Kombinasi Obat Amgen-AstraZeneca Pangkas Risiko Kematian Kanker Paru 58 Persen
Baca dalam 60 detik
- Uji klinis fase lanjut menunjukkan penambahan Imdelltra (Amgen) pada Imfinzi (AstraZeneca) menurunkan risiko kematian pasien kanker paru sel kecil stadium luas hingga 58%.
- Terapi kombinasi memperpanjang median kelangsungan hidup keseluruhan menjadi 21,1 bulan, dibandingkan 12,7 bulan pada pasien yang hanya menerima Imfinzi.
- Hasil ini membuka peluang komersial lebih besar bagi Imdelltra yang penjualannya melonjak 115% year-on-year dan berpotensi menjadi blockbuster.

Harapan baru bagi pasien kanker paru sel kecil (small cell lung cancer/SCLC) stadium luas muncul dari hasil uji klinis fase akhir yang diumumkan akhir pekan lalu. Penambahan Imdelltra, imunoterapi dari Amgen, ke Imfinzi milik AstraZeneca terbukti memangkas risiko kematian sebesar 58% dibandingkan penggunaan Imfinzi saja. Temuan ini dipresentasikan pada kongres tahunan European Society for Medical Oncology (ESMO) dan berpotensi mengubah standar terapi untuk salah satu kanker paling agresif.
SCLC stadium luas adalah penyakit yang tumbuh cepat dan telah menyebar ke luar paru. Setiap tahun, sekitar 31.000 kasus baru SCLC tercatat di Amerika Serikat, dan 60โ70% di antaranya terdiagnosis pada stadium luas. Selama ini, meski kemoterapi awal memberikan respons, penyakit sering kambuh dalam hitungan bulan. Imunoterapi memang membantu sebagian kecil pasien, tetapi manfaat jangka panjangnya belum memadai. Kombinasi Imdelltra-Imfinzi menjanjikan perbaikan yang lebih berarti.
Dr. Paul Burton, Chief Medical Officer Amgen, dalam wawancara menyebut data ini sebagai momen transformatif. Menurutnya, kombinasi tersebut berpotensi mengubah kanker yang sangat agresif menjadi penyakit kronis yang bisa dikendalikan. โIni adalah salah satu momen dalam dunia kedokteran ketika Anda melihat data yang begitu mendalam dan akan mengubah standar perawatan,โ ujarnya. Senada, Dr. Jacob Sands, peneliti utama dari Dana-Farber Cancer Institute, menekankan bahwa manfaat terlihat konsisten di berbagai subkelompok pasien, termasuk mereka yang kanker telah menyebar ke otak atau hatiโkondisi yang biasanya memperburuk prognosis.
Mekanisme kerja kedua obat saling melengkapi. Imdelltra merupakan antibodi bispecific yang menempel pada DLL3 (protein di sel kanker) dan CD3 (protein di sel T), sehingga menarik sel imun mendekati tumor dan mengaktifkannya untuk menghancurkan kanker. Sementara Imfinzi memblokir PD-L1, protein yang dipakai sel kanker untuk menghindari sistem imun. Kombinasi ini secara teori meningkatkan respons imun terhadap tumor. Uji klinis ini sendiri tidak membandingkan kombinasi dengan pendekatan lini pertama lainnya, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan Imdelltra lebih awal dapat memperbaiki trajektori penyakit.
โData ini menunjukkan bahwa kami berpotensi mengubah salah satu kanker paling agresif yang kami tangani menjadi penyakit kronis,โ kata Dr. Paul Burton, Chief Medical Officer Amgen.
Dampak komersialnya pun signifikan. Imdelltra saat ini disetujui untuk pasien SCLC yang progresif setelah kemoterapi berbasis platinum. Dengan hasil uji fase akhir ini, Amgen berpeluang memperluas label obat tersebut sebagai terapi pemeliharaan lini pertama, yang tentu akan meningkatkan pangsa pasarnya. Pada kuartal II 2026, penjualan Imdelltra mencapai US$288 juta, melonjak 115% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, obat ini membukukan penjualan global US$627 juta dan hampir pasti melampaui ambang US$1 miliar dalam waktu dekat.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan meski tidak secara langsung. Kanker paru merupakan salah satu penyebab kematian utama di Tanah Air, dengan prevalensi SCLC yang cukup tinggi. Namun, akses terhadap imunoterapi canggih seperti Imdelltra dan Imfinzi masih terbatas karena harga yang mahal dan belum tentu tercakup dalam program jaminan kesehatan nasional. Jika kombinasi ini eventually disetujui di Indonesia, tantangan berikutnya adalah memastikan ketersediaan dan keterjangkauan bagi pasien. Regulator seperti BPOM dan Kementerian Kesehatan perlu mempertimbangkan jalur regulasi yang mempercepat masuknya terapi inovatif tanpa mengorbankan keselamatan.
Ke depan, perhatian tertuju pada data kelangsungan hidup jangka panjang yang lebih matang. Sands memperkirakan angka 21 bulan masih bisa membaik seiring follow-up yang lebih lama, seperti yang terlihat pada uji fase I sebelumnya di mana manfaat bertahan hingga bertahun-tahun. Jika terbukti konsisten, kombinasi ini tidak hanya memperpanjang usia tetapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien. Pertanyaannya, seberapa cepat regulator di berbagai negara, termasuk Indonesia, merespons dan menyediakan akses bagi mereka yang membutuhkan?



