Dari Perburuan Bulu hingga Lahan Kering: Kisah Pemulihan Kuntul Besar di Rawa Ouse
Baca dalam 60 detik
- Kuntul besar (great egret) yang pernah nyaris punah akibat perdagangan bulu era Victoria kini berkembang pesat di Inggris, dengan 24 pasang bersarang pada 2019 dan populasi musim dingin yang berpotensi mencapai ribuan ekor.
- Lahan pertanian marjinal di Ouse Fen, Cambridgeshire, bertransformasi menjadi lahan basah seluas 3.000 hektare berkat kemitraan antara perusahaan tambang kerikil dan RSPB, meski kekeringan musim panas lalu sempat mengubah bentang alamnya.
- Kehadiran kuntul besar di tengah lahan kering justru menyiratkan tekanan iklim, sementara temuan arkeologis menunjukkan rawa ini pernah dihuni berang-berang dan pelikan Dalmatian—menandakan potensi ekologis jangka panjang yang belum sepenuhnya tergali.

Di Ouse Fen, Cambridgeshire, sebanyak 13 kuntul besar (great egret) terlihat berburu di antara ilalang yang hangus akibat musim panas kering dan terik. Pemandangan itu kontras dengan habitat alami burung air tersebut, namun justru menjadi penanda bahwa spesies yang pernah berada di ambang kepunahan kini tengah pulih dan memperluas wilayah jelajahnya hingga ke Inggris.
Kuntul besar, yang ukurannya sebanding dengan cangak abu-abu namun berbulu putih bersih dengan mata kuning lemon dan paruh runcing berwarna oranye pucat, semestinya lebih akrab dengan rawa air tawar dan perburuan ikan. Namun, di lahan yang gersang itu, mereka tampak beradaptasi dengan memangsa tikus tanah (vole). Kelenturan perilaku ini menjadi sinyal bahwa tekanan lingkungan—termasuk krisis iklim—telah mendorong perluasan relung ekologis burung tersebut.
Sejarah kelam spesies ini bermula dari perdagangan bulu pada era Victoria untuk kebutuhan haute couture, yang nyaris memusnahkannya. Setelah puluhan tahun pemulihan, kuntul besar mulai bersarang di Inggris pada 2010, dan pada 2019 tercatat 24 pasang bersarang. Populasi musim dinginnya bahkan diperkirakan dapat menembus angka empat digit, menandakan keberhasilan konservasi yang jarang terjadi.
Transformasi Ouse Fen bukan sekadar kisah pemulihan satwa. Kawasan dataran banjir itu dulunya merupakan lahan pertanian bernilai rendah, lalu dikonversi secara bertahap melalui kemitraan inovatif antara industri tambang kerikil dan Royal Society for the Protection of Birds (RSPB). Kini, lahan tersebut menjadi salah satu lahan basah paling dinamis di Inggris, dengan luas total mencapai 3.000 hektare. Ekosistemnya telah dihuni oleh berbagai spesies seperti tikus air, bittern, spined loach, dan marsh harrier.
Yang menarik, penggalian arkeologis di situs tersebut mengungkap bahwa material tulang paling melimpah dari periode Neolitikum adalah sisa-sisa berang-berang dan pelikan Dalmatian. Temuan ini mengindikasikan bahwa rawa Ouse Fen pernah menjadi rumah bagi fauna yang jauh lebih beragam, sekaligus menantang kita untuk membayangkan seperti apa wajah ekologis kawasan ini di masa depan.
“Kuntul besar yang berburu di lahan mati mungkin tampak sebagai berita baik, tetapi kisah Ouse Fen lebih menakjubkan lagi: kolaborasi antara bisnis dan konservasi telah mengubah lanskap pertanian menjadi ekosistem yang hidup,” demikian inti laporan Country Diary Guardian.
Bagi Indonesia, kisah Ouse Fen memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana kemitraan lintas sektor—antara industri ekstraktif dan organisasi lingkungan—dapat merehabilitasi lahan terdegradasi menjadi aset ekologis. Di tengah tekanan alih fungsi lahan dan krisis iklim, model kolaboratif semacam ini relevan untuk diterapkan pada restorasi lahan gambut atau mangrove di dalam negeri, dengan catatan pengawasan ketat agar tidak menjadi sekadar pencitraan.
Ke depan, pemantauan berkelanjutan perlu dilakukan untuk memastikan populasi kuntul besar tidak tertekan oleh perubahan iklim yang kian ekstrem. Pertanyaannya, akankah Ouse Fen menjadi cetak biru restorasi lahan basah di berbagai belahan dunia, atau justru menjadi contoh terakhir sebelum tekanan pembangunan kembali menggerus ruang hidup satwa?



