Menú del Día Spanyol: Warisan Franco yang Kini Berjuang di Tengah Perubahan Gaya Hidup
Baca dalam 60 detik
- Tradisi makan siang murah dengan menu tetap di Spanyol, yang lahir pada era diktator Franco, kini menghadapi penurunan peminat.
- Kenaikan biaya energi dan pangan membuat restoran keluarga sulit menyajikan pilihan menu harian yang beragam, sementara konsumen beralih ke makanan cepat saji.
- Buku baru karya jurnalis kuliner Lakshmi Aguirre mengungkap sejarah dan nilai sosial menú del día, serta upaya mempertahankannya di tengah masyarakat yang semakin majemuk.

Di Spanyol, setiap hari kerja menjelang siang, papan tulis dan kertas di depan restoran-restoran kecil menawarkan menú del día—menu makan siang dengan harga tetap yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama lebih dari setengah abad. Namun, tradisi yang lahir pada masa kediktatoran Francisco Franco ini kini berada di persimpangan: masih disajikan sekitar 4 juta porsi setiap hari kerja, tetapi pamornya terus menurun.
Penurunan ini dipicu oleh perubahan gaya hidup masyarakat Spanyol yang semakin sibuk. Banyak pekerja kini memilih makan siang cepat, membawa bekal dari rumah, atau membeli makanan siap saji di supermarket untuk dipanaskan di kantor. Selain itu, kenaikan harga energi dan bahan pangan membuat restoran kecil milik keluarga kesulitan menyajikan menu harian yang bervariasi dengan harga terjangkau. Rata-rata harga menú del día saat ini adalah €14,70, dan angka itu terus tertekan oleh inflasi.
Sejarah menú del día bermula pada pertengahan 1960-an, ketika Menteri Informasi dan Pariwisata Franco, Manuel Fraga, mencetuskan ide menu turis untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Spanyol memiliki persediaan makanan yang melimpah dan terjangkau setelah bertahun-tahun kelaparan pasca-Perang Saudara. Regulasi saat itu mewajibkan restoran menyediakan satu hidangan pembuka (sup), hidangan utama dengan setidaknya tiga pilihan (berbasis telur, ikan, atau daging) plus lauk, dan hidangan penutup berbasis buah, manisan, atau keju. Harga ditetapkan antara 50 dan 250 pesetas, dan untuk mencegah pemalsuan minuman, seperempat liter anggur yang disertakan harus murni, bersih, dan berkadar alkohol minimal 12%.
Pada awal 1970-an, nama menu ini diubah agar tidak terkesan hanya untuk menarik turis, sekaligus memberi kesan bahwa orang Spanyol biasa pun bisa menikmatinya. Kini, menu tersebut begitu akrab sehingga banyak orang Spanyol tidak menyadari asal-usulnya. Jurnalis kuliner Lakshmi Aguirre, penulis buku Menú del Día: Everyday Scenes of a First Course, a Second Course and Pudding, mengungkapkan bahwa sebagian besar responden terkejut ketika mengetahui kaitan sejarahnya dengan Fraga. “Itu bagian dari sejarah kami, namun telah berubah seiring evolusi masyarakat Spanyol,” ujarnya.
Ancaman terhadap tradisi ini tidak hanya datang dari perubahan pola makan. Munculnya tren “hidangan hari ini” (dish of the day) menawarkan alternatif lebih murah bagi restoran karena tidak perlu menyediakan banyak pilihan. Di sisi lain, beberapa menú mulai mengakomodasi hidangan khas Amerika Latin, mencerminkan perubahan demografi Spanyol. Aguirre menilai keberagaman itu wajar. “Spanyol hari ini berbeda dari tahun 1980-an, jauh lebih beragam dan plural. Menú del día ada untuk mereka yang membutuhkan, dari berbagai latar belakang,” katanya.
Bagi Aguirre, menú del día yang ideal bukan sekadar makanan murah. Ia mensyaratkan hidangan sederhana, menu yang berganti rutin, kentang goreng yang tidak beku, dan papan tulis yang bebas dari kata-kata seperti alpukat, burrata, tartare, truffle, atau roti sourdough. Papan itu sebaiknya ditulis “oleh seseorang yang tidak pernah belajar tata huruf”, dan nilai tambah jika anak pemilik restoran terlihat mengerjakan PR di sudut ruangan.
Lebih dari sekadar urusan perut, menú del día berfungsi sebagai simpul sosial. “Yang hilang adalah titik temu,” tegas Aguirre. “Tempat di mana keluarga dengan keterbatasan ekonomi bisa makan di luar, dan mereka yang tinggal sendiri menemukan teman selama makan—aktivitas yang sangat sosial. Di sana suka, duka, dan masalah bisa dibagi, atau sekadar mencari udara segar.”
Di Indonesia, tradisi makan siang bersama di kantin atau warung nasi juga menghadapi tekanan serupa: harga bahan pangan naik, waktu istirahat menyusut, dan gaya hidup serba cepat. Namun, warung makan Indonesia sering kali menjadi ruang sosial yang merekatkan warga, mirip dengan peran menú del día di Spanyol. Jika restoran keluarga di Spanyol berguguran, bukan tidak mungkin fenomena serupa terjadi pada warung tradisional kita.
Ke depan, masa depan menú del día bergantung pada kemampuan restoran beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Akankah menu ini bertahan sebagai simbol perlawanan terhadap budaya makan cepat, atau justru perlahan hilang ditelan zaman? Yang jelas, seperti kata Aguirre, keistimewaan sesungguhnya bukan hanya mampu membayar makanan, tetapi juga memiliki waktu untuk menikmatinya.



