Phillip Island Pamit, Pembalap MotoGP Suarakan Kehilangan Sirkuit Legendaris
Baca dalam 60 detik
- Grand Prix Australia di Phillip Island menjadi balapan terakhir sebelum MotoGP pindah ke sirkuit jalanan Adelaide tahun depan.
- Para pembalap menyebut Phillip Island sebagai salah satu trek paling ikonik dengan atmosfer dan karakter unik yang sulit digantikan.
- Meski kecewa, pembalap mulai menerima kepindahan ke Adelaide setelah mendapat jaminan keselamatan melalui video onboard AI.

MotoGP resmi mengucapkan selamat tinggal kepada Phillip Island. Seri Australia yang digelar akhir pekan ini menjadi penampilan terakhir sirkuit legendaris tersebut sebelum kejuaraan beralih ke sirkuit jalanan Adelaide mulai musim depan. Kabar ini memicu gelombang kekecewaan dari para pembalap yang telah lama menganggap Phillip Island sebagai salah satu venue favorit di kalender.
Sejak pertama kali menggelar Grand Prix Australia pada 1989 dan menjadi tuan rumah tetap sejak 1997, Phillip Island telah menjadi ikon dalam dunia balap motor. Trek sepanjang 4,4 kilometer ini dikenal dengan layout berkecepatan tinggi, perubahan elevasi yang ekstrem, serta karakter "old-school" yang menantang. Berbeda dari sirkuit modern yang serba tertata, Phillip Island menawarkan pengalaman balap yang mentah dan mendebarkanโsesuatu yang langka di era sekarang.
Keputusan untuk memindahkan MotoGP ke Adelaide diambil setelah pemerintah Australia Selatan mengamankan kesepakatan baru. Sirkuit jalanan Adelaide, yang pernah menjadi tuan rumah Formula 1, akan menjadi panggung baru bagi para pembalap. Meski demikian, perpindahan ini tidak lepas dari sorotan. Selama bertahun-tahun, fasilitas Phillip Island yang menua dan keterbatasan akomodasi menjadi bayang-bayang ketidakpastian masa depannya.
Jack Miller, satu-satunya pembalap Australia di grid, mengungkapkan perasaannya yang campur aduk. Menurutnya, Phillip Island adalah salah satu trek paling ikonik yang pernah menghasilkan balapan terbaik dalam sejarah MotoGP. "Anda seperti berdansa dengan motor sepanjang putaran, mengelola getaran, wheelie, dan terpaan angin. Anda tidak pernah bisa menyerang penuh, tetapi justru itu yang membuatnya menyenangkan," ujarnya.
"Di satu sisi, ini akan indah bagi semua orang; di sisi lain, akan sangat menyedihkan. Salah satu atmosfer terbaik di seluruh kalender, penggemar sangat dekat dengan kami. Trek ini juga salah satu yang legendaris, seperti Mugello dan Jerez. Akan sangat menyedihkan bahwa tahun depan kami tidak datang ke sini." - Pedro Acosta
Pedro Acosta dari KTM bahkan menyandingkan Phillip Island dengan sirkuit legendaris seperti Mugello dan Jerez. Ia memuji atmosfer yang tercipta dari kedekatan penonton dengan pembalap, sesuatu yang jarang ditemui di sirkuit lain. Sementara Marc Marquez, juara dua kali GP Australia, menyebut Phillip Island sebagai trek yang menuntut rasa hormat. "Ini trek yang sangat cepat dan sempit, di mana jika Anda jatuh, Anda langsung berada di kerikil. Anda harus memiliki rasa hormat yang sehat," kata Marquez.
Jorge Martin, rival Marquez dalam perebutan gelar, juga menyoroti pengalaman unik menginap di rumah-rumah liburan sewaan di sekitar Phillip Island, tempat para pembalap sering melihat satwa liar dan berselancar. "Saya yakin akan merindukan Phillip Island selama beberapa tahun ke depan. Mungkin suatu saat kami akan kembali, tetapi untuk saat ini saya akan merindukannya," ucapnya.
Meski kecewa, para pembalap mulai melunak terhadap Adelaide. Sebelumnya, mereka mengkhawatirkan aspek keselamatan sirkuit jalanan tersebut. Namun, MotoGP berhasil meredakan kekhawatiran itu dengan menyajikan video onboard yang dihasilkan AI untuk memberikan gambaran tentang karakter sirkuit. Luca Marini dari Honda mengaku akan merindukan trofi unik Phillip Island, yang menurutnya hanya bisa dimenangkan di sana. "Trofi itu selalu luar biasa, sesuatu yang saya impikan. Sayangnya saya belum pernah naik podium di sini, jadi mari kita coba di balapan basah tahun ini," katanya.
Marco Bezzecchi dari Aprilia menambahkan bahwa sirkuit-sirkuit indah selalu menghasilkan balapan yang hebat. "Di sini pertarungan selalu luar biasa. Tahun lalu balapannya fantastis, dan itu juga menjadi podium MotoGP pertama saya di Phillip Island," ujarnya.
Bagi Indonesia, kepindahan ini mungkin tidak berdampak langsung. Namun, sebagai negara yang memiliki sirkuit internasional seperti Mandalika, dinamika ini menjadi cermin bagaimana sirkuit legendaris pun bisa tergeser oleh tuntutan komersial dan infrastruktur. Phillip Island, dengan segala pesonanya, harus mengalah pada keterbatasan fasilitas dan akomodasi. Adelaide menawarkan janji fasilitas yang lebih modern dan akses yang lebih mudah, tetapi akankah ia mampu menggantikan jiwa balap yang telah tertanam di Phillip Island selama tiga dekade?
Para pembalap akan menjalani balapan terakhir di Phillip Island akhir pekan ini dengan perasaan campur aduk. Cuaca yang tidak menentu, sesuai dengan karakter trek, bisa menjadi penutup yang dramatis. Setelah itu, MotoGP melangkah ke babak baru di Adelaide. Akankah sirkuit jalanan itu mampu menciptakan momen-momen legendaris seperti yang pernah lahir di Phillip Island? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi kerinduan para pembalap akan Phillip Island tidak akan pernah pudar.



