Tom Skerritt, Wajah Otoritas di 'Top Gun' dan 'Alien', Tutup Usia 93 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Tom Skerritt, aktor kawakan pemilik satu Emmy, meninggal dunia pada Rabu (21/10) di usia 93 tahun karena sebab alamiah.
- Sepanjang karier enam dekade, ia membangun citra sebagai figur berwibawa di layar lebar maupun televisi, dari Viper di Top Gun hingga Kapten Dallas di Alien.
- Kepergiannya menandai berakhirnya generasi aktor karakter Hollywood yang menjadi penopang narasi film-film blockbuster era 1980-an.

Aktor Amerika Serikat Tom Skerritt, yang namanya melekat pada karakter instruktur penerbang di Top Gun dan kapten pesawat antariksa di Alien, meninggal dunia pada Rabu (21/10) di usia 93 tahun. Keluarga mengonfirmasi bahwa pria kelahiran Detroit itu berpulang karena sebab alamiah, meninggalkan warisan akting yang membentang lebih dari enam dekade di film, televisi, dan panggung Broadway.
Bagi penonton bioskop era 1980-an, wajah Skerritt adalah representasi figur otoritas yang tenang namun tegas. Ia bukan bintang utama yang meledak-ledak, melainkan aktor pendukung yang kehadirannya justru membuat cerita terasa berakar. Peran sebagai Mike 'Viper' Metcalf dalam Top Gun (1986) dan Kapten Arthur Dallas dalam Alien (1979) adalah dua contoh bagaimana ia mampu menyeimbangkan karisma bintang utama seperti Tom Cruise dan Sigourney Weaver dengan bobot akting yang tidak kalah kuat.
Karier Skerritt sebenarnya telah dimulai jauh sebelum kedua film ikonik itu. Ia tampil dalam MASH arahan Robert Altman (1970) sebagai Duke Forrest, lalu bermain dalam The Turning Point (1977) bersama Shirley MacLaine dan Steel Magnolias (1989) sebagai suami karakter Sally Field. Di layar televisi, perannya sebagai Sheriff Jimmy Brock dalam serial Picket Fences (1992–1996) memberinya satu penghargaan Emmy pada 1993 untuk kategori aktor utama drama, setelah dua kali dinominasikan.
Dalam pernyataan resmi, keluarga mengenang Skerritt bukan lewat daftar penghargaan, melainkan lewat sifat-sifat personalnya. "Dunia mengenalnya melalui karier aktingnya yang luar biasa, tetapi kami mengenalnya karena humor, rasa ingin tahu, kebijaksanaan, kemurahan hati, dan cinta yang ia hadirkan dalam hidup kami," demikian bunyi pernyataan tersebut. Mereka juga menyoroti kepeduliannya terhadap dunia imajinasi, kreativitas, cerita, veteran, alam, serta upayanya membantu orang lain menemukan dan menyuarakan suara mereka sendiri.
Di luar dunia hiburan, Skerritt aktif mendukung komunitas veteran militer. Ia turut mendirikan Red Badge Project, sebuah organisasi nirlaba yang memanfaatkan penulisan kreatif dan bercerita sebagai terapi bagi para veteran. Keterlibatan ini sejalan dengan citranya di layar sebagai sosok pemimpin yang melindungi dan membimbing, bukan sekadar memberi perintah.
"Seorang penulis pernah menyebut saya sebagai aktor karakter yang terkurung dalam tubuh seorang leading man, dan saya selalu menyukai itu. Itu pujian yang bagus. Saya bisa berjalan di garis antara televisi dan film," kata Skerritt kepada Seattle Post-Intelligencer pada 1997.
Kutipan itu menjelaskan mengapa Skerritt bertahan lama di industri yang kerap mengorbankan aktor pendukung demi nama besar. Ia tidak pernah terjebak dalam satu genre. Setelah Alien, ia muncul dalam drama sains Contact (1997) arahan Robert Zemeckis sebagai ilmuwan yang berselisih dengan karakter Jodie Foster. Ia juga bermain dalam A River Runs Through It (1992) garapan Robert Redford, lalu menutup karier layar lebar lewat film Broke (2025) bersama Wyatt Russell dan Dennis Quaid.
Meski tidak ikut tampil dalam sekuel Top Gun: Maverick (2022), sosok Viper tetap dikenang sebagai bagian dari fondasi waralaba yang kemudian meledak lagi di box office global. Bagi industri film Indonesia, kiprah Skerritt memberi pelajaran tentang pentingnya aktor pendukung berkarakter kuat. Film-film laga dan drama Tanah Air kerap bergantung pada bintang utama, sementara kedalaman cerita justru sering datang dari peran-peran penopang yang ditulis dan dimainkan dengan matang.
Skerritt meninggalkan istri, Julie Tokashiki, lima anak, lima cucu, dan dua cicit. Kepergiannya menutup babak seorang aktor yang tidak pernah menjadi pusat poster, tetapi selalu berhasil membuat penonton percaya pada dunia yang sedang dibangun film. Pertanyaannya kini, siapa di generasi berikut Hollywood—atau bahkan perfilman nasional—yang mampu mewarisi ketenangan dan bobot akting semacam itu?



