Obama Turun Gunung di Detroit, Dukung El-Sayed dan Serang Trump soal Politik Uang
Baca dalam 60 detik
- Barack Obama menggelar kampanye perdana untuk Abdul El-Sayed di Detroit pada hari pertama pemungutan suara awal Michigan, menandai dukungan terbuka pertama mantan presiden itu terhadap kandidat Senat dari Partai Demokrat tersebut.
- Pidato Obama menyoroti isu politik uang dan akses kesehatan, sekaligus melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Trump yang dituding mengutamakan kepentingan pribadi dan keluarganya.
- Persaingan Senat Michigan dinilai sangat ketat, dengan El-Sayed unggul tipis atas kandidat Republik Mike Rogers; hasilnya dapat menentukan keseimbangan kekuatan di Washington.

Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama kembali ke panggung kampanye pada Sabtu (24/10) dengan menggelar rapat umum di Detroit, Michigan, untuk mendukung Abdul El-Sayed, calon Senat dari Partai Demokrat. Acara tersebut berlangsung pada hari pertama pemungutan suara awal di negara bagian itu, menjelang pemilihan umum pada 3 November mendatang.
Dalam pidatonya di Cass Technical High School, Obama menegaskan bahwa El-Sayed memperjuangkan "perubahan nyata yang akan mengeluarkan uang dari politik dan memasukkan uang ke kantong Anda". Ia juga menyatakan dukungannya terhadap Jocelyn Benson, calon gubernur dari Partai Demokrat, dalam upaya meningkatkan partisipasi pemilih.
Obama tidak hanya memuji El-Sayed, tetapi juga melancarkan serangan terhadap Presiden Donald Trump. Ia menuduh Trump "memperkaya diri sendiri dan keluarganya" serta membangun budaya di tingkat atas yang gemar menerima imbalan. "Belum pernah ada presiden yang begitu berniat menjual pengaruh seperti ini," ujarnya.
Dukungan Obama terhadap El-Sayed menjadi sorotan karena sebelumnya hubungan keduanya sempat diwarnai perbedaan pandangan. El-Sayed, seorang dokter dan mantan pejabat kesehatan Wayne County, pernah mengkritik Affordable Care Act (ACA) sebagai solusi tambal sulam. Namun setelah memenangkan primari Agustus yang sengit, El-Sayed menyebut Obama sebagai figur mentor. Obama sendiri mengakui bahwa mereka tidak selalu sepakat, tetapi memiliki nilai-nilai yang sama dalam memastikan keadilan sosial.
El-Sayed memenangkan primari Demokrat setelah mengalahkan anggota kongres moderat Haley Stevens, yang didukung oleh establishment partai dan organisasi pro-Israel. Kemenangan itu memberinya tiket untuk menghadapi Mike Rogers, mantan anggota kongres yang didukung Trump. Rogers sebelumnya kalah tipis dari Senator Demokrat Elissa Slotkin pada pemilihan Senat 2024.
Dalam pidatonya, Obama juga menyinggung kebijakan tarif Trump, dengan menyebut Kanada sebagai "kekaisaran jahat yang terkenal" dan bercanda tentang Martin Short dan sirup maple. Ia juga mengolok-olok rencana renovasi Gedung Putih, mengatakan Trump seharusnya tampil di HGTV dan membuat Gedung Putih tampak seperti "Saddam Hussein membuka Cheesecake Factory".
"Kami tidak akan sepakat dalam setiap detail setiap isu. Anda tahu siapa lagi yang tidak setuju dengan semua yang saya lakukan? Michelle Obama," kata Obama, disambut tawa hadirin.
El-Sayed sendiri menghadapi serangan dari lawannya. Trump dalam kampanyenya menyebut El-Sayed sebagai "jihadis" dan menuduhnya memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, tuduhan yang dibantah keras oleh El-Sayed. Selain itu, El-Sayed juga dikritik oleh sayap establishment Partai Demokrat karena tampil bersama streamer sayap kiri Hasan Piker.
Slotkin, yang juga berbicara di rapat umum tersebut, menegaskan bahwa Michigan percaya pada pemimpin yang berani. "Tidak masalah jika kami berbeda pendapat, karena kami jauh lebih banyak sepakat," ujarnya. "Kami akan menjadi pengawas terhadap Donald Trump di Gedung Putih."
Pemilihan Senat Michigan menjadi salah satu pertarungan paling ketat di tingkat nasional. Partai Republik berharap dapat merebut kursi ini setelah lama dikuasai Demokrat. Sementara itu, Trump dijadwalkan berkampanye di Port Huron pada Minggu (25/10) untuk mendukung kandidat Republik.
Bagi Indonesia, dinamika politik Amerika Serikat selalu memiliki implikasi, terutama dalam kebijakan perdagangan dan hubungan bilateral. Ketatnya persaingan di Michigan mencerminkan polarisasi politik AS yang dapat mempengaruhi arah kebijakan luar negeri Washington, termasuk terhadap kawasan Asia Tenggara. Investor dan pelaku usaha di Indonesia perlu mencermati perkembangan ini karena stabilitas politik AS berdampak pada pasar global dan arus investasi.
Dengan pemungutan suara awal yang telah dimulai, pertanyaannya kini adalah apakah dukungan Obama mampu mendorong El-Sayed melewati garis finis, atau justru sebaliknya, intervensi mantan presiden itu memicu reaksi balik dari pemilih Republik. Semua akan terjawab pada 3 November.



