Maddison Kembali, Tapi Spurs Punya Permata Muda yang Siap Melebihi Bale
Baca dalam 60 detik
- James Maddison akhirnya kembali sebagai starter setelah absen 536 hari akibat cedera ACL dan langsung mencetak gol spektakuler ke gawang Coventry City.
- Meski demikian, performa Maddison belum menyamai level Gareth Bale, dan Spurs masih mencari sosok eksplosif di lini depan.
- Luca Williams-Barnett, gelandang serang 18 tahun, menunjukkan ketajaman luar biasa di level akademi dan berpotensi menjadi talenta paling menarik sejak Bale.

Kemenangan 3-1 Tottenham Hotspur atas Coventry City pada laga terakhir Premier League menyimpan momen istimewa: kembalinya James Maddison sebagai starter setelah 536 hari absen akibat cedera ACL yang dideritanya pada pramusim 2025/26. Gelandang timnas Inggris itu langsung menandai comeback-nya dengan gol jarak jauh yang memukau, seolah mengingatkan publik White Hart Lane akan kualitas yang sempat hilang.
Namun, di balik euforia tersebut, ada pertanyaan yang lebih mendasar tentang arah serangan Spurs. Maddison memang terbukti mampu menjadi pembeda—sebelum cedera, ia menorehkan 12 gol dan 10 assist dalam 45 penampilan di musim 2024/25. Tapi catatan itu masih jauh dari standar yang pernah ditorehkan Gareth Bale, yang mencetak 71 gol dan 53 assist dalam 237 laga sebelum dijual ke Real Madrid seharga £85,3 juta pada 2013. Bale adalah prototipe pemain sayap eksplosif dengan kecepatan dan kekuatan yang mengubah permainan; Maddison lebih merupakan kreator dengan visi dan tendangan akurat, bukan penggedor yang meneror pertahanan lawan dengan sprint.
Di sinilah letak ironi Tottenham. Klub yang sempat memiliki Harry Kane, top skorer sepanjang masa dengan 280 gol, masih mencari sosok yang bisa membangkitkan stadion dengan gaya permainan langsung dan penuh ledakan seperti Bale. Manajer Roberto De Zerbi pun dituntut untuk menemukan formula yang tepat agar lini depan tidak lagi bergantung pada satu pemain kreatif semata.
Harapan baru itu datang dari akademi: Luca Williams-Barnett. Gelandang serang berusia 18 tahun ini belum pernah tampil di Premier League—ia sudah sembilan kali menjadi pemain pengganti yang tidak digunakan, termasuk saat melawan Coventry—tetapi performanya di level muda sungguh menjanjikan. Sepanjang musim 2025/26, ia mengemas 16 gol dan 8 assist dalam 20 pertandingan untuk tim akademi dan senior, termasuk tujuh gol dalam enam laga UEFA Youth League. Bersama timnas Inggris U19, ia juga menunjukkan konsistensi dengan torehan 24 gol dan 13 assist dalam 32 laga U18, serta 8 gol dan 7 assist dalam 12 laga U21.
Yang membuat Williams-Barnett menonjol adalah gaya bermainnya yang direktif dan cepat. Ia mampu beroperasi di sayap maupun sebagai penyerang lubang, dengan insting mencetak gol yang tajam. Dalam enam penampilan terakhirnya untuk klub dan negara—termasuk gol pramusim ke gawang Hoffenheim—ia mencetak lima gol. Potensinya untuk menjadi penyerang dengan 20 gol atau lebih per musim sangat terbuka, sesuatu yang belum pernah dicapai Maddison di Spurs.
“Williams-Barnett bisa menjadi talenta paling menarik sejak Bale, bahkan lebih menggairahkan karena ia lebih langsung dan cepat,” demikian penilaian yang beredar di kalangan pengamat Spurs.
Perbandingan dengan Bale memang terasa berat, tetapi bukan tanpa dasar. Bale pada musim terakhirnya di Tottenham mencetak 26 gol dan 10 assist di semua kompetisi, angka yang belum pernah didekati Maddison. Williams-Barnett, dengan usia yang masih sangat muda, memiliki waktu untuk mengembangkan diri. Namun, ia butuh kesempatan bermain di level senior untuk membuktikan diri. De Zerbi, yang dikenal berani memberi kepercayaan kepada pemain muda, berada di posisi kunci untuk mengambil keputusan.
Jika Spurs ingin kembali bersaing di papan atas, mereka tidak bisa hanya mengandalkan Maddison yang rentan cedera. Kane sudah pergi, dan Bale adalah masa lalu. Williams-Barnett bisa menjadi jawaban, tetapi semuanya bergantung pada keberanian De Zerbi untuk memasukkan namanya ke starting XI. Akankah pelatih asal Italia itu memberi kesempatan kepada remaja 18 tahun tersebut sebelum bursa transfer musim panas membuka peluang bagi klub lain untuk membajaknya?



