Krisis Suku Cadang Mesin Paksa Pesawat Muda Dibongkar Dini, Biaya Maskapai Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Kelangkaan mesin dan suku cadang membuat 21 pesawat generasi terbaru dibongkar pada usia rata-rata 6,4 tahun, jauh di bawah normal 21,7 tahun.
- Pasar suku cadang bekas memanas: harga mesin melonjak 60% sejak 2019, sementara sewa mesin mencapai US$180 ribu per bulan.
- Runtuhnya Spirit Airlines menambah pasokan pesawat Airbus ke pasar, memaksa pemilik memilih antara menyimpan, menjual, atau membongkar untuk suku cadang.

Industri penerbangan global tengah menghadapi ironi: pesawat-pesawat modern yang dirancang terbang selama puluhan tahun justru dibongkar sebelum genap berusia satu dekade. Fenomena ini bukan karena kecelakaan atau kerusakan fatal, melainkan akibat krisis suku cadang dan mesin yang berkepanjangan, yang memaksa pemilik pesawat mengambil keputusan ekonomi sulit.
Data dari firma penerbangan IBA Group menunjukkan bahwa antara Juni 2025 dan Agustus 2026, sebanyak 21 pesawat generasi terbaru—mayoritas Airbus dan beberapa Boeing—telah dibongkar. Usia rata-rata pesawat tersebut hanya 6,4 tahun, sangat kontras dengan rata-rata pensiun normal pesawat narrow-body yang mencapai 21,7 tahun. Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa dekade pesawat seumur itu dijadikan sumber suku cadang.
Pemicu utamanya adalah kelangkaan mesin jet. Mesin generasi baru yang lebih hemat bahan bakar ternyata memerlukan perawatan lebih awal dari perkiraan, sehingga membanjiri bengkel perbaikan dan overhaul (MRO) di seluruh dunia. Antrean panjang membuat maskapai dan perusahaan leasing harus menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk mendapatkan mesin pengganti. Di sisi lain, harga mesin di pasar sekunder melonjak tajam. Menurut IBA, mesin Pratt & Whitney yang terkena recall pada 2023 kini dihargai hampir US$17 juta per unit—naik 60% dari kisaran tertinggi pada 2019.
Bill Thompson, wakil presiden akuisisi pesawat di EirTrade Aviation, mengaku baru kali ini membeli pesawat yang usianya belum mencapai lima tahun. Perusahaan itu membeli sebuah Airbus A320neo bekas Spirit Airlines—yang diproduksi Juli 2022—dengan harga "single-digit" juta dolar, lalu membongkarnya untuk dijual sebagai lebih dari 1.000 komponen. "Saya tidak tahu apakah Anda bisa menjual pembuat kopi, tapi kadang-kadang bisa," ujarnya menggambarkan luasnya pasar suku cadang.
Fenomena ini diperparah oleh runtuhnya Spirit Airlines pada Mei 2026. Maskapai diskon asal AS itu meninggalkan puluhan pesawat Airbus yang kini menganggur di gudang penyimpanan di Goodyear, Arizona. Pemilik pesawat—sebagian perusahaan leasing—dihadapkan pada pilihan: menyimpan dan menunggu mesin pengganti, menjual pesawat utuh, atau membongkarnya untuk suku cadang. Bagi banyak pihak, opsi terakhir lebih menguntungkan secara finansial meskipun harus mengorbankan aset yang masih produktif.
"Setahun mungkin tidak terdengar lama, tapi bagaimana dengan tiga atau empat tahun? Itu masalahnya bagi pesawat yang datang pada 2023, 2024, dan 2025," kata Dave Querio, CEO Ascent Aviation Services, menggambarkan panjangnya waktu tunggu perbaikan.
Pasar suku cadang bekas pun ikut memanas. Simon Goodson, CEO AerFin, mengungkapkan bahwa satu bilah kipas mesin bisa berharga US$50.000 hingga lebih dari US$100.000 untuk pesawat besar. Sementara itu, disk mesin bisa mencapai US$1–2 juta. "Kami selalu berpesan kepada trader pesawat dan mesin: jangan jatuh cinta pada logamnya," kata Goodson, menegaskan bahwa pesawat kini dipandang sebagai kumpulan komponen yang bisa dijual, bukan sekadar alat transportasi.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sejumlah maskapai nasional mengoperasikan armada Airbus A320neo dan Boeing 737 MAX yang menggunakan mesin terdampak recall. Ketergantungan pada mesin impor membuat biaya perawatan dan sewa pesawat berpotensi naik, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga tiket dan keberlanjutan rute. Pemerintah perlu mengantisipasi lonjakan biaya operasional ini, terutama di tengah upaya pemulihan industri penerbangan pascapandemi.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah krisis mesin ini akan mendorong produsen untuk memperbaiki desain dan rantai pasok, atau justru mempercepat peralihan menuju pesawat listrik dan bahan bakar alternatif. Yang jelas, hingga pasokan mesin kembali normal, pemandangan pesawat muda yang hancur di pabrik pembongkaran akan terus berlanjut—sebuah pengingat bahwa dalam industri penerbangan, logam pun tak lagi sakral.



