PSG Kehilangan Tiga Pilar, Luis Enrique Diuji Kembali soal Rotasi
Baca dalam 60 detik
- Cedera Kvaratskhelia, Dembélé, dan Marquinhos memaksa PSG menata ulang komposisi menjelang jadwal padat.
- Luis Enrique dikenal gemar merotasi pemain; hanya 21 nama yang ia pakai di Ligue 1 musim ini.
- Rekor PSG tanpa Marquinhos justru lebih baik, tetapi ketiadaan tiga bintang sekaligus tetap menjadi ujian taktik.

Paris Saint-Germain harus menerima kenyataan pahit setelah kemenangan 4-2 atas Barcelona di Liga Champions: tiga pemain inti—Khvicha Kvaratskhelia, Ousmane Dembélé, dan Marquinhos—dipastikan absen berminggu-minggu. Kvaratskhelia mengalami robekan ligamen, sementara Dembélé dan Marquinhos menderita cedera otot. Situasi ini langsung memunculkan pertanyaan: seberapa besar dampaknya terhadap ambisi PSG di Liga Prancis dan Eropa?
Di bawah asuhan Luis Enrique, PSG memang telah membangun identitas sebagai tim yang tidak bergantung pada satu nama. Musim ini, hanya 21 pemain yang diturunkan di Ligue 1—jumlah paling sedikit kedua setelah Lorient. Namun, 20 dari 21 pemain tersebut setidaknya pernah menjadi starter, menandakan rotasi agresif yang menjadi ciri khas Enrique. Fakta bahwa PSG mencatat rata-rata 4,2 perubahan pemain per pertandingan liga—tertinggi ketiga di Eropa—menggarisbawahi pendekatan itu.
Meski statistik menunjukkan PSG mampu tampil baik tanpa Marquinhos, kehilangan tiga pemain sekaligus adalah ujian berbeda. Sejak 25 Januari 2025, PSG hanya enam kali bermain tanpa ketiganya secara bersamaan, dengan hasil tiga kemenangan, dua imbang, dan satu kekalahan. Enrique pun harus mengatur ulang lini serang yang kehilangan Dembélé dan Kvaratskhelia, sementara lini belakang tanpa Marquinhos memerlukan penyesuaian.
"Kami tidak bisa bergantung pada satu atau dua pemain. Setiap pemain harus siap ketika dipanggil," ujar Enrique dalam konferensi pers usai laga, seperti dikutip media Prancis.
Pendekatan rotasi Enrique juga tercermin dari cara ia membagi menit bermain antar kompetisi. Musim lalu, ia sukses menyesuaikan skuad berdasarkan ajang yang dihadapi. Musim ini, hanya lima dari 11 pemain dengan menit terbanyak di Ligue 1 yang juga masuk 11 pemain tersering di Liga Champions. Contohnya, rekrutan anyar Mika Godts lebih sering tampil di liga (enam laga, 177 menit) ketimbang di Eropa (26 menit). Dengan cedera yang menimpa para bintang, Godts dan pemain pelapis lain kemungkinan besar akan mendapat panggung lebih besar.
Bagi PSG, krisis ini bukan pertama kalinya. Sejak 2024, Enrique telah menghadapi delapan absen jangka panjang pemain kunci, termasuk Neymar, Presnel Kimpembe, dan Lucas Hernandez. Namun, kedalaman skuad menjadi modal utama. Manajemen klub disebut tidak panik karena yakin kualitas pemain pengganti mampu menjaga performa. Tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi di liga domestik yang semakin ketat, terlebih rival seperti Marseille dan Monaco terus menekan.
Ke depan, Enrique dituntut untuk tetap fleksibel. Jika rotasi berjalan mulus, PSG bisa membuktikan bahwa ketergantungan pada individu telah ditinggalkan. Sebaliknya, jika hasil memburuk, tekanan publik terhadap kebijakan rotasi akan meningkat. Mampukah PSG mempertahankan dominasi tanpa tiga pilar utamanya?



