Stuttgart Vs Atlético: Modal Kepercayaan Diri dan Kedalaman Skuad Menuju Duel Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- VfB Stuttgart mengantongi dua kemenangan beruntun di Liga Champions, termasuk menghajar Slovan Bratislava 3-0, dan kini bersiap menjamu Atlético Madrid di MHP Arena, Rabu dini hari WIB.
- Kedalaman lini depan menjadi senjata utama Stuttgart: Ermedin Demirović yang masuk dari bangku cadangan mencetak gol keempatnya di Liga Champions dan menyamai posisi teratas daftar top skor sementara.
- Rekor enam kemenangan dari tujuh laga terakhir di fase liga Eropa menunjukkan Stuttgart kini lebih matang bersaing di level elit, meski Atlético tetap lawan yang punya pengalaman Eropa lebih mumpuni.

VfB Stuttgart akan menjamu Atlético Madrid dalam lanjutan Liga Champions di MHP Arena, Rabu (2/10/2025) dini hari WIB, dengan modal kepercayaan diri yang sedang meninggi. Kemenangan 3-0 atas Slovan Bratislava pada matchday kedua membuat Die Schwaben mengoleksi dua kemenangan dari dua pertandingan, sekaligus menandakan kebangkitan lini serang mereka di panggung Eropa.
Kemenangan di Bratislava mungkin tidak menyuguhkan permainan paling memukau, tetapi ada sinyal penting yang patut dicermati: pelatih Stuttgart kini punya banyak opsi di lini depan. Deniz Undav, Dženan Pejčinović, Chris Führich, dan Bilal El Khannouss diturunkan sejak awal, sementara Jamie Leweling dan Ermedin Demirović masuk dari bangku cadangan dan langsung memberi dampak. Leweling merepotkan pertahanan lawan di sayap kanan dan kombinasinya dengan Lorenz Assignon berbuah assist untuk gol Demirović di menit-menit akhir.
Gol tersebut menjadi yang keempat bagi Demirović di Liga Champions musim ini, menempatkannya sejajar di puncak daftar top skor sementara. Fleksibilitas menjadi kata kunci: El Khannouss mampu bertukar sisi, Undav bisa beroperasi di belakang striker, dan Stuttgart masih menunggu kembalinya Nikolas Nartey serta Tiago Tomás yang absen karena cedera. Kedalaman inilah yang membuat Stuttgart lebih tahan banting menghadapi jadwal padat.
Perubahan performa Stuttgart di Eropa memang mencolok. Musim lalu, mereka hanya menang tiga kali dari delapan laga fase liga dan terpuruk di posisi 26. Namun, hasil positif di matchday keenam dan ketujuh memberi indikasi bahwa tim asuhan Sebastian Hoeneß mulai nyaman bersaing di level elit. Ditambah lagi, kampanye Europa League musim lalu terbilang solid. Kini, Stuttgart sedang menikmati rentetan enam kemenangan dari tujuh pertandingan fase liga Eropa, dan empat kemenangan dari lima laga terakhir di kompetisi klub paling bergengsi Benua Biru.
Peningkatan kedalaman skuad menjadi faktor utama. Kehadiran pemain seperti Angelo Stiller, Undav, dan El Khannouss memberi Stuttgart kualitas yang biasa tampil di level tertinggi. Undav, yang sempat kesulitan mencetak gol di awal musim, akhirnya membuka rekening golnya saat melawan Slovan. Gol itu diharapkan menjadi pemicu kebangkitan sang kapten sebagai tokoh sentral serangan Stuttgart.
"Dengan kedalaman skuad yang dimiliki, Stuttgart kini lebih mampu bersaing di beberapa kompetisi sekaligus," demikian penilaian yang dilontarkan pengamat Bundesliga, menggarisbawahi pentingnya rotasi pemain di tengah jadwal ketat.
Faktor lain yang tak bisa diabaikan adalah atmosfer MHP Arena. Pada malam-malam Eropa, pendukung Stuttgart dikenal mampu menciptakan tekanan psikologis bagi tim tamu. Atlético Madrid, meski punya segudang pengalaman di kompetisi ini, akan menghadapi ujian mental ketika memasuki terowongan menuju lapangan. Riuh suporter bisa menjadi pemain ke-12 bagi Die Schwaben.
Meski demikian, Atlético bukan lawan sembarangan. Tim asuhan Diego Simeone punya rekam jejak panjang di Liga Champions dan dikenal sulit dikalahkan. Stuttgart perlu mewaspadai serangan balik cepat Los Colchoneros yang sering memanfaatkan kelengahan lawan. Kemenangan atas Slovan memang modal berharga, tetapi menghadapi Atlético akan menjadi ujian sesungguhnya bagi konsistensi Stuttgart di Eropa.
Pertanyaannya, mampukah Stuttgart memanfaatkan momentum dan dukungan publik sendiri untuk menaklukkan salah satu raksasa Spanyol? Jawabannya akan terlihat di atas lapangan, tetapi satu hal yang pasti: Die Schwaben tidak lagi sekadar peserta pelengkap di Liga Champions musim ini.



