Rosebank: Ladang Minyak yang Dipertaruhkan di Tengah Badai Politik Iklim Inggris
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Inggris dijadwalkan memutuskan nasib Rosebank sebelum Natal, proyek minyak terbesar yang belum tergarap dengan cadangan 300-500 juta barel.
- Pendukung menyoroti pasokan gas untuk 500.000 rumah dan pendapatan pajak, sementara penentang memperingatkan emisi besar dan preseden buruk bagi transisi energi.
- Keputusan ini akan menguji komitmen Inggris terhadap iklim sekaligus memberi sinyal ke investor energi global, termasuk perusahaan seperti Shell dan Equinor.

Menteri Energi Inggris Miatta Fahnbulleh dihadapkan pada keputusan krusial: menyetujui produksi minyak dan gas dari ladang Rosebank di Laut Utara, yang diperkirakan mengandung 300-500 juta barel, sebelum Natal. Keputusan ini tidak hanya menentukan masa depan proyek senilai miliaran dolar, tetapi juga menjadi barometer arah kebijakan energi Inggris di tengah tekanan iklim global.
Rosebank, yang terletak 80 mil barat laut Shetland, adalah ladang minyak terbesar yang belum tergarap di perairan Inggris. Proyek ini dikelola oleh Adura, perusahaan patungan Shell dan Equinor, yang menguasai 80% saham, sementara sisanya dipegang Ithaca Energy. Jika disetujui, produksi diperkirakan berlangsung hingga 25 tahun, dengan minyak dijual ke pasar internasional dan gas dialirkan ke terminal St Fergus di Aberdeenshire untuk memanaskan hingga 500.000 rumah di Inggris pada puncak produksi.
Keputusan ini menjadi ujian bagi pemerintah Buruh yang berjanji mempercepat transisi ke energi terbarukan. Tahun lalu, Pengadilan Sesi di Edinburgh membatalkan persetujuan awal Rosebank dan ladang Jackdaw karena tidak mempertimbangkan dampak iklim dari pembakaran bahan bakar fosil. Pemerintah kini harus menilai ulang dengan mempertimbangkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Menteri Fahnbulleh dijadwalkan mengumumkan keputusan sebelum akhir tahun, menurut sumber BBC.
Di atas kapal Petrojarl Rosebank, 122 pekerja bekerja dalam kondisi keras di tengah gelombang Atlantik Utara. “Cuaca musim dingin bisa menjadi tantangan tersendiri,” kata Ewan Leonard, teknisi mekanik utama, seraya menyebut gelombang setinggi 30 meter pernah terjadi. Meski demikian, fasilitas seperti kabin pribadi, gym, dan sauna menjadi kompensasi. “Bagi saya dan banyak rekan, proyek ini akan mengantar kami hingga pensiun,” ujar Douglas Hogge, pengawas produksi, berharap produksi disetujui.
Namun, kelompok lingkungan menolak keras. Tessa Khan, direktur eksekutif Uplift, menegaskan bahwa masa depan energi Inggris adalah energi terbarukan. “Rosebank adalah keputusan yang buruk dan kesepakatan yang merugikan rakyat biasa,” katanya, mendesak Perdana Menteri Andy Burnham untuk memprioritaskan energi bersih. Ia juga menilai bahwa persetujuan proyek ini justru akan melemahkan kepercayaan investor terhadap komitmen iklim Inggris.
Perdebatan semakin rumit karena minyak Rosebank akan diekspor ke Eropa untuk diolah, sehingga sebagian pihak mempertanyakan manfaat langsungnya bagi Inggris. Namun, pendukung proyek berargumen bahwa pasar energi Inggris dan Eropa saling bergantung, dan Rosebank akan menghasilkan pendapatan pajak signifikan. Neil McCulloch, CEO Adura, optimistis bahwa persetujuan Rosebank dapat membuka jalan bagi empat pengembangan gas seukuran Jackdaw lainnya di barat Shetland: Tornado, Tornado East, Tobermory, dan Suilven.
Bagi Indonesia, keputusan Inggris ini bisa menjadi cermin. Sebagai negara yang masih bergantung pada energi fosil namun berkomitmen mengurangi emisi, Indonesia menghadapi dilema serupa: menarik investasi di sektor migas atau mempercepat transisi energi. Kebijakan Inggris akan mempengaruhi sinyal ke pasar global, termasuk harga minyak dan gas, serta tekanan diplomatik dalam negosiasi iklim.
Dengan badai politik dan cuaca yang mengancam, Rosebank benar-benar berada di pusaran. Keputusan Fahnbulleh tidak hanya akan menentukan nasib 122 pekerja dan pemilik saham, tetapi juga arah kebijakan energi Inggris di tengah krisis iklim. Akankah pemerintah memilih jalan pragmatis atau ideologis? Jawabannya akan segera terungkap, dan dunia menyaksikan.



