Renault Jual Pabrik Mesin Viry ke Dumarey, Masa Depan A424 di WEC 2027 Kian Tak Pasti
Baca dalam 60 detik
- Renault resmi melepas fasilitas mesin Viry-Châtillon kepada Dumarey Group, perusahaan Belgia yang bergerak di bidang teknologi powertrain.
- Alpine Racing SAS, entitas yang menaungi program mesin F1 dan Hypercar, ikut dialihkan; ratusan karyawan terancam kehilangan pekerjaan.
- Signatech selaku mitra pabrikan berambisi menjalankan A424 dengan merek lain pada 2027, tetapi tenggat pendaftaran 25 November menjadi ujian berat.

Renault telah mencapai kesepakatan untuk mengalihkan kepemilikan sirkuit dan pabrik mesin legendarisnya di Viry-Châtillon, pinggiran selatan Paris, kepada Dumarey Group asal Belgia. Langkah ini menandai berakhirnya era Renault sebagai pemasok mesin Formula 1 dan membuka babak baru bagi keberlangsungan program balap ketahanan Alpine A424.
Dumarey Group, yang selama ini dikenal sebagai pengembang powertrain dan komponen teknik untuk kendaraan produksi massal, akan mengambil alih Alpine Racing SAS—badan hukum yang menaungi fasilitas tersebut—termasuk seluruh tim dan aset berwujud maupun tidak berwujud yang diperlukan untuk mengoperasikan situs. Proses akuisisi masih dalam tahap analisis mendalam oleh kedua belah pihak, dengan target penyelesaian cepat agar transisi berjalan mulus.
Viry bukan sekadar pabrik biasa. Selama beberapa dekade, tempat ini menjadi jantung program mesin F1 Renault dan simbol keunggulan teknik Prancis. Namun, keputusan Renault menghentikan departemen mesin internal pada akhir tahun lalu—memilih menjadi pelanggan Mercedes untuk tim Alpine F1—telah menempatkan masa depan ratusan karyawan di ujung tanduk. Penjualan ini menjadi konsekuensi logis dari strategi baru tersebut.
Bagi Alpine, penjualan ini bukan tanpa konsekuensi. Tim asal Prancis itu juga akan mengakhiri petualangan di World Endurance Championship (WEC) pada akhir tahun, setelah menggunakan Viry untuk merakit dan memelihara mesin buatan Mecachrome yang menggerakkan A424 LMDh. Keputusan ini memunculkan tanda tanya besar: akankah program Hypercar mereka berlanjut?
Signatech, mitra pabrikan Alpine, disebut-sebut sangat ingin tetap menjalankan A424 di bawah bendera merek lain pada 2027. Setelah balapan 6 Jam Fuji bulan lalu, Signatech sempat dikabarkan hampir mencapai kesepakatan dengan raksasa otomotif China, Geely. Namun, negosiasi tersebut dilaporkan menemui jalan buntu. Kini, dengan tenggat pendaftaran 25 November yang semakin dekat, tim principal Philippe Sinault menegaskan bahwa seluruh elemen—insinyur, mekanik, dan sumber daya lain—sudah siap untuk melanjutkan program A424 di kejuaraan tahun depan. Meski demikian, menyusun tim baru tentu memerlukan kontrak pembalap anyar, terutama setelah kepergian Antonio Felix da Costa, serta konfirmasi para pengemudi yang masih terikat.
"Transaksi ini merupakan peluang yang kuat dan koheren untuk mengamankan serta mengembangkan lebih lanjut keahlian situs Viry-Châtillon. Ini membuka prospek baru bagi para karyawan dan bisnis teknik. Perkembangan ini adalah pengakuan atas keahlian motorsport yang telah lama dimiliki situs ini, terutama di Formula 1," ujar Axel Plasse, VP Alpine Tech.
Dumarey Group dalam pernyataannya menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi ke dunia motorsport. Perusahaan asal Belgia itu melihat akuisisi ini sebagai peluang untuk memanfaatkan keahlian mesin F1 Renault bagi tim balap di masa depan. Dengan demikian, Viry berpotensi tetap menjadi pusat pengembangan teknologi balap, meski tidak lagi berada di bawah naungan Renault.
Bagi Indonesia, keputusan ini mungkin tidak berdampak langsung. Namun, bagi para penggemar motorsport Tanah Air, dinamika di WEC dan F1 tetap menjadi tontonan menarik. Apalagi, beberapa tahun terakhir Indonesia semakin aktif dalam ajang balap internasional, seperti kehadiran pembalap muda di kejuaraan Asia dan Eropa. Ketika raksasa otomotif Eropa mulai mengurangi keterlibatan pabrikan, muncul peluang bagi tim swasta dan mitra teknik independen untuk mengisi kekosongan—sebuah tren yang bisa menginspirasi pengembangan industri motorsport nasional.
Pertanyaannya kini: akankah A424 tetap melaju di grid WEC 2027 dengan merek baru, ataukah program Hypercar Alpine akan berakhir bersama Viry? Dengan tenggat 25 November yang kian mendekat, keputusan Signatech dan calon mitranya akan menjadi penentu. Jika gagal, bukan tidak mungkin A424 hanya menjadi catatan sejarah dalam kejuaraan ketahanan dunia.



