Fabregas Bangga Como U-19 Tumbangkan MU, Bukti Proyek Pemain Muda Italia Berjalan
Baca dalam 60 detik
- Cesc Fabregas menegaskan kemenangan Como U-19 atas Manchester United di UEFA Youth League sebagai bukti arah pembinaan pemain muda Italia di klub tersebut.
- Pelatih asal Spanyol itu menyebut skuad utama yang ramping sebagai kunci terbukanya pintu bagi talenta akademi menembus tim senior.
- Ambisi Presiden Como, Mirwan Suwarso, untuk memiliki tim berisi pemain Italia—terutama dari Lombardy—mulai menemukan bentuknya di level junior.

Pelatih Como, Cesc Fabregas, menilai kemenangan tim U-19 atas Manchester United di UEFA Youth League bukan sekadar hasil sesaat, melainkan cermin dari arah pembinaan yang sedang ia bangun di klub. Dalam konferensi pers jelang laga Serie A melawan Sassuolo, Sabtu (24/10/2026), Fabregas menyatakan kepuasannya melihat delapan pemain Italia turun sejak menit awal dan total 16 pemain Italia masuk dalam daftar skuad untuk pertandingan tersebut.
Keberhasilan itu melengkapi capaian tim utama Como yang juga mengalahkan Manchester United dengan skor 4-1 di Liga Champions. Bagi Fabregas, kesamaan hasil di dua level berbeda menunjukkan bahwa filosofi permainan klub mulai dipahami secara merata, dari akademi hingga tim senior. Ia menyebut para pemain muda mampu menyerap gaya bermain yang ia terapkan dan tampil solid melawan lawan sekelas MU.
Yang menarik, Fabregas tidak melihat usia muda sebagai hambatan. Justru sebaliknya, ia menilai keterbatasan jumlah pemain di skuad utama menjadi pendorong bagi talenta akademi untuk mendapatkan menit bermain. Menurutnya, skuad yang terlalu gemuk kerap membuat pelatih enggan mempromosikan pemain dari akademi karena tidak ada kebutuhan mendesak. Kondisi sebaliknya terjadi di Como, di mana pintu tim senior terbuka lebar bagi mereka yang siap.
Fabregas secara spesifik menyebut beberapa nama yang lahir dari akademi, seperti Cassano, Pisati, Baralla, Papaccioli, dan Liberali, sebagai contoh nyata bahwa kebijakan tersebut berjalan. Ia menegaskan pembinaan pemain muda bukan pelengkap, melainkan bagian inti dari proyek jangka panjang Como. Dalam pandangannya, kesempatan bagi pemain akademi akan terus terbuka selama mereka menunjukkan sikap dan mentalitas yang tepat.
"Saya sangat senang. Banyak pemain datang tahun ini. Mereka kuat, mereka orang Italia, dan ini konsep yang mirip dengan yang ingin kami bawa ke tim utama. Mereka memahami gaya bermain kami dan melakukan pekerjaan luar biasa," ujar Fabregas.
Ambisi besar di balik itu datang dari kursi presiden. Mirwan Suwarso sebelumnya mengungkapkan keinginan agar Como suatu hari nanti diperkuat sepenuhnya oleh pemain Italia, dengan penekanan pada wilayah Lombardy. Model Athletic Bilbao yang mengandalkan pemain berakar Basque menjadi inspirasi. Fabregas, sebagai pelatih, menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan operasional: memberi ruang bagi pemain muda lokal dan memastikan mereka tidak teralihkan oleh hal-hal di luar lapangan.
Dalam kesempatan yang sama, Fabregas juga menyinggung kondisi Samuele Ricci, gelandang yang didatangkan dari AC Milan pada musim panas lalu. Meski minim menit bermain, Fabregas menegaskan Ricci tetap masuk dalam rencana dan memuji sikap profesionalnya selama latihan. Menurutnya, kualitas teknis Ricci sudah terlihat, tetapi yang lebih penting adalah mentalitas tenang, rendah hati, dan fokus yang ia tunjukkan sejak bergabung.
Pernyataan Fabregas itu memperlihatkan bahwa di Como, kesempatan tidak datang berdasarkan status atau harga transfer, melainkan pada konsistensi sikap dan kesiapan pemain. Bagi pemain muda, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa bakat saja tidak cukup tanpa disiplin. Bagi pemain senior seperti Ricci, pintu tetap terbuka selama performa latihan menjaga standar.
Ke depan, keberhasilan Como U-19 mengalahkan Manchester United akan menjadi tolok ukur apakah proyek pemain muda Italia ini mampu berkelanjutan. Tantangannya bukan hanya mencetak pemain berkualitas, tetapi juga mempertahankan mereka di tengah godaan klub besar dan tekanan kompetisi Serie A. Jika model ini terbukti sukses, Como bisa menjadi contoh alternatif bagi klub-klub Italia lain yang selama ini lebih memilih pemain impor instan ketimbang membangun dari akar rumput.



