Komdis PSSI Jatuhkan Sanksi, Persija Bebas Pengurangan Poin tapi The Jakmania Dilarang Away Setengah Musim
Baca dalam 60 detik
- Komite Disiplin PSSI memutuskan tidak ada pemotongan poin untuk Persija Jakarta meski suporter terlibat kerusuhan.
- The Jakmania dilarang mendukung tim secara langsung di laga tandang selama setengah musim BRI Super League 2026/2027 dan didenda Rp60 juta.
- Panpel Persita Tangerang juga dihukum denda Rp40 juta, sementara suporternya dilarang away ke Jakarta pada putaran kedua.

Komite Disiplin (Komdis) PSSI akhirnya menuntaskan sidang atas insiden kerusuhan suporter dalam laga Persita Tangerang melawan Persija Jakarta pada pekan kelima BRI Super League 2026/2027. Hasilnya, Persija tidak mengalami pengurangan poin, tetapi suporter mereka, The Jakmania, mendapat larangan mendampingi tim di laga tandang selama setengah musim. Keputusan ini dibacakan langsung oleh Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Kerusuhan sendiri terjadi saat jeda babak pertama di Banten International Stadium, Serang, akhir pekan lalu. Menurut Ferry, pertandingan sejatinya berjalan lancar, namun terhenti di babak kedua akibat bentrokan antarpendukung yang dipicu persoalan spanduk. "Ada momen yang sangat disayangkan. Keributan sepele masalah spanduk tapi merembet dan terjadi berulang-ulang," ujarnya. Insiden ini memaksa aparat keamanan bertindak dan menjadi sorotan publik.
Keputusan Komdis ini sekaligus mementahkan isu yang sempat viral di media sosial soal potensi pengurangan poin bagi Persija. Ferry menegaskan, dalam putusan yang memakan waktu dua hari sidang tersebut, tidak ada hukuman pemotongan poin. "Khusus Persija dilarang away selama setengah musim, memang jumlah laga enam, tapi selama setengah musim dilarang di BRI Super League," jelasnya. Sementara itu, panitia pelaksana pertandingan Persita dianggap lalai sehingga dikenai denda Rp40 juta, dan suporter Pendekar Cisadane tidak diperbolehkan hadir ke Jakarta pada putaran kedua.
Hukuman bagi The Jakmania terbilang berat karena mencakup larangan tur tandang selama setengah musim penuh. Selain itu, suporter Persija juga dibebani denda Rp60 juta karena aksi penyalaan petasan tiga kali dan satu flare di stadion. Denda serupa tidak diberikan kepada panpel Persita, namun suporter tim tuan rumah mendapat larangan away ke Jakarta. Dengan demikian, kedua klub harus menanggung konsekuensi finansial dan pembatasan kehadiran suporter pada laga-laga tertentu.
"Dari hasil sidang komdis yang rasanya cukup alot karena memakan waktu dua hari, keputusan panpel Persita diputuskan pelanggaran sebesar denda Rp40 juta. Satu di antara yang menjadi titik poin dan sangat penting bahwa Persita dalam hal ini sebagai tuan rumah, selain sanksi, suporter Persita dilarang away ke Persija," ujar Ferry Paulus.
Bagi Persija, keputusan ini membawa angin segar karena tim asuhan Carlos Pena tidak kehilangan poin di klasemen. Namun, larangan away bagi The Jakmania berpotensi mengurangi dukungan langsung di enam laga tandang, yang bisa memengaruhi atmosfer pertandingan. Sementara itu, Persita harus menerima kenyataan suporternya tidak bisa mendukung secara langsung saat bertandang ke Jakarta, sebuah pukulan tersendiri mengingat rivalitas kedua tim yang panas.
Ke depan, keputusan Komdis ini menjadi ujian bagi I.League dan PSSI dalam menegakkan disiplin tanpa mengorbankan kompetisi. Apakah sanksi ini cukup memberikan efek jera, atau justru memicu protes balik dari suporter? Yang jelas, integritas BRI Super League 2026/2027 akan dipertaruhkan, terutama dalam menjaga sportivitas dan keamanan di setiap laga yang melibatkan tim-tim dengan basis pendukung besar.



