John Turturro Nyaris Menjadi Copet demi Peran Baru, Ungkap Metode Latihan
Baca dalam 60 detik
- John Turturro mengaku hampir mencopet penumpang subway New York saat mempersiapkan peran dalam film The Only Living Pickpocket in New York.
- Ia berlatih bersama ahli copet Apollo Robins dan mempraktikkan ilmunya pada kru serta pemain di lokasi syuting.
- Turturro tertarik pada naskah karena pesan tentang kepedulian dan perubahan hidup yang menurutnya jarang ditemukan di Hollywood.

Aktor senior John Turturro mengungkapkan bahwa ia hampir saja mencopet penumpang kereta bawah tanah New York saat mendalami karakter pencuri dalam film terbarunya, The Only Living Pickpocket in New York. Pengakuan itu muncul dalam wawancara dengan The New York Times, memperlihatkan betapa jauh seorang aktor mengeksplorasi peran hingga menyentuh batas antara riset dan tindakan kriminal.
Dalam film tersebut, Turturro, 69 tahun, memerankan Harry Lehman, seorang copet profesional. Untuk menghidupkan karakter itu, ia belajar langsung dari Apollo Robins, seorang ahli pickpocket yang dikenal di dunia pertunjukan. Metode pelatihan itu rupanya menggoda Turturro untuk merasakan sendiri sensasi mencopet di kereta bawah tanah—meski niat itu urung dilakukan.
“Saya sangat hampir melakukannya. Saya hanya ingin merasakan sensasi, gugup seperti apa rasanya,” ujar Turturro seperti dikutip The New York Times. Ia pun menyadari bahwa dalih “sedang riset” tidak akan menyelamatkannya jika polisi menangkapnya. “Saya berpikir, saya tidak mau ditangkap. Apa yang akan saya katakan? Bahwa saya sedang riset?” tambahnya.
“Apollo Robins seperti pianis konser. Saya tidak akan pernah bisa sehebat itu. Dia bisa melepas jam tangan saya dan setiap kali saya tidak merasakannya. Dia memberi saya latihan dengan koin dan mengajari saya cara menabrak seseorang.” — John Turturro
Alih-alih menargetkan penumpang sungguhan, Turturro mengasah kemampuannya dengan mempraktikkan aksi copet kepada para pemain dan kru di lokasi syuting. “Saya mencopet banyak orang. Kadang mereka menangkap saya, tapi sering kali mereka tidak sadar,” kenangnya. Meski demikian, ia menegaskan tidak pernah menjadi korban copet, meskipun istrinya, aktris Katherine Borowitz, pernah mengalaminya saat mereka keluar dari bioskop.
Keputusan Turturro menerima peran tersebut bukan tanpa alasan. Ia mengaku bosan dengan naskah-naskah Hollywood yang menurutnya hanya meniru tren. “Saya membaca banyak sekali naskah dan semuanya terasa turunan. Tapi yang ini, wow,” ujarnya. Baginya, cerita tentang seorang copet yang belum pernah merawat orang lain, lalu menyadari bahwa hidup adalah tentang peduli pada sesama, sangat resonan. “Pada usia tertentu, Anda tahu apa itu kehilangan, tahu apa itu kegagalan,” tuturnya.
Kisah Turturro ini bukan sekadar cerita unik dari balik layar. Di Indonesia, dunia akting juga kerap menuntut pendalaman peran yang ekstrem. Aktor-aktor Tanah Air sering kali harus belajar bela diri, mengubah berat badan, atau bahkan hidup sebagai orang biasa untuk memerankan tokoh tertentu. Namun, batas antara riset dan tindakan melanggar hukum tetap menjadi garis merah yang tidak boleh dilewati. Metode yang dijalani Turturro—meski nyaris melanggar—menunjukkan dedikasi tinggi, tetapi juga mengingatkan akan pentingnya etika dalam berprofesi.
Film The Only Living Pickpocket in New York sendiri belum memiliki tanggal rilis resmi. Namun, pengakuan Turturro telah menarik perhatian publik, terutama penggemar film independen yang menantikan karyanya. Apakah metode akting ekstrem seperti ini akan menjadi standar baru di Hollywood, atau justru memicu diskusi tentang batas eksplorasi seni? Yang jelas, Turturro telah membuktikan bahwa totalitas seorang aktor bisa membawa cerita ke level yang lebih dalam.



