Toha di DPMM hanya berdurasi satu musim. Jika ia mampu mempertahankan performa dan membantu DPMM finis di posisi terhormat atau menembus final Piala FA, bukan tidak mungkin klub-klub lain di Malaysia atau bahkan Asia Tenggara akan meliriknya. Sebaliknya, kegagalan di leg kedua melawan JDT bisa menjadi pukulan moral bagi seluruh tim.
Pertanyaannya, mampukah Toha dan DPMM membalikkan defisit dua gol atas JDT pada 8 November nanti? Ataukah langkah mereka di Piala FA harus berhenti di semifinal, sementara fokus beralih ke upaya menembus tiga besar Liga Super Malaysia? Yang jelas, Toha telah membuktikan bahwa keberanian mengambil jalur berbeda bukanlah keputusan sia-sia.



