Stuttgart Tahan Imbang Atlético 1-1, Peluang Lolos Fase Gugur Terbuka
Baca dalam 60 detik
- VfB Stuttgart bermain imbang 1-1 melawan Atlético Madrid di matchday ketiga Liga Champions, dengan gol Jamie Leweling dan Julián Álvarez.
- Atlético harus bermain dengan 10 orang setelah Morten Hjulmand mendapat kartu merah langsung pada menit ke-64, namun Stuttgart gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain.
- Hasil ini membuat Stuttgart mengoleksi 7 poin dari tiga laga dan memperkuat posisi mereka di zona playoff, sementara Atlético tertahan di papan tengah.

VfB Stuttgart harus puas berbagi angka dengan Atlético Madrid setelah bermain imbang 1-1 dalam laga matchday ketiga Liga Champions di Stadion Neckarstadion, Rabu (22/10/2025) dini hari WIB. Hasil ini membuat Stuttgart mengoleksi tujuh poin dari tiga pertandingan, sementara Atlético tertahan dengan empat poin dan berada di posisi yang belum aman untuk melaju ke babak berikutnya.
Stuttgart memulai pertandingan dengan agresif. Tekanan tinggi yang diterapkan tuan rumah membuat kiper Atlético, Jan Oblak, harus bekerja keras sejak menit awal. Peluang demi peluang tercipta melalui Bilal El Khannouss dan Joshua Vagnoman, namun penyelesaian akhir yang kurang tenang membuat skor tetap imbang. Keberhasilan Stuttgart memecah kebuntuan datang pada menit ke-36 melalui aksi Jamie Leweling, yang memanfaatkan kesalahan Marc Pubill di dekat kotak penalti sendiri. Leweling melepaskan tembakan rendah ke sudut bawah gawang dan membawa Stuttgart unggul 1-0 hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, pelatih Atlético Diego Simeone memasukkan Ademola Lookman untuk menggantikan Jonathan David. Perubahan itu langsung berdampak. Pada menit ke-47, Lookman mengirim umpan silang rendah dari sisi kiri yang diselesaikan dengan mudah oleh Julián Álvarez dari jarak dekat. Skor menjadi 1-1 dan pertandingan kembali terbuka.
Namun, drama terjadi pada menit ke-64. Gelandang Atlético Morten Hjulmand diusir wasit setelah melakukan pelanggaran keras dengan telapak kaki terbuka terhadap Angelo Stiller di tengah lapangan. Kartu merah langsung membuat Atlético harus bermain dengan sepuluh pemain selama sisa pertandingan. Stuttgart pun meningkatkan intensitas serangan. Grischa Prömel menyundul bola melebar, Jeff Chabot nyaris mencetak gol dari situasi bola mati, dan Prömel kembali memaksa Oblak melakukan penyelamatan. Meski mendominasi penguasaan bola dan menciptakan beberapa peluang emas, termasuk sundulan Dženan Pejčinović di masa injury time, Stuttgart tidak mampu menambah gol. Skor 1-1 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.
Bagi Stuttgart, hasil ini memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka di Liga Champions musim ini. Tim asuhan Sebastian Hoeneß menunjukkan kualitas sebagai tim yang sulit dikalahkan, terutama di kandang. Meski demikian, kegagalan memanfaatkan keunggulan jumlah pemain menjadi catatan tersendiri. Peluang emas untuk meraih tiga poin penuh terbuang sia-sia. Di sisi lain, Atlético patut bersyukur bisa pulang dengan satu poin setelah bermain dengan sepuluh orang selama lebih dari setengah jam. Pertahanan solid yang dipimpin Oblak menjadi kunci keberhasilan mereka menahan gempuran tuan rumah.
Konteks Indonesia: Pertandingan ini tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sepak bola Indonesia. Namun, bagi penggemar sepak bola Tanah Air, duel Stuttgart vs Atlético bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya efisiensi dalam memanfaatkan peluang, terutama saat lawan bermain dengan sepuluh orang. Timnas Indonesia di bawah asuhan Patrick Kluivert diharapkan mampu menunjukkan mentalitas serupa ketika menghadapi situasi menguntungkan di laga internasional mendatang.
Ke depan, Stuttgart akan menghadapi ujian berat dengan bertandang ke markas Galatasaray pada 3 November mendatang. Laga tersebut akan menjadi penentu apakah Stuttgart bisa mempertahankan posisi di zona playoff atau bahkan melaju lebih jauh. Sementara itu, Atlético harus segera bangkit dan meraih kemenangan di pertandingan berikutnya untuk menjaga asa lolos ke babak gugur. Akankah Stuttgart mampu melanjutkan performa impresifnya di Liga Champions, atau justru terhenti di tengah jalan?



