Polemik 'Sea Bass' dan Nostalgia Herring: Ketika Selera Ikan Inggris Menyempit
Baca dalam 60 detik
- Surat pembaca Guardian mengungkap kerinduan pada herring segar yang dulu dijajakan keliling, sekaligus mengkritik istilah 'sea bass' yang dianggap keamerika-amerikaan.
- Kritik terhadap saran Marine Conservation Society untuk beralih dari cod ke sea bass dinilai mengabaikan tradisi kuliner lokal dan keunikan spesies bass Inggris.
- Perdebatan ini menyoroti bagaimana rekomendasi konservasi laut bisa berbenturan dengan selera budaya dan penamaan yang mapan, memicu diskusi tentang edukasi pangan yang lebih peka konteks.

Di tengah kampanye global untuk mengurangi konsumsi cod dan beralih ke sumber protein laut alternatif, dua surat pembaca di The Guardian justru membuka diskusi menarik tentang identitas kuliner Inggris: antara nostalgia herring yang nyaris punah dari meja makan dan kejengkelan terhadap istilah 'sea bass' yang dianggap sebagai pengaruh Amerika. Elaine Hoare dari Chalfont St Giles mengenang masa kecilnya di Douglas, Isle of Man, pada 1950-an, ketika penjaja herring berkeliling gang belakang rumahnya sambil berseru 'Fresh herring, fresh herring'. Ibunya membeli lima ikan dengan harga satu shilling, lalu membersihkannya, memberi sayatan di kedua sisi, membalurnya dengan oatmeal, dan menggorengnya. Kini, meski ada penjaja ikan dari Grimsby yang rutin mampir setiap Senin, herring tak pernah lagi tersedia. Sementara itu, Michael Heaton dari Warminster mempertanyakan saran Marine Conservation Society (MCS) agar konsumen beralih ke 'wild-caught sea bass' sebagai pengganti cod. Menurutnya, istilah 'sea bass' tidak dikenal di Inggris—itu sebutan Amerika untuk membedakan bass laut dari beberapa spesies bass air tawar yang tidak bisa dimakan. Di Inggris hanya ada satu spesies: bass. Lebih jauh, ia menilai perbandingan dengan cod tidak pada tempatnya karena bass jauh lebih lezat, tetapi tidak cocok untuk digoreng tepung.
Surat-surat ini bukan sekadar curahan hati. Mereka mencerminkan ketegangan antara rekomendasi konservasi pangan dan realitas budaya kuliner setempat. MCS, organisasi nirlaba yang fokus pada kesehatan laut, memang gencar mendorong konsumen mengurangi tekanan pada stok cod yang menipis. Namun, saran untuk beralih ke sea bass—yang dalam penamaan lokal disebut bass—menuai kritik karena dianggap mengabaikan preferensi dan pengetahuan lokal. Bagi Heaton, bass adalah ikan yang kualitasnya jauh di atas cod, tetapi teksturnya tidak mendukung metode masak fish and chips yang menjadi ikon Inggris. Ini menunjukkan bahwa kampanye lingkungan perlu mempertimbangkan cara masyarakat memahami dan mengolah pangan, bukan sekadar mengganti nama spesies di daftar belanja.
Di sisi lain, kisah herring yang diungkap Hoare memperlihatkan pergeseran besar dalam pola konsumsi seafood Inggris selama setengah abad terakhir. Dulu, herring adalah ikan rakyat yang murah dan mudah diolah—cukup dibalur oatmeal dan digoreng. Kini, herring jarang muncul di pasar ikan modern, kalah bersaing dengan cod, haddock, dan salmon yang lebih seragam. Fenomena ini sejalan dengan temuan studi yang sempat diberitakan Guardian pekan lalu: resep seafood tradisional Inggris semakin menyempit, dan variasi ikan yang dikonsumsi rumah tangga menurun drastis. Hilangnya herring dari etalase penjaja ikan bukan hanya soal selera, tetapi juga soal rantai pasok, kebijakan perikanan, dan perubahan gaya hidup.
Kritik Heaton juga menyentuh isu penamaan yang lebih luas: bagaimana industri pangan dan kampanye lingkungan sering kali menggunakan istilah asing untuk meraih pasar global, tanpa memperhatikan kekhasan lokal. Dalam konteks Indonesia, fenomena serupa terjadi pada ikan seperti kakap, kerapu, dan baronang yang kadang dipasarkan dengan nama internasional 'grouper' atau 'snapper' untuk meningkatkan daya tarik ekspor. Namun, di tingkat konsumen domestik, nama lokal justru lebih akrab dan memiliki nilai budaya. Pelajaran dari polemik 'sea bass' adalah bahwa edukasi pangan sebaiknya menggunakan bahasa yang dipahami masyarakat, bukan memaksakan label yang terasa asing.
"Tidak ada ikan bernama sea bass di Inggris. Kami hanya punya bass. Dan menyarankannya sebagai pengganti cod itu menghina—bass jauh lebih enak, tapi tidak cocok untuk digoreng tepung," tulis Michael Heaton dalam suratnya.
Bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan hayati laut luar biasa, perdebatan ini relevan. Kampanye konservasi sering mendorong konsumen beralih dari ikan yang stoknya menipis ke spesies alternatif. Namun, tanpa pemahaman konteks lokal—mulai dari nama, cara masak, hingga ketersediaan pasar—rekomendasi tersebut bisa gagal diadopsi. Di sisi lain, nostalgia Hoare tentang herring mengingatkan bahwa diversifikasi pangan laut bukan hanya soal menjaga stok, tetapi juga melestarikan tradisi kuliner dan kearifan lokal. Jika penjaja ikan di Inggris tak lagi menjual herring, bukan tidak mungkin generasi mendatang kehilangan pengetahuan tentang cara mengolah ikan murah menjadi hidangan lezat.
Ke depan, organisasi lingkungan dan regulator pangan perlu merancang kampanye yang lebih peka budaya. Alih-alih memaksakan istilah asing atau menyarankan pengganti yang tidak sesuai selera lokal, pendekatan yang berhasil mungkin adalah menghidupkan kembali spesies yang terlupakan seperti herring, lengkap dengan resep dan kisah di baliknya. Pertanyaannya, akankah konsumen Inggris—atau Indonesia—kembali melirik ikan-ikan yang dulu akrab di meja makan, atau justru semakin terpaku pada segelintir spesies populer yang stoknya semakin terbatas?



