American Express Pangkas 5% Karyawan, Siapkan Otomasi Berbasis AI
Baca dalam 60 detik
- American Express mengurangi sekitar 5% dari total tenaga kerja global, setara hampir 4.000 posisi, dengan beban restrukturisasi US$336 juta pada kuartal III.
- Langkah ini disebut CEO Stephen Squeri sebagai upaya mempercepat inovasi dan efisiensi, sementara CFO Christophe Le Caillec menegaskan persiapan adopsi AI jadi alasan utama.
- Keputusan Amex mencerminkan tren pemangkasan berbasis otomasi di sektor jasa keuangan, yang berpotensi memengaruhi operasi pusat layanan global termasuk di Indonesia.

American Express mengumumkan pemangkasan sekitar 5% dari total tenaga kerja globalnya, atau hampir 4.000 posisi dari sekitar 77.000 karyawan per akhir 2025. Langkah ini diumumkan bersamaan dengan rilis kinerja kuartal III perusahaan pada Jumat (23/10/2026), dan langsung menempatkan Amex dalam gelombang restrukturisasi korporasi yang mengaitkan efisiensi dengan kesiapan adopsi kecerdasan artifisial.
CEO American Express Stephen Squeri mengatakan kepada analis bahwa perusahaannya tengah mencatat momentum bisnis yang baik, tetapi tetap perlu merampingkan organisasi agar lebih lincah. "Kami memiliki momentum yang baik, tetapi untuk mempercepat inovasi dan memenangkan persaingan beberapa tahun ke depan, kami perlu menjadi organisasi yang lebih gesit dan efisien," ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa pemangkasan bukan respons atas kinerja buruk, melainkan bagian dari perancangan ulang struktur biaya untuk investasi jangka panjang.
Perusahaan menanggung beban restrukturisasi sebesar US$336 juta pada kuartal tersebut. Beban semacam ini umumnya mencakup biaya pesangon karyawan yang terdampak. Meski demikian, manajemen tidak merinci berapa posisi yang berasal dari unit tertentu atau wilayah geografis mana yang paling terpukul.
CFO Christophe Le Caillec, dalam wawancara dengan CNBC, menyatakan bahwa restrukturisasi ditujukan agar perusahaan lebih ramping, lebih gesit, dan siap menghadapi AI. Ia menjelaskan logika di balik langkah tersebut: proses yang belum tertata optimal tidak ideal untuk diotomasi. "Anda tidak ingin mengotomasi proses yang belum terstruktur dengan baik. Yang kami lakukan adalah mengurangi lapisan dan memperluas rentang kendali agar dapat mengotomasi dan memanfaatkan AI pada kuartal dan tahun-tahun mendatang," kata Le Caillec.
Pernyataan itu menyiratkan bahwa pengurangan karyawan bukan sekadar penghematan biaya jangka pendek, melainkan bagian dari persiapan infrastruktur organisasi sebelum gelombang otomasi yang lebih luas. Di sektor kartu kredit dan jasa keuangan, AI telah digunakan untuk penilaian risiko, deteksi penipuan, layanan pelanggan, hingga pemrosesan klaim. Namun, adopsi skala besar menuntut proses bisnis yang lebih sederhana agar hasil otomasi tidak sekadar mempercepat inefisiensi.
"Kami percaya langkah ini akan membantu kami beroperasi dan mengeksekusi secara lebih efektif, serta memberi kapasitas lebih besar untuk berinvestasi pada prioritas bisnis," ujar CEO Stephen Squeri.
Keputusan Amex bukan kasus terisolasi. Sejumlah perusahaan jasa keuangan global telah mengurangi tenaga kerja sepanjang 2025โ2026 dengan alasan serupa: efisiensi biaya, restrukturisasi pasca-pandemi, dan persiapan integrasi AI generatif. Tren ini memunculkan pertanyaan tentang kualitas lapangan kerja di sektor jasa, terutama bagi posisi administratif dan layanan pelanggan yang paling rentan terhadap otomasi.
Bagi Indonesia, dampaknya lebih bersifat tidak langsung namun tetap relevan. Pusat layanan pelanggan dan operasi back-office perusahaan multinasional di Tanah Air, termasuk di sektor keuangan dan teknologi, kerap menjadi bagian dari rantai pasok global. Gelombang efisiensi di perusahaan seperti Amex dapat memengaruhi permintaan tenaga kerja terampil di bidang layanan bisnis, sekaligus mempercepat kebutuhan pelatihan ulang (reskilling) menuju keterampilan digital dan analitik data. Pemerintah dan pelaku industri perlu mengantisipasi pergeseran ini agar tidak terjadi kesenjangan keterampilan yang melebar.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah pemangkasan 5% ini benar-benar berujung pada percepatan inovasi seperti yang dijanjikan, atau justru menekan kapasitas layanan. Dengan beban restrukturisasi yang sudah diakui, pertanyaannya kini bergeser: seberapa cepat Amex dapat membuktikan bahwa pengurangan lapisan organisasi berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas dan daya saing di era AI?



