George Russell Bantah Klaim Horner soal Bayar Simulator Red Bull: Itu Hanya Persiapan Balap
Baca dalam 60 detik
- George Russell menepis narasi Christian Horner bahwa dirinya bersama Lando Norris dan Oscar Piastri pernah menyewa simulator Red Bull sebagai jalur karier.
- Insiden ini mencuat di tengah persaingan ketat gelar juara dunia F1, ketika Russell berada di posisi kedua klasemen pembalap.
- Pernyataan Russell berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap sistem pembinaan pembalap muda di era sebelum simulator menjadi standar tim papan atas.

Pembalap Mercedes, George Russell, angkat bicara menanggapi pernyataan kontroversial Christian Horner yang menyebut dirinya, Lando Norris, dan Oscar Piastri pernah membayar untuk menggunakan simulator Red Bull di Milton Keynes. Russell menegaskan bahwa pada 2013 fasilitas tersebut belum menjadi perangkat wajib tim junior, sehingga kehadirannya di sana murni untuk persiapan mengemudi, bukan bagian dari strategi karier menuju Formula 1.
Horner, yang tak lagi menjabat sebagai CEO dan principal Red Bull, sebelumnya mengklaim di podcast High Performance bahwa ketiga pembalap muda itu menyewa simulator timnya ketika masih remaja. Ia bahkan menyebut ayah mereka menulis cek untuk sesi latihan tersebut. Menurut Horner, operator simulator saat itu menilai Russell, Norris, dan Piastri lebih cepat dari pembalap junior Red Bull, tetapi Helmut Marko tidak tertarik merekrut mereka.
Russell, yang kini menempati peringkat kedua klasemen pembalap, merespons santai klaim tersebut di sela persiapan Grand Prix Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa pada 2013 simulator belum lazim dimiliki tim-tim junior. Kesempatan mengemudi di simulator Red Bull kala itu datang sebagai bagian dari persiapan tes dan balapan di Formula Renault, bukan indikasi bahwa ia sedang "dibayar" untuk masuk ke akademi Red Bull.
"Jadi pada 2013, simulator belum menjadi hal umum bagi siapa pun. Tim junior tidak punya simulator, dan ada kesempatan mengemudi di simulator dengan mobil Formula Renault. Itu lebih sebagai persiapan untuk tes dan balapan di seri yang kami ikuti. Hanya sebatas itu. Cukup sekian yang bisa saya sampaikan," ujar Russell seperti dikutip Motorsport.com.
Pernyataan Horner dan bantahan Russell ini bukan sekadar urusan masa lalu. Keduanya menyoroti perdebatan yang lebih luas tentang bagaimana tim papan atas merekrut talenta muda. Pada awal dekade 2010-an, simulator belum menjadi standar di akademi pembalap. Tim-tim besar seperti Red Bull, Ferrari, dan McLaren mulai berinvestasi besar pada fasilitas simulasi beberapa tahun kemudian. Kini, simulator menjadi alat wajib untuk pengembangan pembalap, termasuk untuk pembalap cadangan dan junior.
Bagi Russell, klarifikasi ini penting untuk menjaga narasi kariernya. Ia dikenal sebagai pembalap yang naik melalui program Mercedes setelah menjuarai Formula 2 pada 2018. Klaim bahwa ia pernah "membayar" untuk menggunakan simulator Red Bull bisa disalahartikan sebagai upaya membeli jalan ke F1, meski Horner tidak secara eksplisit menyatakan demikian. Russell memilih tidak memperpanjang polemik dan hanya memberikan penjelasan teknis.
Insiden ini juga memberi gambaran tentang dinamika internal Red Bull. Horner, yang telah lama memimpin tim, menyebut bahwa Marko, penasihat motorsport Red Bull, menolak merekrut Russell, Norris, dan Piastri. Keputusan itu kini menuai pertanyaan, mengingat ketiganya telah menjadi pembalap utama di tim masing-masing: Russell di Mercedes, Norris di McLaren, dan Piastri di McLaren. Jika benar ketiganya sempat direkomendasikan, maka Red Bull kehilangan peluang merekrut generasi emas pembalap Inggris dan Australia.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, polemik ini menambah warna jelang seri Amerika Serikat. Meski tidak ada pembalap Indonesia di grid, diskusi tentang pembinaan pembalap muda dan pemanfaatan teknologi simulasi relevan dengan upaya Indonesia mengembangkan motorsport, terutama setelah gelaran MotoGP di Mandalika. Simulator menjadi alat yang relatif terjangkau untuk melatih pembalap muda tanpa harus mengirim mereka ke Eropa sejak dini.
Ke depan, pernyataan Horner dan bantahan Russell mungkin akan terus menjadi bahan perbincangan di paddock. Yang jelas, Russell tidak ingin isu ini mengalihkan fokusnya dari perburuan gelar. Dengan posisi kedua di klasemen dan seri AS yang segera digelar, ia perlu menjaga konsistensi. Apakah klarifikasi singkatnya cukup untuk meredam spekulasi, atau justru memicu pertanyaan lebih lanjut tentang praktik rekrutmen tim-tim besar? Publik F1 akan menantikan jawabannya di lintasan.



