Mariano Peralta: Label MVP, Blunder, dan Nol Gol di Awal Musim Persib
Baca dalam 60 detik
- Mariano Peralta belum mencetak gol dalam enam laga BRI Super League bersama Persib, kontras dengan status MVP musim lalu.
- Blunder umpan berbuah gol Madura United menjadi sorotan, sementara kontribusinya di kompetisi internasional justru positif.
- Beban tiga kompetisi dan ekspektasi tinggi menuntut adaptasi cepat agar label pemain terbaik tidak jadi bumerang.

Mariano Peralta tiba di Persib Bandung dengan predikat pemain terbaik BRI Super League musim lalu, tetapi performanya di awal musim 2026/2027 justru memantik pertanyaan. Enam pertandingan dilalui tanpa satu pun gol, dan puncaknya adalah kesalahan fatal yang berujung kekalahan 0-1 dari Madura United di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Pamekasan, Kamis (22/10/2026) malam WIB.
Blunder itu terjadi di menit ke-89. Peralta, yang masuk sebagai pengganti Luka Menalo pada awal babak kedua, kehilangan bola di area pertahanan sendiri. Umpannya direbut pemain lawan dan berujung gol kemenangan Madura United melalui Dimitar Mitkov, memanfaatkan assist Iran Junior. Momen tersebut menjadi kali pertama Peralta turun dari bangku cadangan di BRI Super League musim ini setelah lima laga sebelumnya selalu menjadi starter.
Statistik individu Peralta sepanjang enam laga awal memang jauh dari ekspektasi. Ia baru mencatatkan satu assist, tanpa gol. Padahal, pada periode yang sama musim lalu bersama Borneo FC, ia sudah mengemas empat gol dan dua assist, membawa Pesut Etam menyapu bersih kemenangan. Perbedaan mencolok ini menjadi sorotan mengingat statusnya sebagai pemain terbaik BRI Super League 2025/2026 dengan 20 gol dan 14 assist dari 34 penampilan.
Meski demikian, ada nuansa yang perlu dicermati. Persib musim ini menghadapi jadwal jauh lebih padat karena harus berlaga di tiga kompetisi: BRI Super League, AFC Champions League Two, dan ASEAN Club Championship. Dalam dua turnamen internasional tersebut, Peralta justru menunjukkan kelasnya dengan torehan dua gol dan satu assist dari tiga penampilan. Artinya, penurunan performa di liga domestik tidak serta-merta mencerminkan hilangnya kualitas.
โPeralta masih dalam proses adaptasi dengan gaya permainan Persib dan beban jadwal yang lebih berat. Kesalahan individu memang terjadi, tetapi itu bagian dari transisi,โ ujar seorang pengamat taktik yang enggan disebutkan namanya.
Dari sudut pandang manajemen, investasi pada pemain sekelas Peralta tentu tidak murah. Kedatangan eks Borneo FC ini sempat diwarnai drama bursa transfer, termasuk klaim bahwa ia sempat diisukan merapat ke Persija. Kini, ekspektasi publik Bandung membumbung: seorang MVP seharusnya menjadi pembeda di saat tim membutuhkan. Namun, tekanan berlebihan bisa memperparah situasi, terutama ketika kepercayaan diri mulai goyah akibat blunder di laga krusial.
Pelatih Persib menghadapi dilema. Di satu sisi, Peralta tetap menjadi aset penting untuk kompetisi internasional yang membutuhkan pengalaman dan kualitas individu. Di sisi lain, performa di liga domestik menuntut evaluasi, termasuk kemungkinan merotasi peran atau mengubah posisi bermainnya. Keputusan untuk menurunkan Peralta sebagai pengganti di laga melawan Madura United bisa jadi sinyal awal bahwa sang pelatih mulai mempertimbangkan opsi lain.
Ke depan, pertanyaan besarnya: apakah Peralta mampu membalikkan keadaan dan membuktikan bahwa label MVP bukan sekadar sejarah? Ataukah tekanan dan padatnya jadwal justru membuatnya semakin tenggelam? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan mendatang, dimulai dari laga-laga BRI Super League berikutnya. Jika tren negatif berlanjut, bukan tidak mungkin status pemain terbaik musim lalu berubah menjadi beban yang menghantui.



