Elon Musk dan Talarico Bentrok di Texas: Triliuner Rp2,4 Triliun dan Kursi Senat yang Diperebutkan
Baca dalam 60 detik
- James Talarico, kandidat Senat AS dari Partai Demokrat di Texas, menuduh Elon Musk berusaha membeli kursi senator lewat donasi politik senilai total 168 juta dolar AS.
- Musk sebelumnya menyumbang 158 juta dolar AS ke Senate Leadership Fund yang mengalir ke Texas PAC, kelompok pendukung lawan Talarico, Ken Paxton.
- Talarico unggul di survei dan mengumpulkan 64 juta dolar AS pada kuartal III, sementara Paxton hanya 18 juta dolar AS, menjadikan Texas medan uji pengaruh uang besar dalam politik AS.

James Talarico, calon Senat Amerika Serikat dari Partai Demokrat untuk Texas, melancarkan serangan balik terhadap Elon Musk setelah miliarder itu menyebut ada “sesuatu yang sangat keliru” dengan dirinya. Dalam balasan di platform X pada Rabu malam (21/10/2026), Talarico menulis, “Ada yang salah dalam sistem politik yang membiarkan seorang triliuner membeli senator pribadinya.”
Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah Musk, CEO SpaceX dan Tesla, mengunggah komentar singkat yang menyasar Talarico tanpa merinci alasannya. Perseteruan keduanya bukan sekadar adu cuitan: ia memperlihatkan bagaimana kekayaan ekstrem dapat menjadi instrumen langsung dalam kontestasi elektoral Amerika, terutama di negara bagian yang selama ini menjadi benteng Partai Republik.
Dalam pidato kampanye di Hilton University of Houston, Talarico secara terbuka menuding Musk berada di balik gelombang iklan serangan, surat, dan pesan teks yang menyudutkannya. “Jika Anda menerima pesan yang menakut-nakuti tentang saya, itu juga Elon,” ujarnya seperti dikutip Houston Public Media. Ia menambahkan bahwa Musk menginginkan tanah, air, dan dolar pembayar pajak Texas—serta senator yang bisa dikendalikannya. “Pada 3 November, kami akan mengirim pesan jelas kepada triliuner pertama di dunia: Texas tidak dijual.”
Aliran dana tersebut terungkap lima hari sebelum pernyataan Talarico. Musk mentransfer 158 juta dolar AS ke Senate Leadership Fund, super PAC yang kemudian meneruskan dana itu ke Texas PAC, kelompok yang mendukung calon dari Partai Republik, Ken Paxton, yang saat ini menjabat Jaksa Agung Texas. Musk juga mengirim 10 juta dolar AS ke Lone Star Liberty PAC, yang juga memihak Paxton. Langkah itu diambil ketika survei menunjukkan Paxton tertinggal dari Talarico.
Meski demikian, mesin pendanaan Talarico tidak bisa diremehkan. Kampanyenya melaporkan penggalangan dana 64 juta dolar AS pada kuartal III, angka terbesar yang pernah dicatat kandidat Senat pada kuartal ketiga. Sebagai perbandingan, Paxton hanya mengumpulkan 18 juta dolar AS pada periode yang sama. Paxton sendiri maju setelah mengalahkan Senator petahana John Cornyn dalam primari Partai Republik awal tahun ini. Tim kampanyenya belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
“Ada yang salah dalam sistem politik yang membiarkan seorang triliuner membeli senator pribadinya.” — James Talarico, kandidat Senat AS dari Partai Demokrat untuk Texas
Bagi pengamat politik, duel ini mencerminkan pergeseran lanskap pendanaan kampanye di Amerika: figur teknologi dengan kekayaan luar biasa tidak lagi hanya menjadi donor, tetapi aktor yang mampu menentukan arah narasi dan hasil pemilu. Texas, dengan populasi besar dan basis ekonomi energi serta teknologi yang kuat, menjadi medan uji bagi model tersebut. Jika Musk berhasil membawa Paxton ke Senat, ia tidak hanya memperluas pengaruh politiknya tetapi juga membuka jalan bagi kepentingan bisnisnya di sektor antariksa, kendaraan listrik, dan infrastruktur.
Dari sudut pandang Indonesia, fenomena ini relevan sebagai cermin bagaimana konsentrasi kekayaan dapat memengaruhi proses demokrasi. Indonesia memiliki aturan pembatasan sumbangan kampanye, tetapi pengawasan dan transparansi masih menjadi pekerjaan rumah. Munculnya oligarki digital di AS—di mana satu individu dapat menyuntikkan dana ratusan juta dolar ke satu kontestasi—menjadi peringatan bagi negara berkembang bahwa regulasi pendanaan politik harus terus diperkuat agar tidak menjadi alat bagi kepentingan segelintir orang.
Dengan pemilihan yang tinggal hitungan hari, pertanyaannya kini: akankah uang besar Musk mampu membalikkan keunggulan Talarico, atau justru menjadi bumerang yang mengukuhkan narasi perlawanan terhadap politik uang? Yang jelas, Texas bukan lagi sekadar pertarungan lokal—ia telah menjadi panggung bagi benturan antara demokrasi dan kekuatan kapital global.



