Vietnam Kokoh di Puncak Sepak Bola Wanita ASEAN, Indonesia Putri Tertinggal di Peringkat 105 Dunia
Baca dalam 60 detik
- Vietnam memimpin peringkat FIFA sepak bola wanita Asia Tenggara di posisi ke-37 dunia, disusul Filipina dan Thailand.
- Timnas Indonesia Putri berada di urutan keenam kawasan atau peringkat 105 dunia dengan 1.175,79 poin.
- Kendati naik lima peringkat berkat hasil imbang melawan Armenia dan Yordania, Garuda Pertiwi masih menghadapi jurang kompetitif yang lebar.

Timnas Putri Vietnam menegaskan dominasinya di Asia Tenggara dengan menempati peringkat ke-37 dunia dalam rilis terbaru ranking FIFA pada 20 Oktober 2026. Sementara itu, Timnas Indonesia Putri masih tertahan di posisi ke-105 dunia atau peringkat keenam kawasan, sebuah jarak yang menyoroti betapa besarnya pekerjaan rumah yang harus dituntaskan Garuda Pertiwi untuk bersaing di level regional.
Di bawah Vietnam, Filipina dan Thailand menjadi penantang terdekat masing-masing di posisi ke-39 dan ke-50 dunia. Myanmar melengkapi kuartet teratas ASEAN dengan peringkat ke-56, sedangkan Malaysia berada di urutan kelima kawasan pada posisi ke-101 dunia. Kesenjangan antara kelompok empat besar dan dua tim di bawahnya—Malaysia dan Indonesia—terlihat cukup mencolok, terutama jika dibandingkan dengan perolehan poin Indonesia yang mencapai 1.175,79.
Meski demikian, ada secercah harapan bagi Indonesia. Pada pembaruan ranking Oktober ini, Garuda Pertiwi mencatat kenaikan lima tingkat setelah mengumpulkan poin dari dua laga imbang melawan Armenia dan Yordania. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tim asuhan pelatih Satoru Mochizuki—yang sebelumnya sempat menuai kritik karena performa inkonsisten—mulai menemukan ritme permainan yang lebih kompetitif di level internasional.
Perjalanan Indonesia untuk menembus jajaran elit ASEAN bukan perkara mudah. Sepak bola wanita di kawasan ini telah berkembang pesat dalam satu dekade terakhir, dengan Vietnam, Thailand, dan Filipina secara konsisten mengirimkan tim ke putaran final Piala Dunia Wanita serta kompetisi Asia. Vietnam, misalnya, telah tampil di Piala Dunia Wanita 2023 dan menjadi langganan tim kuat di level kontinental. Sementara itu, Filipina menunjukkan kemajuan signifikan lewat program pembinaan usia dini dan naturalisasi pemain yang agresif.
Di sisi lain, Indonesia masih bergulat dengan keterbatasan infrastruktur kompetisi wanita. Liga sepak bola wanita nasional belum berjalan secara berkelanjutan, dan regenerasi pemain sering terhambat oleh minimnya jam terbang internasional. Meski demikian, hasil imbang melawan Armenia dan Yordania—dua tim yang secara peringkat berada di atas Indonesia—menjadi sinyal bahwa dengan persiapan matang dan lawan yang sepadan, Garuda Pertiwi mampu memberikan perlawanan.
"Kenaikan lima peringkat ini adalah modal awal, tetapi untuk benar-benar bersaing di ASEAN, Indonesia perlu membangun ekosistem kompetisi yang lebih sehat dan berkelanjutan," kata seorang pengamat sepak bola nasional, seperti dikutip dari diskusi daring.
Peta kekuatan ini juga menjadi cermin bagi federasi. PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir telah mencanangkan program pembinaan usia dini, tetapi implementasinya di level putri masih membutuhkan perhatian lebih. Tanpa kompetisi domestik yang rutin dan akses turnamen internasional yang memadai, sulit bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari Vietnam yang telah memiliki liga wanita profesional sejak beberapa tahun lalu.
Ke depan, peluang Indonesia untuk memperbaiki peringkat terbuka lebar melalui laga-laga internasional berikutnya. Namun, tanpa lonjakan prestasi yang signifikan, posisi keenam ASEAN tampaknya masih akan melekat dalam waktu dekat. Pertanyaannya, mampukah Garuda Pertiwi memanfaatkan momentum kenaikan lima peringkat ini untuk memicu reformasi yang lebih mendasar, ataukah ini hanya menjadi fluktuasi sesaat di tengah dominasi Vietnam yang belum tergoyahkan?



