PSS Sleman Pilih 'Kemah' di Surabaya: Strategi Huistra demi Poin di Kediri
Baca dalam 60 detik
- Pieter Huistra memastikan seluruh pemain PSS Sleman dalam kondisi siap tempur menghadapi Persik Kediri pada pekan keenam BRI Super League 2026/2027.
- Tim memutuskan tidak pulang ke Sleman setelah imbang 2-2 lawan Persebaya, memilih berlatih dan memulihkan diri di Surabaya guna memangkas waktu perjalanan.
- PSS yang masih tertahan di peringkat ke-15 dengan empat poin menjadikan laga di Stadion Brawijaya sebagai peluang bangkit dari keterpurukan.

PSS Sleman memilih akal sehat ketimbang rutinitas. Alih-alih pulang ke Sleman setelah menahan imbang Persebaya Surabaya 2-2 di Stadion Gelora Bung Tomo, Minggu (18/10/2026), skuad Super Elang Jawa langsung berkemah di Kota Pahlawan. Keputusan itu diambil untuk memangkas waktu perjalanan yang melelahkan sebelum melakoni laga pekan keenam BRI Super League 2026/2027 melawan Persik Kediri di Stadion Brawijaya, Kamis (22/10/2026) pukul 15.30 WIB.
Pelatih PSS, Pieter Huistra, mengungkapkan bahwa opsi pulang ke Sleman sejatinya tersedia. Namun, perjalanan darat lima hingga enam jam ke arah barat, lalu harus kembali menempuh empat jam ke Kediri keesokan harinya, dinilai tidak efisien. "Kami memutuskan bahwa lebih profesional untuk beristirahat di Surabaya, mengadakan latihan yang baik di Surabaya," ujar Huistra di Surabaya, Selasa (20/10/2026).
Keputusan ini bukan sekadar soal logistik. Dalam sepak bola modern yang padat jadwal, manajemen pemulihan menjadi kunci. Huistra menilai bahwa dengan tetap tinggal di Surabaya, para pemain mendapatkan waktu recovery yang lebih panjang dan persiapan taktis yang lebih matang. Ia bahkan memastikan tidak akan mengubah komposisi skuad. "Saat ini tidak ada alasan untuk mengubahnya. Jadi, kami mungkin akan pergi dengan 23 pemain yang sama ke Kediri," tegasnya.
Keputusan untuk "nginap" di Surabaya juga mencerminkan upaya PSS mengelola beban fisik pemain di tengah jadwal yang ketat. Dengan tidak pulang ke Sleman, waktu istirahat pemain bertambah signifikan. Huistra menyebut bahwa pemulihan yang lebih cepat akan berdampak langsung pada kualitas permainan saat melawan Persik nanti. "Untuk pemulihan yang lebih cepat dan persiapan yang lebih baik, kami memutuskan untuk tetap tinggal di Surabaya," jelas pelatih asal Belanda tersebut.
Namun, di balik strategi tersebut, PSS masih menyimpan pekerjaan rumah besar. Hasil seri melawan Persebaya belum mengangkat posisi mereka dari papan bawah. Dari lima pertandingan yang sudah dijalani, Cleberson Souza dkk. baru mengumpulkan empat poin. Kemenangan baru sekali diraih, sisanya satu imbang dan tiga kekalahan. Posisi ke-15 menjadi alarm bahwa konsistensi masih menjadi momok.
Menghadapi Persik Kediri, yang dikenal sebagai tuan rumah tangguh, PSS dihadapkan pada tuntutan untuk segera bangkit. Laga ini menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki posisi di klasemen sekaligus membuktikan bahwa keputusan taktis Huistra berbuah manis. Jika gagal, tekanan terhadap tim pelatih dan manajemen dipastikan meningkat.
Pertanyaannya, apakah strategi "kemah" di Surabaya ini akan menjadi titik balik PSS, atau justru menambah beban psikologis karena jauh dari markas sendiri? Jawabannya akan terlihat di Stadion Brawijaya. Yang jelas, Huistra telah menunjukkan bahwa ia tidak ragu mengambil langkah tidak lazim demi hasil maksimal.



