Bortoleto Tak Cemburu pada Podium Antonelli dan Hadjar: "Lihat Saja 20 Tahun Lagi"
Baca dalam 60 detik
- Gabriel Bortoleto menegaskan tidak terburu-buru mengejar podium meski dua rival generasinya, Kimi Antonelli dan Isack Hadjar, sudah meraihnya.
- Ia memilih bertahan di Audi dan membangun proyek jangka panjang bersama Mattia Binotto, alih-alih mencari kursi di tim papan atas.
- Bortoleto yakin dalam lima tahun bisa bersaing merebut gelar dunia bersama Audi, dengan modal pengalaman dari Max Verstappen.

Gabriel Bortoleto tidak sedang mengejar validasi instan di Formula 1. Ketika dua pembalap seangkatannya, Kimi Antonelli dan Isack Hadjar, sudah mencicipi podium, pembalap Brasil berusia 22 tahun itu justru memilih menekuni peran yang kurang bergengsi: membantu Audi membangun fondasi tim yang kompetitif. Baginya, kesuksesan bukan soal siapa yang lebih dulu bersinar, melainkan siapa yang bertahan paling lama.
Antonelli dan Hadjar adalah rival yang akrab bagi Bortoleto sejak kategori junior. Keduanya kini mendapat sorotan karena performa impresif bersama tim papan atas, sementara Bortoleto harus puas berjuang di papan tengah. Audi, yang mengambil alih operasi Sauber, masih dalam tahap transisi dan belum menunjukkan tanda-tanda akan bersaing di depan dalam waktu dekat. Alih-alih mengeluh, Bortoleto memilih menerima kenyataan itu sebagai bagian dari proses.
“Mereka berdua adalah pembalap dari generasi saya yang sudah naik podium. Saya sudah melawan mereka sepanjang karier junior, dan saya tahu kemampuan saya. Tapi saya harus sabar. Setiap orang punya jalannya sendiri. Mari kita lihat di mana kami semua berada dalam 20 tahun,” ujar Bortoleto kepada Motorsport.com.
Kesabaran itu bukan tanpa alasan. Bortoleto menyadari bahwa tim yang ia bela tidak memiliki ambisi untuk stagnasi. Audi, menurutnya, memiliki rencana jangka panjang yang jelas dan terus meningkat setiap tahun. Ia pun tidak melihat tim asal Jerman itu sebagai batu loncatan untuk pindah ke tim yang lebih mapan. Sebaliknya, ia ingin menjadi bagian dari proyek tersebut ketika Audi benar-benar menjadi tim pemenang.
Perjalanan Bortoleto menuju F1 tidaklah mulus. Ia mengaku tidak pernah menyiapkan rencana cadangan. Ketika orang-orang di sekitarnya mencoba memberi peringatan bahwa kursi F1 sangat terbatas, ia menolak mendengarkan. “Bahkan jika saya menang F3 dan F2, apa yang akan saya lakukan jika tidak ada kesempatan? Saya tidak bisa menerima pikiran itu. Jangan katakan itu kepada saya,” kenangnya.
Kegigihan itu terbayar. Momen krusial terjadi di Monza 2024, ketika ia terjebak di kerikil pada sesi kualifikasi dan harus start dari belakang, sementara Hadjar start ketiga. Bortoleto mengira peluang juara sudah tertutup. Namun, ia mampu bangkit dan memenangi balapan, sebuah hasil yang ia sebut sebagai salah satu yang paling emosional dalam kariernya. Kemenangan itu juga menjadi sinyal bahwa ia layak mendapat kursi F1.
Kepastian bergabung dengan Audi untuk musim 2025 datang tak lama kemudian. Bortoleto sempat tidak percaya ketika manajernya menelepon. “Saya pikir untuk 2026, ternyata untuk 2025. Saya langsung video call keluarga di Brasil. Ibu saya menangis, adik saya sangat bersemangat, ayah saya tidak bisa berkata apa-apa,” ujarnya.
Di balik kesuksesan itu, Bortoleto menyimpan rasa hormat besar pada pengorbanan orang tuanya. Keluarganya tidak memiliki latar belakang balap, dan ayahnya harus bekerja di industri telekomunikasi sambil mendukung karier balapnya. “Itu adalah hasil kerja 20 tahun. Saya tahu berapa banyak hari ayah saya tidak di rumah, berapa banyak balapan yang tidak bisa ia tonton karena harus bekerja,” katanya.
Soal uang, Bortoleto punya pandangan yang tidak biasa untuk pembalap F1. Ia mengaku tidak peduli dengan penghasilan pembalap lain. “Yang penting bagi saya adalah memiliki mobil yang kompetitif dan proyek yang bagus. Uang akan datang sebagai konsekuensi. Jika Anda juara, Anda tidak akan kekurangan uang. Jika Anda menang balapan, hal terakhir yang perlu Anda khawatirkan adalah berapa banyak uang yang Anda hasilkan,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya berbagi rezeki: “Jika Anda menghasilkan banyak uang dan tidak membantu orang di sekitar Anda, Anda tidak pantas mendapatkannya.”
Untuk mengusir kepenatan, Bortoleto kerap bermain gim balap virtual. Di sanalah ia sering berbincang dengan Max Verstappen, sahabat sekaligus juara dunia empat kali. Bortoleto tidak hanya bertanya soal teknik mengemudi, tetapi juga tentang bagaimana Verstappen mengalami masa-masa sulit di Red Bull sebelum akhirnya mendominasi. “Saya sering bertanya bagaimana perasaannya, bagaimana tim bekerja, apa yang ia lakukan sebelum meraih gelar,” ujarnya.
Selain Verstappen, Bortoleto juga banyak belajar dari Mattia Binotto, yang kini memimpin proyek F1 Audi. Binotto pernah merasakan kejayaan Ferrari dan kini membangun tim dari nol. “Saya sering meminta bantuannya karena ia sangat berpengalaman dan memahami apa yang saya alami. Ia sudah menjadi bagian dari tim pemenang, dan sekarang ia ingin membangun tim pemenang. Ia banyak membantu saya,” kata Bortoleto. Hubungan mereka pun berkembang layaknya mentor dan teman, bukan sekadar atasan dan bawahan.
Dengan segala dinamika itu, Bortoleto menolak untuk terburu-buruk menilai kariernya. Ia percaya bahwa tatanan kompetisi F1 bisa berubah cepat. “Saat ini Hadjar dan Kimi memang lebih dekat ke tujuan akhir, yaitu gelar juara dunia. Tapi semuanya bisa berubah dalam setahun. Saya hanya harus terus melakukan yang terbaik,” ujarnya.
Ke depan, Bortoleto berharap bisa membalas kepercayaan Audi dengan gelar juara dunia. “Semoga dalam lima tahun saya sudah memenangi kejuaraan dunia, tentu saja bersama Audi,” tutupnya. Pernyataan itu bukan sekadar angan-angan, melainkan cerminan keyakinan bahwa jalan panjang yang ia tempuh bersama tim yang sedang berkembang akan berbuah manis.



