RB Leipzig: Perkasa di Kandang, Rapuh di Tandang, Apa Penyebabnya?
Baca dalam 60 detik
- RB Leipzig mencatat rekor delapan kemenangan beruntun di Bundesliga di Red Bull Arena, tetapi selalu kalah dalam empat laga tandang musim ini.
- Perbedaan mencolok terlihat dari statistik: di kandang mencetak 14 gol tanpa kebobolan, sementara di tandang hanya dua gol dan kebobolan 11 kali.
- Pelatih Martín Demichelis menghadapi ujian berat dengan jadwal tandang sulit melawan Schalke, Union Berlin, dan Freiburg yang akan menentukan konsistensi tim.

RB Leipzig tampil bak dua tim berbeda di Bundesliga 2026/27. Di Red Bull Arena, mereka tak terkalahkan dengan delapan kemenangan beruntun—sebuah rekor klub—tetapi di laga tandang, armada Martín Demichelis selalu pulang dengan tangan hampa. Kontras ini menjadi teka-teki yang harus segera dipecahkan jika Leipzig ingin bersaing di papan atas.
Kemenangan 6-0 atas Eintracht Frankfurt pada pekan kelima menjadi puncak performa kandang Leipzig. Kapten David Raum saat itu menyebut hasil tersebut sebagai bukti kapasitas tim, meski ia juga mengakui musim ini berjalan seperti roller coaster. Sejak awal 2026/27, Leipzig telah mengemas tiga kemenangan kandang dengan total 14 gol tanpa balas, plus kemenangan 1-0 atas PSV Eindhoven di Liga Champions. Terakhir kali Leipzig kehilangan poin di kandang adalah pada Februari lalu saat bermain imbang 2-2 dengan Borussia Dortmund, dan kekalahan kandang terakhir terjadi pada akhir Januari melawan Mainz.
Namun, catatan tandang sangat bertolak belakang. Dari empat laga tandang musim ini, Leipzig kalah semuanya: 3-1 di Werder Bremen, 2-0 di Bayer Leverkusen, dan yang terbaru dibantai 6-1 di Bayern Munich. Di Liga Champions, mereka juga takluk 4-1 di markas Como dan Real Madrid. Terakhir kali ada tim dengan kontras performa kandang-tandang seburuk ini setelah enam pertandingan adalah pada musim 1976/77, ketika Eintracht Frankfurt mencetak 15 gol dalam tiga kemenangan kandang tetapi kalah di tiga laga tandang dengan hanya dua gol.
Direktur pelaksana Marcel Schäfer enggan menyederhanakan masalah menjadi dua sisi. Namun, data memang menunjukkan perbedaan signifikan. Di kandang, Leipzig rata-rata melepaskan 61 tembakan dan menciptakan 13 peluang besar (tujuh dikonversi), sementara di tandang hanya 41 tembakan dengan satu peluang besar. Sebaliknya, di kandang mereka hanya menghadapi 42 tembakan, sedangkan di tandang 59 tembakan—29 di antaranya datang saat melawan Bayern.
"Terlalu mudah bagi saya untuk berbicara tentang dua sisi dari kami," ujar Schäfer, mengisyaratkan bahwa persoalan tak sekadar mentalitas kandang-tandang.
Menariknya, Leipzig justru memiliki penguasaan bola lebih tinggi saat tandang (53%) dibandingkan kandang (52%), dengan akurasi umpan sedikit lebih baik (88% vs 87,7%). Jarak tempuh pemain juga lebih jauh di tandang (355 km) daripada di kandang (347 km), dan waktu merebut bola hanya terpaut 0,2 detik. Artinya, secara usaha dan penguasaan bola, tidak ada penurunan berarti. Masalahnya lebih pada efektivitas di sepertiga akhir dan ketahanan lini belakang saat ditekan.
Demichelis sempat mengubah formasi dengan mengorbankan striker murni demi menambah gelandang saat melawan Bayern, tetapi Leipzig tetap kebobolan enam gol. Kiper Maarten Vandevoordt sebenarnya tampil gemilang dengan 11 penyelamatan—rekor musim ini—setelah sebelumnya mencatat 10 penyelamatan melawan Frankfurt. Namun, tekanan bertubi-tubi membuat gawangnya tak mampu diselamatkan.
Ketiadaan gol dari bola mati juga menjadi sorotan. Leipzig dan Leverkusen belum sekalipun mencetak gol dari situasi bola mati, sehingga 16 gol mereka seluruhnya dari permainan terbuka. Sebaliknya, mereka hanya kebobolan satu gol dari bola mati. Raum, yang musim lalu menciptakan 10 gol dari bola mati, musim ini belum mencatat assist serupa, meski ia memimpin liga bersama Michael Olise dengan 20 peluang tercipta.
Dalam konteks Indonesia, inkonsistensi Leipzig ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Liga 1 yang kerap menghadapi masalah serupa: performa kandang dan tandang yang jomplang. Analisis berbasis data—seperti xG, jumlah tembakan, dan pola kebobolan—dapat membantu pelatih merumuskan strategi yang lebih adaptif, bukan sekadar mengandalkan motivasi. Sepak bola modern menuntut pembacaan taktik yang presisi, terutama saat bermain di kandang lawan yang sering memberikan tekanan psikologis dan atmosfer berbeda.
Ke depan, Leipzig akan menjalani rangkaian laga kandang melawan Elversberg, Augsburg, dan Mainz—peluang emas untuk memperpanjang rekor. Namun, ujian sebenarnya datang pada laga tandang kontra Schalke, Union Berlin, dan Freiburg. Jika Leipzig mampu mengatasi kelemahan tandang, mereka bisa kembali ke jalur perebutan gelar. Sebaliknya, jika tren buruk berlanjut, musim ini berpotensi berakhir tanpa trofi. Mampukah Demichelis menemukan formula tandang yang tepat sebelum jendela transfer ditutup?



