Persis Solo Tunjuk Dedy Gusmawan sebagai Caretaker, Ujian Berat di Tengah Tren Negatif
Baca dalam 60 detik
- Manajemen Persis Solo menetapkan Dedy Gusmawan sebagai pelatih caretaker untuk laga melawan RANS Nusantara FC pada pekan ke-7 Pegadaian Championship 2026/2027.
- Dedy, yang sebelumnya menjadi asisten Nova Arianto di Timnas Indonesia U-19, dihadapkan pada misi mengangkat performa tim yang belum menang dalam empat pertandingan terakhir.
- Keputusan ini menjadi sorotan karena Persis telah tiga kali mengganti pelatih sejak awal musim, menandakan ketidakstabilan di kursi kepelatihan.

Persis Solo kembali melakukan perubahan di kursi kepelatihan jelang laga krusial melawan RANS Nusantara FC pada pekan ke-7 Pegadaian Championship 2026/2027. Manajemen Laskar Sambernyawa resmi menunjuk Dedy Gusmawan sebagai caretaker, menggantikan Nurcholis Majid yang hanya bertahan satu pertandingan. Keputusan ini diumumkan pada Kamis (22/10/2026) dan langsung menuai perhatian mengingat posisi tim yang sedang goyah.
Dedy bukan sosok asing bagi Persis. Pria berusia 40 tahun itu didatangkan pada September 2026 untuk menjadi asisten Ricky Nelson. Namun, setelah Ricky Nelson tak lagi mendampingi tim, posisi pelatih sempat diisi oleh Nurcholis Majid saat menghadapi Deltras FC pada pekan ke-6. Kini, Dedy mendapat kepercayaan untuk memimpin tim di Stadion Manahan, kandang sendiri, dengan tekanan yang tidak ringan.
Dalam pernyataan resmi klub, Dedy menyebut tugas ini sebagai kehormatan sekaligus tantangan besar. Ia bertekad membawa Persis kembali kompetitif dan meraih poin di setiap laga. โSaya siap memberikan kemampuan terbaik untuk membantu tim bangkit,โ ujarnya, seperti dikutip dari keterangan klub. Harapan itu sejalan dengan kebutuhan mendesak Persis yang tengah terpuruk di papan tengah.
Rekam jejak Dedy di dunia kepelatihan terbilang variatif. Ia memulai karier sebagai asisten di Malut United pada Juni 2024 dan bertahan dua musim, bekerja sama dengan Imran Nahumarury dan Hendri Susilo. Kemudian, ia bergabung dengan Timnas Indonesia U-19, di mana ia terlibat dalam keberhasilan Garuda Muda lolos ke Kualifikasi Piala Asia U-20 2027. Pengalaman di level internasional junior itu diharapkan bisa dibawa ke klub, terutama dalam membangun mental bertanding pemain.
Namun, tantangan yang dihadapi Dedy tidak main-main. Persis Solo sedang dalam tren negatif: tiga kali imbang dan sekali kalah dalam empat pertandingan terakhir. Koleksi enam poin dari enam laga menempatkan mereka di posisi ke-7, jauh dari target awal musim. Pergantian pelatih yang terjadi beberapa kali dalam satu musim juga mencerminkan ketidakstabilan internal yang bisa memengaruhi performa tim di lapangan.
โBagi saya ini adalah sebuah kehormatan, tantangan, dan tanggung jawab besar. Harapan dan tekad saya, Persis Solo bisa terus berkembang, konsisten mendulang poin di setiap pertandingan,โ kata Dedy.
Menarik untuk dicermati, penunjukan Dedy sebagai caretaker merupakan episode ketiga dalam drama kursi pelatih Persis musim ini. Sebelumnya, Ricky Nelson memulai musim, lalu digantikan sementara oleh Nurcholis Majid, dan kini Dedy mengambil alih. Pola ini menunjukkan manajemen belum menemukan formula yang tepat, atau mungkin sedang menunggu pelatih permanen yang sesuai. Dalam konteks kompetisi yang kompetitif, stabilitas kepelatihan menjadi faktor krusial untuk membangun konsistensi permainan.
Dari sisi taktik, Dedy dihadapkan pada tugas membenahi lini pertahanan yang keropos dan meningkatkan efektivitas serangan. Persis tercatat sering kebobolan di menit-menit akhir, yang menjadi penyebab hilangnya poin. Dengan waktu persiapan yang singkat, ia dituntut mampu melakukan perbaikan cepat, setidaknya untuk laga melawan RANS Nusantara FC. Kemenangan atas RANS akan menjadi modal berharga untuk mengembalikan kepercayaan diri pemain dan suporter.
Ke depan, posisi Dedy masih sebagai caretaker, yang berarti peluang untuk menjadi pelatih permanen tetap terbuka jika mampu menunjukkan hasil positif. Namun, manajemen juga disarankan segera menentukan arah jangka panjang agar tim tidak terus terombang-ambing. Pertanyaannya, akankah Dedy Gusmawan menjadi solusi sementara yang efektif, atau justru menjadi bagian dari siklus pergantian pelatih yang tak berujung? Publik sepakbola Indonesia, khususnya pendukung Persis, menantikan jawabannya di lapangan.



