Kimi Antonelli di Ambang Pecahkan Rekor Vettel, tapi Tak Ingat Momen Bersejarah Itu
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli berpeluang menjadi juara dunia F1 termuda dalam sejarah pada GP Amerika Serikat akhir pekan ini, mengalahkan rekor Sebastian Vettel yang bertahan sejak 2010.
- Pembalap Mercedes berusia 20 tahun itu mengaku tidak mengingat momen Vettel meraih gelar karena saat itu masih berusia empat tahun dan lebih sibuk bermain mainan.
- Dengan keunggulan 102 poin atas George Russell, Antonelli hanya butuh kombinasi hasil tertentu untuk mengunci titel di Austin, tetapi ia menegaskan fokusnya tetap pada kemenangan di setiap balapan.

Kimi Antonelli akan mencatatkan namanya dalam sejarah Formula 1 jika berhasil mengunci gelar juara dunia pada Grand Prix Amerika Serikat di Circuit of the Americas, Minggu (20/10/2024). Pembalap Mercedes berusia 20 tahun itu berada di ambang memecahkan rekor Sebastian Vettel sebagai juara dunia termuda sepanjang masa, sebuah pencapaian yang telah bertahan selama lebih dari satu dekade.
Vettel meraih titel pertamanya pada usia 23 tahun di GP Abu Dhabi 2010, setelah mengalahkan Fernando Alonso, Mark Webber, dan Lewis Hamilton dalam pertarungan empat arah yang dramatis. Kini, Antonelli memiliki peluang emas untuk melampaui rekor tersebut. Ia memimpin klasemen dengan keunggulan 102 poin atas rekan setimnya, George Russell, dan dapat memastikan gelar jika menang di Austin, sementara Russell finis di luar delapan besar dan Hamilton di luar empat besar.
Dalam konferensi pers jelang balapan, Antonelli mengaku tidak memiliki memori tentang momen bersejarah Vettel. โSaya tidak ingat itu. Saat itu saya berusia empat tahun. Maaf. Saya ingat sedang bermain dengan mainan Hot Wheels, tetapi tidak ingat dia meraih gelar,โ ujarnya. Ia baru menyaksikan balapan tersebut saat beranjak dewasa dan menyadari betapa ketatnya persaingan juara kala itu.
Meski berada di posisi yang menguntungkan, Antonelli menegaskan bahwa ia tidak akan mengubah pendekatannya. โSaya berada di posisi yang luar biasa, tetapi tahun ini, dengan bagaimana jalannya balapan dan perasaan saya di dalam mobil, saya pikir saya bisa memiliki peluang untuk bertarung. Untungnya, saya berada di posisi yang sangat baik sekarang,โ kata pembalap asal Italia itu. โTetapi saya harus terus melaju, dan pola pikirnya selalu sama: setiap kali turun ke lintasan, berusaha menjadi yang teratas dan menang sebanyak mungkin. Entah saya menang minggu ini, minggu depan, atau di Brasil, kita lihat saja.โ
Ia juga menekankan pentingnya menyelesaikan musim dengan baik untuk membangun momentum menuju tahun berikutnya. โIni belum berakhir sampai benar-benar berakhir. Itulah mengapa pola pikirnya akan selalu sama: menang setiap kali saya turun ke lintasan. Anda ingin mengakhiri musim dengan baik juga untuk kemudian pergi dengan harapan tinggi ke tahun depan,โ tambahnya.
Antonelli memuji performa mobil Mercedes yang menurutnya sangat kuat dan tim yang terus melakukan pengembangan serta pemahaman terhadap paket baru. โTim telah melakukan segala daya mereka untuk memberi kami mobil yang hebat dan kesempatan untuk bertarung,โ ujarnya.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, momen ini menjadi pengingat bahwa regenerasi pembalap muda semakin cepat. Dominasi pembalap muda seperti Antonelli dan Russell menunjukkan bahwa tim-tim papan atas mulai memberikan kepercayaan penuh kepada talenta muda, sebuah tren yang juga mulai terlihat di ajang balap nasional dengan munculnya pembalap-pembalap muda berbakat. Jika Antonelli berhasil memecahkan rekor, hal ini dapat memicu diskusi lebih lanjut tentang batas usia dan kesiapan pembalap muda di kompetisi jet darat.
Dengan seri tersisa di Austin, Meksiko, Brasil, dan beberapa balapan lainnya, pertanyaan besarnya adalah apakah Antonelli mampu mengatasi tekanan dan menutup musim dengan gelar, atau akankah Russell dan Hamilton memberikan perlawanan sengit hingga akhir? Yang pasti, sejarah Formula 1 sedang menanti untuk ditulis ulang.



