Persija Puncaki Klasemen, Tapi Tiga Nama Besar Masih Nol Menit di Era Shin Tae-yong
Baca dalam 60 detik
- Persija Jakarta memimpin BRI Super League 2026/2027 dengan 15 poin dari enam laga, unggul satu angka atas Dewa United.
- Kedalaman skuad membuat Shayne Pattynama, Eksel Runtukahu, dan Fajar Faturahman belum sekalipun turun bermain.
- Manajemen Macan Kemayoran dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan stok pemain berkualitas atau merotasi demi menjaga harmoni ruang ganti.

Persija Jakarta menutup pekan keenam BRI Super League 2026/2027 di puncak klasemen dengan koleksi 15 poin, tetapi di balik capaian itu tersimpan persoalan klasik tim bertabur bintang: tiga pemain sekelas Shayne Pattynama, Eksel Runtukahu, dan Fajar Faturahman belum pernah mencicipi satu menit pun di kompetisi resmi. Situasi ini menjadi ujian bagi manajemen Macan Kemayoran dalam mengelola ekspektasi skuad yang kedalamannya berada di atas rata-rata liga.
Sejak kedatangan Shin Tae-yong, Persija memang tampil agresif di bursa transfer. Sejumlah rekrutan anyar langsung mengisi pos utama, sementara pemain yang sebelumnya menjadi andalan harus rela menepi. Dampaknya terlihat pada catatan menit bermain: nama-nama yang pernah menjadi langganan Timnas Indonesia justru menjadi penghuni tetap bangku cadangan. Kondisi ini wajar dalam tim yang sedang mengejar konsistensi, namun berisiko menimbulkan ketegangan internal jika tidak dikelola dengan komunikasi yang jelas.
Khusus Pattynama, absennya bukan karena penurunan kualitas. Mantan pemain Viking FK, Buriram United, dan KAS Eupen itu tiba di Jakarta pada 2025/2026 dengan reputasi mumpuni. Namun, performa moncer Dony Tri Pamungkas membuat posisi wingback kiri nyaris tak tergoyahkan. Di belakang Dony, masih ada Pratama Arhan yang juga dalam performa apik. Artinya, Pattynama harus bersabar atau mencari celah melalui rotasi di kompetisi lain.
"Persaingan di setiap posisi memang ketat. Kami menghargai profesionalisme semua pemain, termasuk yang belum mendapat kesempatan," ujar sumber internal klub, menggambarkan situasi ruang ganti.
Di lini depan, Eksel Runtukahu mengalami nasib serupa. Musim lalu ia tampil produktif dengan enam gol dan tiga assist, bahkan sempat dipanggil mengikuti seleksi Timnas Indonesia. Kini, dengan hadirnya penyerang-penyerang baru, menit bermainnya tergerus drastis. Sementara Fajar Faturahman, yang didatangkan sebagai solusi di sisi kanan, justru melihat Kerim Memija dan Ilham Rio Fahmi tampil lebih meyakinkan. Shin Tae-yong tampaknya lebih mengutamakan stabilitas pertahanan ketimbang bereksperimen.
Dari kacamata taktik, keputusan Shin Tae-yong bisa dipahami. Persija sedang dalam momentum positif dan perubahan komposisi berisiko merusak keseimbangan tim. Namun, dalam jangka panjang, mengabaikan pemain berkualitas dapat menimbulkan masalah. Cedera, akumulasi kartu, atau penurunan performa bisa memaksa rotasi mendadak. Jika pemain cadangan tidak pernah mendapatkan ritme pertandingan, kualitas mereka akan sulit diandalkan saat dibutuhkan.
Konteks Indonesia turut memberi warna. Liga yang padat dan kompetisi antarwilayah menuntut setiap klub memiliki kedalaman skuad yang merata. Persija, sebagai klub dengan basis suporter besar, selalu dituntut berprestasi di semua ajang. Manajemen perlu memastikan para pemain yang belum dimainkan tetap termotivasi, misalnya melalui program pinjaman atau menit bermain di kompetisi sekunder. Tanpa itu, risiko kehilangan pemain pada jendela transfer berikutnya akan meningkat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Shin Tae-yong akan memberi kesempatan kepada Pattynama dan kawan-kawan sebelum paruh musim, atau justru mempertahankan formasi yang ada demi mengejar gelar. Jawabannya tidak hanya menentukan nasib individu, tetapi juga arah kebijakan rotasi Persija dalam menghadapi jadwal yang semakin padat.



