Ilmuwan Uji 'Olive Oil Shot' Sebelum Karbohidrat: Efeknya pada Gula Darah, tapi Baru di Tikus
Baca dalam 60 detik
- Studi pada tikus menunjukkan konsumsi minyak zaitun sebelum karbohidrat memperlambat pengosongan lambung dan meredam lonjakan gula darah awal.
- Para ahli mengingatkan temuan ini belum bisa diterapkan langsung ke manusia karena dosis besar dan model hewan, plus risiko kesehatan dari tren 'shot' minyak zaitun.
- Konsumsi minyak zaitun tetap bermanfaat untuk jantung, tetapi tidak ada bukti tambahan jika diminum terpisah dari makanan; cara terbaik adalah menggantikan lemak tidak sehat.

Menjamurnya tren 'olive oil shot'—menenggak satu hingga dua sendok makan minyak zaitun murni di pagi hari—mendapat sorotan ilmiah setelah sebuah studi terbaru dalam jurnal Diabetes mengungkap mekanisme potensial di baliknya. Penelitian pada tikus itu menemukan bahwa pemberian minyak zaitun sebelum beban glukosa dapat memperlambat pengosongan lambung dan menekan lonjakan gula darah awal, melibatkan jalur hormon dan saraf. Namun, para pakar gizi dan gastroenterologi yang diwawancarai Medical News Today menegaskan temuan ini belum serta-merta berlaku untuk manusia, terutama karena dosis yang dipakai jauh di atas konsumsi wajar dan model hewan tidak selalu mencerminkan metabolisme manusia.
Dalam eksperimen tersebut, peneliti memberi sekelompok tikus minyak zaitun 15 menit sebelum uji toleransi glukosa oral (OGTT). Kelompok lain menerima air sebelum beban glukosa, dan kelompok ketiga menerima minyak zaitun setelahnya. Hasilnya, kelompok yang mendapat 'preload' minyak zaitun mengalami kenaikan gula darah yang lebih kecil dan pengosongan lambung yang lebih lambat. Efek serupa teramati pada tikus dengan diabetes tipe 2 dan defisiensi insulin berat. Para peneliti juga mencatat lonjakan hormon usus dan endokrin—glukagon, GIP, dan GLP-1—yang lebih awal dan lebih tajam dalam 15–30 menit setelah makan pada kelompok tersebut.
Menurut Daisuke Yabe, profesor kedokteran di Universitas Kyoto yang menjadi penulis senior studi, urutan masuknya nutrisi ke usus dapat memicu respons hormon-saraf terkoordinasi yang mengubah kecepatan lambung mengirim glukosa ke usus. Dengan demikian, gula tidak masuk ke aliran darah sekaligus, sehingga lonjakan gula darah pascamakan dapat diredam. Meski demikian, Yabe dan timnya tidak mengklaim efek jangka panjang pada manusia.
Jennifer Pallian, ahli diet terdaftar yang fokus pada ilmu pangan dan gizi, menjelaskan bahwa pengosongan lambung yang lebih lambat adalah kunci. "Minyak zaitun merangsang pelepasan GLP-1 dan glukagon yang memperlambat pengosongan lambung, dengan saraf vagus juga berperan. Menariknya, efek ini terjadi tanpa peningkatan sekresi insulin yang signifikan, sehingga perlambatan pengosongan lambung—bukan produksi insulin—yang bertanggung jawab atas perbaikan respons gula darah," ujarnya. Ia juga merujuk studi kecil pada enam pria dengan diabetes tipe 2 yang menunjukkan efek serupa di manusia, meski skalanya sangat terbatas.
Namun, Noah Praamsma, koordinator pendidikan gizi dari Physicians Committee for Responsible Medicine, mengingatkan bahwa memperlambat pengosongan lambung tidak mengurangi jumlah glukosa yang diserap tubuh. "Ini bisa membuat puncak gula darah seseorang datang lebih lambat dari yang diperkirakan. Selain itu, minyak apa pun adalah sumber kalori terkonsentrasi dan tidak akan membantu pengelolaan gula darah jangka panjang," katanya. Senada, Edmundo Rodriguez-Frias, gastroenterolog di Anderson Medical Group, menilai studi itu belum bisa menetapkan efek tahan lama pada HbA1c, berat badan, luaran kardiovaskular, atau kebutuhan obat. "Batasan terbesarnya adalah penelitian pada tikus dengan beban glukosa oral terkontrol, bukan pada orang yang makan makanan biasa," tegasnya.
Selain efektivitas yang belum pasti, tren 'olive oil shot' menyimpan risiko lain. Pallian menyoroti campuran air perasan lemon yang bersifat sangat asam dan dapat memicu erosi gigi jika sering terpapar. Rodriguez-Frias menambahkan bahwa lemon dan lada hitam dapat memperburuk refluks, sementara kunyit bisa menyebabkan gangguan lambung. "Shot minyak zaitun mengirimkan lemak pekat secara cepat, yang dapat menyebabkan mual, kram, tinja encer, atau memperburuk refluks. Tidak ada bukti baik bahwa menambahkan bahan-bahan itu membuatnya lebih efektif," ujarnya. Bagi yang ingin menurunkan gula darah, Praamsma menyarankan alternatif seperti kacang-kacangan, sayuran non-tepung, dan pangan kaya protein serta serat seperti tahu, tempe, dan edamame—yang juga membantu kontrol gula darah jangka panjang.
Konsumsi minyak zaitun sehari-hari tetap didukung bukti untuk kesehatan kardiovaskular. Pallian menjelaskan kandungan asam lemak tak jenuh tunggal, terutama asam oleat, serta vitamin E dan polifenol, berkontribusi pada sifat antioksidan dan antiinflamasi yang dikaitkan dengan perbaikan profil kolesterol, tekanan darah, sensitivitas insulin, dan regulasi gula darah. Namun, ia menegaskan tidak ada manfaat tambahan dari meminumnya sebagai 'shot' terpisah dari makanan. "Bukti mendukung memasukkan minyak zaitun ke dalam pola makan sehat, terutama sebagai pengganti lemak lain, bukan sebagai shot harian," tutupnya. Pertanyaannya kini: apakah produsen dan media sosial akan mengindahkan peringatan para ahli, atau tren ini terus berjalan tanpa dasar bukti yang memadai?



