Mateus Fernandes Terpinggirkan di Tottenham: Ironi Transfer £85 Juta yang Belum Terbukti
Baca dalam 60 detik
- Mateus Fernandes baru tiga kali menjadi starter dari tujuh laga Premier League Tottenham musim ini meski dibeli seharga £85 juta dari West Ham.
- Manajer Roberto De Zerbi lebih memilih Archie Gray, James Maddison, dan Sandro Tonali di lini tengah, membuat Fernandes tersisih.
- Dengan tersingkir dari Carabao Cup dan absen di kompetisi Eropa, peluang Fernandes untuk menambah menit bermain semakin sempit.

Keputusan Tottenham Hotspur menggelontorkan £85 juta untuk Mateus Fernandes pada bursa transfer musim panas lalu tampaknya belum membuahkan hasil sesuai harapan. Pemain asal Portugal itu baru tiga kali menjadi starter dari tujuh pertandingan Premier League yang telah dilakoni Spurs musim ini, sebuah catatan yang menimbulkan pertanyaan besar mengingat besarnya investasi yang dikeluarkan klub.
Fernandes didatangkan dari West Ham United setelah tampil impresif bersama Southampton dan The Hammers, meski kedua klub tersebut mengalami degradasi. Potensinya sebagai gelandang nomor delapan dinilai sangat tinggi, bahkan seorang analis Premier League menyebutnya sebagai "deep-lying Bruno Fernandes" dan memiliki kapasitas untuk menjadi gelandang nomor delapan paling lengkap di dunia. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.
Manajer Roberto De Zerbi rupanya belum sepenuhnya percaya pada Fernandes. Bahkan ketika Lucas Bergvall dan Rodrigo Bentancur absen karena cedera dan skorsing, Fernandes tetap tidak dipilih sebagai starter. Ia baru masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-71 dalam laga terakhir. De Zerbi secara terbuka mengaku tidak menyukai penampilan Fernandes saat ditarik keluar pada babak pertama ketika Tottenham kalah dari Aston Villa sebelum jeda internasional.
Persaingan di lini tengah Tottenham memang ketat. Sandro Tonali hampir pasti mengisi posisi nomor enam, sementara Archie Gray, yang dijuluki "kapten masa depan Tottenham" oleh Harry Redknapp, tampil mengesankan saat dipindahkan ke lini tengah dalam kemenangan 3-1 atas Coventry City. Gray, yang juga sempat dipinjamkan dari Leeds United, telah menjadi bagian dari kelompok kepemimpinan De Zerbi. Fleksibilitasnya di posisi bek kanan maupun gelandang tengah membuatnya sulit tersingkirkan.
Di laga melawan Coventry, De Zerbi juga memilih James Maddison sebagai gelandang serang, sementara Conor Gallagher dan Bentancur sempat menjadi tandem Tonali di awal musim. Fakta bahwa Fernandes kalah bersaing dari pemain yang lebih muda seperti Gray menjadi sinyal kuat bahwa ia belum menjadi pilihan utama. Dengan tersingkirnya Tottenham dari Carabao Cup dan tidak adanya jadwal kompetisi Eropa musim ini, rotasi pemain akan sangat terbatas, sehingga menit bermain Fernandes berpotensi tetap minim.
"Saya tidak menyukai penampilan Mateus," ujar De Zerbi saat menjelaskan alasan menarik keluar Fernandes pada babak pertama melawan Aston Villa.
Dari sisi taktik, Fernandes sebenarnya lebih efektif saat bermain sebagai gelandang nomor delapan, posisi yang membuatnya bersinar di West Ham. Keterbatasannya dalam menciptakan peluang di sepertiga akhir menjadi sorotan, tetapi kemampuannya menjaga penguasaan bola dan bertahan di lini tengah tetap menjadi nilai plus. Sayangnya, De Zerbi tampaknya lebih mengutamakan keseimbangan dan performa kolektif saat ini.
Bagi Fernandes, situasi ini jelas mengecewakan. Dengan harga transfer dan gaji besar, ia tentu berharap menjadi pilihan utama. Usianya masih 22 tahun, tetapi jika terus dipinggirkan, masa depannya di Tottenham bisa dipertanyakan. Apakah ia akan bertahan dan memperjuangkan tempat, atau justru mempertimbangkan opsi pindah pada jendela transfer berikutnya? Jawabannya akan sangat bergantung pada bagaimana De Zerbi mengelola skuadnya dalam beberapa pekan ke depan.



