Kakak Matthew Perry Ungkap Rahasia di Balik Pernikahan Chandler dan Monica di Friends
Baca dalam 60 detik
- Mia Perry Bowick, kakak mendiang Matthew Perry, mengungkap bahwa keluarganya khawatir sang aktor tak akan pernah merasakan pernikahan dan menjadi ayah.
- Momen pernikahan Chandler dan Monica pada 2001 menjadi pengingat pahit akan harapan Matthew yang tak terwujud, di tengah pergulatan melawan kecanduan.
- Dokumenter Netflix 'The One About Matthew Perry' akan tayang 27 Oktober, hampir tiga tahun setelah kematiannya akibat efek ketamin.

Mia Perry Bowick, kakak perempuan mendiang Matthew Perry, membuka tabir emosional di balik salah satu episode paling ikonik Friends. Dalam wawancara dengan People yang terbit Rabu (21/10/2026), ia mengungkap bahwa keluarganya menyimpan kekhawatiran mendalam saat menyaksikan adegan pernikahan Chandler Bing dan Monica Geller pada finale musim ketujuh, 2001. Bagi mereka, momen bahagia di layar itu justru menjadi cermin harapan Matthew yang belum terwujud: memiliki pasangan dan anak.
“Saat kami melihat pernikahan itu, kami semua tahu bahwa ia menginginkan hal itu dalam hidupnya; ia ingin memiliki pasangan dan anak,” ujar Mia seperti dikutip People. Namun, di balik euforia adegan tersebut, keluarga menyadari beratnya penyakit yang dihadapi Matthew. “Kami semua tahu betapa seriusnya gangguan yang ia alami, jadi ada perasaan, ‘Siapa yang tahu apa yang akan terjadi?’” tambahnya. Pernyataan ini muncul menjelang perilisan dokumenter Netflix berjudul The One About Matthew Perry pada 27 Oktober mendatang, hampir tiga tahun setelah aktor tersebut meninggal pada usia 54 tahun.
Matthew memerankan Chandler sepanjang sepuluh musim Friends (1994–2004), salah satu sitkom tersukses dalam sejarah televisi. Hubungan Chandler dan Monica berkembang dari rahasia menjadi pernikahan, dengan episode dua bagian The One with Monica and Chandler’s Wedding menjadi puncaknya. Namun, di balik layar, Matthew sedang berjuang keras. Dalam memoarnya, Friends, Lovers, and the Big Terrible Thing (2022), ia mengungkap bahwa ia langsung kembali menjalani perawatan rehabilitasi begitu syuting adegan pernikahan selesai. “Saya dibawa kembali ke pusat perawatan… dengan pikap yang dikemudikan oleh seorang teknisi yang sadar,” tulisnya.
Memoar Matthew juga menyingkap bagaimana penampilannya di Friends mencerminkan fase-fase penyalahgunaan zat. “Saat berat badan saya naik, itu alkohol; saat kurus, itu pil. Saat saya berjenggot kambing, itu banyak pil,” tulisnya. Ia bahkan mengaku pada akhir musim ketiga berusaha mendapatkan 55 tablet Vicodin sehari agar tidak merasa “sangat sakit”. Pergulatan ini berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan setelah Friends berakhir. Di luar sitkom, Matthew membintangi film seperti Fools Rush In, The Whole Nine Yards, dan 17 Again, serta serial Studio 60 on the Sunset Strip. Kehidupannya yang romantis juga menjadi sorotan, dengan hubungannya bersama Gwyneth Paltrow dan Julia Roberts pada 1990-an, serta aktris Lizzy Caplan (2006–2012).
“Terkadang segala sesuatunya memang tidak berjalan, dan ini salah satunya. Saya berharap yang terbaik untuk Molly,” ujar Matthew dalam pernyataan melalui perwakilannya saat mengumumkan perpisahan dengan Hurwitz.
Kematian Matthew pada 28 Oktober 2023 setelah ditemukan tak sadarkan diri di bak mandi air panas rumahnya di Los Angeles mengguncang publik. Penyidik menyimpulkan penyebab utama adalah efek akut ketamin, dengan tenggelam, penyakit arteri koroner, dan buprenorfin sebagai faktor yang memperburuk. Investigasi mengarah pada dakwaan terhadap lima orang, termasuk asisten pribadinya, Kenneth Iwamasa, dan dealer Jasveen Sangha yang dikenal sebagai “Ratu Ketamin”. Pada April 2026, Jasveen divonis 15 tahun penjara federal setelah mengaku bersalah atas tuduhan mendistribusikan ketamin yang menyebabkan kematian.
Bagi penggemar Friends di Indonesia, kisah ini bukan sekadar drama selebritas Hollywood. Ini adalah pengingat bahwa di balik tawa dan adegan romantis yang kita nikmati, sering kali tersembunyi perjuangan kesehatan mental dan kecanduan yang serius. Dokumenter Netflix mendatang diharapkan tidak hanya mengenang bakat Matthew, tetapi juga membuka dialog lebih luas tentang tekanan industri hiburan dan pentingnya dukungan bagi mereka yang berjuang dengan gangguan penyalahgunaan zat. Apakah industri akan belajar dari kisah ini, ataukah kita hanya akan menikmati nostalgia tanpa perubahan nyata?



