Survei CNBC: Peringatan Dini bagi Partai Republik, Ekonomi Jadi Titik Terlemah Trump
Baca dalam 60 detik
- Survei CNBC All-America menunjukkan hanya 34% responden menyetujui kinerja ekonomi Trump, terendah sepanjang dua masa jabatannya.
- Partai Demokrat unggul 52% berbanding 45% dalam preferensi kendali Kongres, dengan selisih melebar tiga poin sejak Juli.
- Kekecewaan ekonomi di kalangan pemilih Republik melonjak, menandakan basis pendukung Trump mulai retak menjelang pemilu sela.

Hanya dua minggu sebelum pemilihan kongres, survei CNBC All-America Economic Survey merilis temuan yang mengguncang peta politik Amerika: tingkat persetujuan Presiden Donald Trump terhadap penanganan ekonomi anjlok ke titik terendah sepanjang dua masa jabatannya. Hanya 34% responden yang menyatakan puas, sementara 65% menyatakan tidak setuju โ angka penolakan tertinggi bagi presiden mana pun yang pernah disurvei CNBC sejak era Barack Obama.
Survei terhadap 1.000 pemilih terdaftar ini menangkap sentimen yang nyaris serupa dengan masa-masa awal pandemi: delapan dari sepuluh orang menilai kondisi ekonomi saat ini buruk atau sedang-sedang saja. Yang membuat situasi kian rumit bagi Partai Republik adalah pergeseran di internal basis mereka sendiri. Sebanyak 35% pemilih Republik kini pesimistis terhadap ekonomi, naik enam poin dari survei Juli dan menjadi level pesimisme tertinggi di kalangan pendukung Trump pada kedua periodenya.
"Kami sampai di titik ini bukan karena independen atau Demokrat makin getir, melainkan karena Republik ikut berubah," ujar Micah Roberts, mitra di Public Opinion Strategies, pollster dari kubu Republik. Ia menambahkan bahwa selama ini pemilih Republik masih memberi margin kecil penilaian positif terhadap ekonomi, namun kini margin itu patah.
Bagi Partai Republik, angka-angka ini bukan sekadar potret buram, melainkan rambu peringatan yang menyala terang. Sebab, di delapan negara bagian dengan pertarungan Senat yang ketat, responden justru lebih memilih kendali Kongres oleh Demokrat dengan selisih empat poin. Padahal, Trump memenangi delapan negara bagian tersebut dengan margin gabungan sepuluh poin pada pemilu presiden 2024. Jay Campbell, mitra di Hart Associates, pollster dari kubu Demokrat, menilai pergeseran ini sebagai sinyal bahaya bagi tim kampanye Republik. "Jika saya memimpin kampanye Republik untuk dua minggu terakhir, saya akan sangat gugup," katanya.
Meski demikian, baik Roberts maupun Campbell sepakat bahwa gelombang perubahan ini belum tentu berujung pada kemenangan telak Demokrat. Roberts menyebut pertarungan sesungguhnya adalah antara "peta dan momentum" โ pergerakan nasional memang mengarah ke Demokrat, tetapi terkonsentrasi dan sangat bergantung pada kemampuan partai itu merebut kembali distrik-distrik yang sebelumnya dikuasai Republik. Campbell bahkan tidak melihat ini sebagai pemilu realignment seperti 1994 atau 2008, melainkan "kembalinya pemilih muda dan pemilih kulit berwarna ke pangkuan Demokrat, ditambah independen yang muak dengan Trumpenomics."
Yang paling menyita perhatian publik adalah harga. Bagi 57% responden, biaya pangan, bahan bakar, dan perumahan menjadi kekhawatiran utama. Harga pangan bahkan melampaui bahan bakar sebagai sumber kecemasan terbesar, dengan 34% menyebutnya sebagai prioritas, dibandingkan 23% untuk bahan bakar. Delapan puluh persen responden merasa harga sedang naik, dan 55% di antaranya menilai kenaikan terjadi lebih cepat dari biasanya โ keduanya naik lima poin dari tahun lalu. Isu korupsi juga mencuat: 93% responden setuju bahwa pejabat terpilih, termasuk presiden dan anggota kongres, tidak boleh memiliki atau memperdagangkan saham perusahaan yang memiliki kontrak dengan pemerintah federal.
Di sisi lain, kepercayaan publik terhadap aksi militer terhadap Iran terus menurun. Hanya 46% yang menilai operasi militer itu layak untuk menghambat pengembangan nuklir Iran, turun dari 53% pada April. Lebih kecil lagi โ 35% โ yang menganggapnya layak mengingat lonjakan harga bensin yang menyertainya.
Survei ini juga menyingkap kesenjangan minat politik yang kian melebar: perempuan sepuluh poin lebih tertarik pada pemilu dibanding laki-laki, dan mereka lebih memilih kendali Kongres oleh Demokrat dengan selisih 22 poin. Sementara itu, independen memberikan dukungan 49% berbanding 33% kepada Demokrat. Kombinasi antara kemarahan atas harga, kekhawatiran korupsi, dan demografi yang bergeser ini menciptakan medan tempur yang tidak mudah bagi Partai Republik.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah ekonomi menjadi kartu mati bagi Trump, melainkan seberapa besar dampaknya terhadap hasil pemilu sela. Jika tren ini berlanjut, Demokrat berpeluang besar merebut kendali Kongres โ namun dengan catatan bahwa pergerakan suara masih rapuh dan sangat bergantung pada seberapa banyak kursi yang benar-benar bisa mereka balikkan. Apakah dua minggu terakhir cukup bagi Republik untuk membalikkan gelombang, atau justru menjadi akhir dari dominasi mereka di legislatif?



