Kimi Antonelli Ungkap Ayahnya Tak Ingin Ia Balapan: 'Olahraga Ini Terlalu Kejam Secara Finansial'
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli mengungkap bahwa ayahnya, Marco, sempat melarangnya menekuni balap karena trauma kegagalan karier akibat minim dana.
- Dukungan penuh Mercedes sejak usia dini menjadi faktor penentu yang membuat Antonelli bisa bertahan di jalur balap hingga kini.
- Dengan keunggulan 102 poin di klasemen, Antonelli berpeluang besar menjadi juara dunia F1 termuda pada seri Austin akhir pekan ini.

Kimi Antonelli, pembalap Mercedes yang kini memimpin klasemen Formula 1, mengungkap sisi personal yang jarang tersorot: ayahnya, Marco, sempat menentang keras niatnya menjadi pembalap. Alasan Marco bukanlah soal bakat, melainkan pengalaman pahit yang ia alami sendiri—karier balapnya harus berakhir karena tidak ada dukungan finansial yang memadai.
Kisah itu disampaikan Antonelli dalam sesi konferensi pers pembalap di Austin, menjelang Grand Prix Amerika Serikat yang akan digelar di Circuit of the Americas, 23-25 Oktober. Ia datang ke Texas dengan keunggulan 102 poin atas rival terdekat dan berpeluang menjadi juara dunia termuda dalam sejarah F1 pada Minggu mendatang.
Marco, yang kini mengelola tim balap GT dan Formula 4 di Italia, disebut Antonelli sebagai sosok yang sangat berpengaruh. “Ayah saya adalah batu karang. Dialah, bersama ibu dan keluarga, yang paling memahami saya dan tahu cara menghadapi saya dalam situasi tertentu,” ujarnya. Namun di balik kedekatan itu, ada luka lama yang membuat Marco khawatir.
“Saat saya kecil, sebelum semuanya dimulai, dia tidak ingin saya balapan. Olahraga ini bisa sangat kejam, terutama secara finansial. Sangat sulit jika tidak punya dukungan yang tepat,” kata Antonelli menirukan kekhawatiran ayahnya. Marco, menurutnya, pernah merasakan getirnya kehabisan dana hingga harus mengubur mimpi balapnya. Pengalaman itu pula yang mendorong Marco mendirikan tim balap sendiri.
Antonelli menyadari betul bahwa tanpa campur tangan Mercedes, kariernya mungkin tidak akan pernah lepas landas. “Saya akan selalu berterima kasih kepada Mercedes. Mereka yang berani bertaruh pada saya sejak kecil. Tanpa mereka, saya tidak akan ada di sini,” tegasnya. Pabrikan asal Jerman itu mendampinginya sejak usia karting, memberikan kesempatan demi kesempatan hingga akhirnya menembus F1.
Kisah Antonelli bukan sekadar drama keluarga. Dalam beberapa tahun terakhir, F1 memang semakin akrab dengan narasi pembalap muda yang bergantung pada dukungan sponsor besar atau akademi pabrikan. Biaya untuk membina pembalap dari karting hingga Formula 1 bisa mencapai jutaan dolar, dan tidak semua keluarga mampu menanggungnya. Marco adalah contoh nyata dari mereka yang tersingkir sebelum mencapai puncak.
Bagi publik Indonesia, kisah ini mungkin terasa akrab. Di tanah air, banyak pembalap muda berbakat yang harus berhenti di tengah jalan karena keterbatasan biaya, minimnya dukungan korporasi, dan kurangnya jenjang kompetisi yang berkelanjutan. Kehadiran akademi balap seperti yang dimiliki Mercedes menjadi pembeda antara mereka yang bisa melanjutkan dan yang harus mengubur mimpi. Indonesia sendiri masih menanti sosok yang mampu menembus pentas dunia dengan dukungan sistematis, bukan sekadar semangat sesaat.
Di Austin, Antonelli tidak hanya membawa beban ekspektasi juara, tetapi juga cerita tentang pengorbanan dan keberuntungan. Ia menyebut ayahnya sebagai sumber kekuatan, meski awalnya ragu. “Sekarang dia melihat passion saya, dan dia memutuskan untuk mendukung,” ujarnya. Dukungan itu kini terbayar dengan performa impresif di lintasan.
Pertanyaannya, apakah Antonelli mampu menutup musim dengan gelar juara di usia yang belum genap 20 tahun? Jika berhasil, ia tidak hanya mencatat sejarah, tetapi juga mengirim pesan bahwa bakat saja tidak cukup—dukungan finansial dan kelembagaan adalah kunci. Sebuah pelajaran yang relevan bagi ekosistem balap di negara mana pun, termasuk Indonesia yang masih mencari formula untuk melahirkan pembalap kelas dunia.



