Petrelintide, Kandidat Obat Obesitas Baru dengan Efek Samping Pencernaan Lebih Ringan dari GLP-1
Baca dalam 60 detik
- Uji fase 2 petrelintide menunjukkan penurunan berat badan hingga 9,8% dalam 28 minggu dengan keluhan mual yang lebih jarang dibanding plasebo.
- Hanya 6 dari 404 partisipan yang menghentikan pengobatan karena masalah gastrointestinal, berbeda jauh dari pola putus obat pada GLP-1.
- Meski menjanjikan, petrelintide belum tersedia komersial dan masih memerlukan uji fase 3 serta data pada populasi diabetes sebelum dipakai luas.

Sebuah uji klinis fase 2 terhadap petrelintide, obat eksperimental untuk obesitas, memperlihatkan bahwa penurunan berat badan yang signifikan dapat dicapai dengan keluhan saluran cerna yang relatif lebih ringan dibandingkan terapi GLP-1 yang kini populer. Temuan ini menjadi angin segar bagi sebagian pasien yang selama ini kesulitan melanjutkan pengobatan karena mual dan gangguan pencernaan.
Studi yang melibatkan 485 partisipan dengan kelebihan berat badan atau obesitas tanpa riwayat diabetes itu menguji beberapa dosis petrelintide versus plasebo selama 28 pekan. Rata-rata perubahan berat badan berkisar 7,9% pada kelompok dosis 1 mg hingga 9,8% pada dosis 5 mg. Angka itu tergolong berarti secara klinis, meski belum setara dengan capaian beberapa obat GLP-1 generasi terbaru.
Yang membedakan petrelintide adalah profil tolerabilitasnya. Para peneliti melaporkan bahwa kejadian gastrointestinal pada kelompok petrelintide secara umum serupa dengan plasebo. Mual memang lebih sering muncul (20% versus 6% pada plasebo), tetapi muntah, diare, dan sembelit tercatat pada frekuensi yang tidak jauh berbeda dari plasebo. Hanya enam dari 404 peserta yang menghentikan pengobatan karena efek samping pencernaan.
Petrelintide bekerja melalui jalur amilin, hormon yang disekresikan bersama insulin oleh sel beta pankreas. Amilin memperlambat pengosongan lambung, menekan sekresi glukagon setelah makan, dan diperkirakan memberi sinyal kenyang. Jalur ini sebagian saling melengkapi dengan reseptor GLP-1, sehingga para ilmuwan menilai pendekatan amilin sebagai kelas obat antiobesitas yang menjanjikan.
"Kehilangan 8% hingga 10% berat badan dalam 28 pekan adalah hasil yang signifikan dan positif bagi pasien yang menggunakan amilin," ujar Clare Thompson, dokter umum di Cadogan Clinic, seperti dikutip Medical News Today.
Thompson menjelaskan bahwa amilin dan GLP-1 sama-sama memperlambat pengosongan lambung, yang secara alami menimbulkan rasa mual. Pada pengguna GLP-1, keluhan itu biasanya mereda seiring adaptasi metabolik. Ia memperkirakan mekanisme serupa berlaku pada amilin, dengan tolerabilitas yang membaik setiap kali dosis disesuaikan.
Meski begitu, para penulis studi mengingatkan bahwa penelitian ini belum menjawab apakah pasien yang tidak toleran terhadap GLP-1 akan mengalami perbaikan serupa saat beralih ke petrelintide. Pertanyaan itu dinilai krusial karena kelompok pasien tersebut justru menjadi target utama alternatif terapi. Diperlukan uji lanjutan yang secara spesifik membandingkan keduanya.
Dari sisi regulasi, petrelintide masih berada di jalur awal. Obat ini belum tersedia secara komersial dan memerlukan uji fase 3 dengan populasi lebih besar, termasuk pasien diabetes, sebelum dapat diajukan ke otoritas pengawas obat. Thompson menegaskan bahwa data yang ada saat ini belum cukup bagi calon pasien untuk menyimpulkan apakah amilin lebih baik daripada GLP-1.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat beban obesitas yang terus meningkat dan akses terhadap obat GLP-1 yang masih terbatas karena harga. Jika petrelintide lolos uji fase 3 dengan profil efek samping yang lebih ramah, obat ini berpotensi menjadi opsi yang lebih mudah dijalani pasien, sekaligus menekan angka putus pengobatan. Namun, tanpa data uji klinis di populasi Asia Tenggara, pemerintah dan badan pengawas obat perlu mencermati bukti efikasi dan keamanan pada kelompok etnis yang berbeda.
Ke depan, pertanyaannya bukan sekadar apakah petrelintide lebih unggul dari GLP-1, melainkan siapa yang paling diuntungkan oleh pendekatan amilin ini. Uji fase 3 yang sedang dinantikan akan menentukan apakah janji tolerabilitas yang lebih baik bertahan pada skala besar, dan apakah obat ini dapat menjadi terapi lini pertama atau hanya alternatif bagi mereka yang gagal dengan GLP-1.



