Adik RJ Mitte Ungkap Kehilangan 'Separuh Jiwa' Usai Bintang Breaking Bad Berpulang
Baca dalam 60 detik
- Lacianne Carriere, adik mendiang RJ Mitte, membagikan unggahan emosional yang menyebut sang kakak sebagai 'separuh jiwa' dan sosok yang membentuk identitasnya.
- Mitte, yang dikenal sebagai Walter Jr. dalam serial Breaking Bad, meninggal dunia pada usia 34 tahun setelah didiagnosis cerebral palsy sejak kecil.
- Ungkapan duka keluarganya menyoroti pentingnya dukungan kesehatan mental, terutama di kalangan aktor muda yang menghadapi tekanan industri hiburan.

Kabar duka menyelimuti industri hiburan Hollywood. RJ Mitte, aktor yang memerankan Walter Jr. dalam serial ikonik Breaking Bad, meninggal dunia pada usia 34 tahun setelah mengakhiri hidupnya sendiri pada awal Oktober. Kabar tersebut meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya, terutama sang adik, Lacianne Carriere, yang menuangkan kesedihannya melalui unggahan di Instagram pada Jumat (23/10/2026).
Dalam unggahan tersebut, Lacianne menyebut bahwa hidupnya tak lagi terasa nyata sejak kepergian sang kakak. Ia mengenang momen ketika ia masih melihat sebotol Fanta stroberi kesukaan RJ tergeletak di meja kopinya saat menerima kabar duka. "Tidak ada kata-kata yang bisa mewakili. Kamu baru saja ada di sini... Fanta stroberimu masih ada di meja saat aku menerima telepon itu," tulisnya, seperti dikutip dari laman Bang Premier.
Lacianne menggambarkan RJ bukan sekadar kakak, melainkan juga sosok ayah dan sahabat. Ia mengaku hampir seluruh aspek kepribadiannya terbentuk berkat pengaruh sang kakak—mulai dari selera musik, film, hingga kecintaannya pada video game. "Kamu mengajariku bahwa bahkan selembar kertas kecil pun bisa menjadi kenangan berharga di kemudian hari," ujarnya.
Dalam unggahannya, Lacianne juga menyoroti betapa besarnya kehilangan yang dirasakan keluarga. Ia menyebut dirinya kehilangan "separuh jiwa" karena RJ adalah pribadi yang paling dekat dengannya. "Aku kehilangan kakakku, tapi aku juga kehilangan ayahku. Setiap aspek kepribadianku adalah karena pengaruhmu," tulisnya.
Lebih lanjut, ia menceritakan bahwa orang-orang terdekat RJ hampir setiap malam berkumpul untuk mengenang kisah-kisah liar dan lucu tentang almarhum. "Kamu adalah nyawa dari pesta, pria paling keren yang selalu kami coba ikuti tapi tak pernah bisa. Kamu membuatku menjadi diriku," kenangnya.
"Aku sangat membutuhkan kakakku sekarang. Kamu akan memutar musik lofi dan menyuruhku bangkit serta duduk di kamar mandi, karena itu selalu membuatmu merasa lebih baik. Aku tahu kamu sedang mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja, meski aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga. Aku berjanji cintamu akan selalu hidup dalam diriku sampai hari aku bertemu denganmu lagi."
— Lacianne Carriere, adik RJ Mitte
Kepergian RJ Mitte menambah daftar panjang aktor muda Hollywood yang berpulang terlalu cepat. Diagnosa cerebral palsy yang ia alami sejak usia tiga tahun tidak menghalangi kariernya di dunia akting. Justru, perannya sebagai Walter Jr. dalam Breaking Bad—remaja penyandang disabilitas yang berjuang menghadapi dinamika keluarganya—menjadi representasi penting bagi komunitas difabel di layar kaca.
Di Indonesia, kasus kehilangan sosok publik akibat tekanan mental kerap menjadi pengingat akan pentingnya kesehatan jiwa. Meski tidak ada kaitan langsung dengan industri hiburan Tanah Air, kisah RJ Mitte dapat menjadi cermin bahwa tekanan pekerjaan dan ekspektasi sosial bisa menimpa siapa saja, termasuk mereka yang tampak sukses di permukaan. Kesadaran akan pentingnya ruang cerita dan dukungan psikologis bagi pekerja seni di Indonesia masih perlu diperkuat, seiring meningkatnya tuntutan industri kreatif yang serba cepat.
Lacianne menutup unggahannya dengan kalimat penuh cinta: "Aku mencintaimu sepenuhnya, dan kamu mencintaiku sama. Itu saja. Sisanya adalah konfeti." Ia berjanji akan menjaga warisan sang kakak agar tetap hidup melalui dirinya. Sementara itu, publik dan rekan sesama aktor terus mengalirkan doa dan penghormatan terakhir bagi aktor yang dikenal rendah hati itu.
Ke depan, perhatian terhadap kesehatan mental para aktor muda menjadi pekerjaan rumah bersama. Apakah industri hiburan—baik di Hollywood maupun Indonesia—akan lebih serius menyediakan sistem pendukung bagi para pekerjanya, ataukah kisah seperti ini akan terus berulang tanpa perubahan berarti?



