Bruno Fernandes Persoalkan Taktik Carrick, MU Terpuruk di Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Manchester United menelan kekalahan telak 1-4 dari Como di matchday ketiga Liga Champions, memperpanjang rekor tanpa kemenangan menjadi tujuh laga.
- Kapten Bruno Fernandes mempertanyakan pendekatan taktis Carrick, terutama keputusan tidak melakukan pressing man-to-man yang dinilai memberi lawan keleluasaan.
- Tekanan terhadap Carrick semakin besar jelang laga melawan Bournemouth, sementara masa depannya di kursi pelatih mulai dipertanyakan.

Manchester United kembali menelan hasil memalukan di pentas Eropa. Kapten Bruno Fernandes secara terbuka mempertanyakan pendekatan taktis pelatih Michael Carrick setelah Setan Merah dihancurkan Como 1-4 pada matchday ketiga Liga Champions di Stadion Giuseppe Sinigaglia, Rabu (21/10/2026). Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan mempertegas krisis yang tengah melanda klub berjuluk Setan Merah tersebut.
MU tercatat belum meraih kemenangan dalam tujuh pertandingan terakhir di semua kompetisi. Yang lebih mengejutkan, mereka tumbang di tangan Como, tim debutan Liga Champions yang tampil lebih agresif, disiplin, dan mendominasi jalannya pertandingan. Hasil ini menjadi pukulan telak bagi Carrick yang baru menangani tim pada musim 2026/2027.
Fernandes, yang dimainkan sebagai false nine, kesulitan menemukan ritme permainan. Ia ditarik keluar pada menit ke-67 dan digantikan Joshua Zirkzee, yang sempat mencetak gol hiburan bagi MU menjelang akhir laga. Namun, gol tersebut tidak cukup menutupi buruknya performa kolektif tim.
Usai pertandingan, Fernandes mengungkapkan kekecewaannya terhadap cara MU memulai pertandingan. Menurutnya, kebobolan gol cepat membuat para pemain kehilangan kepercayaan diri dan terjebak dalam mentalitas negatif. "Kami memasuki pertandingan dengan mentalitas kalah setelah kebobolan lebih dulu. Sulit untuk keluar dari situasi itu," ujar Fernandes kepada TNT Sports.
"Staf pelatih memutuskan untuk tidak melakukan pressing satu lawan satu di seluruh area lapangan. Terkadang kami membiarkan ruang di belakang dan mencoba merebut bola dengan menunggu lawan. Namun, ketika menghadapi tim-tim seperti ini, memberi mereka ruang justru meningkatkan kepercayaan diri mereka."
— Bruno Fernandes, kapten Manchester United
Pernyataan tersebut secara implisit menyoroti keputusan taktis Carrick yang dinilai kurang agresif. Fernandes enggan menyebut Carrick melakukan kesalahan secara eksplisit, tetapi ia menekankan perlunya keberanian untuk menekan tinggi dan membuat lawan tidak nyaman. "Itu urusan manajer dan staf untuk menilai, bukan saya. Kadang kita harus lebih berani di bawah tekanan, mengambil risiko menekan tinggi," tambahnya.
Krisis ini juga memunculkan pertanyaan tentang masa depan Carrick. Pelatih asal Inggris itu langsung meminta maaf kepada suporter MU saat peluit akhir berbunyi, sebuah gestur yang menunjukkan betapa tertekannya ia di bawah tekanan. Meski demikian, manajemen klub belum memberikan pernyataan resmi terkait posisinya.
Dari sudut pandang taktis, keputusan Carrick untuk tidak menerapkan pressing man-to-man di seluruh lapangan memang menjadi sorotan. Dalam sepak bola modern, menghadapi tim seperti Como yang gemar menguasai bola dan memanfaatkan ruang, pendekatan pasif sering kali kontraproduktif. Como terbukti mampu memanfaatkan ruang yang diberikan untuk membangun serangan dan menciptakan peluang.
Bagi MU, kekalahan ini bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal identitas bermain. Fernandes mencontohkan bagaimana Como memanfaatkan pergerakan bek tengah lawan untuk menciptakan ruang, sesuatu yang menurutnya perlu diadopsi oleh Setan Merah. "Kami perlu menerapkan strategi tersebut sebagai sebuah tim," ujarnya.
Selanjutnya, MU akan menjamu Bournemouth di Liga Inggris akhir pekan ini. Laga tersebut bisa menjadi penentu bagi Carrick, mengingat tekanan yang semakin besar dari berbagai pihak. Jika hasil buruk kembali diraih, bukan tidak mungkin manajemen akan mengambil langkah tegas.
Pertanyaannya kini: apakah Carrick mampu membalikkan keadaan, atau justru menjadi korban berikutnya dari ketidakstabilan yang terus menghantui Manchester United?



