Colapinto Buka Suara: Serangan Fans Argentina ke Rival Justru Merusak Masa Depannya
Baca dalam 60 detik
- Franco Colapinto secara terbuka meminta pendukungnya di Argentina menghentikan ujaran kebencian yang menyasar steward FIA, Pierre Gasly, hingga Lando Norris.
- Tekanan dari basis penggemar ekstrem ini memaksa Alpine mengeluarkan pernyataan resmi berulang kali, menandakan masalah disiplin penggemar yang kian mengganggu performa tim.
- Dengan kontrak 2027 yang sudah diamankan, Colapinto menyadari bahwa citra negatif di dunia maya bisa mengancam kariernya di F1, bukan hanya hubungan dengan rekan setim.

Pembalap muda Alpine, Franco Colapinto, akhirnya angkat bicara secara tegas. Ia meminta para penggemarnya di Argentina untuk berhenti melontarkan komentar kebencian di media sosial yang menyasar steward FIA, pembalap lain, hingga anggota timnya sendiri. Permintaan ini muncul setelah serangkaian insiden pasca-balapan di Zandvoort, Madrid, dan Baku yang membuat nama Colapinto terseret dalam kontroversi perilaku penggemar.
Selama ini, Colapinto dikenal enggan menanggapi terlalu jauh soal ulah basis pendukungnya. Namun, setelah insiden tabrakan beruntun di Tikungan 1 Sirkuit Baku beberapa waktu lalu, ia mulai menyadari bahwa situasi perlu ditangani lebih serius. Dalam sebuah video berbahasa Spanyol yang diunggah di Instagram pada Kamis, pembalap berusia 23 tahun itu menyatakan bahwa sebagian pendukungnya telah melampaui batas dan justru merugikan dirinya.
“Saya tahu kalian merasa sedang membela saya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kalian tidak membantu saya atau masa depan saya,” ujar Colapinto dalam pernyataannya, seperti dikutip Motorsport.com. Ia menegaskan bahwa serangan verbal yang ditujukan kepada rekan setim, mekanik, dan insinyur—orang-orang yang bekerja bersamanya setiap hari—sama sekali tidak mencerminkan dukungan yang ia butuhkan.
Sejak awal musim 2026, Alpine memang kerap mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengecam perilaku penggemar yang melampaui batas. Tim asal Prancis itu tampaknya semakin kewalahan menghadapi gelombang komentar negatif yang terus muncul setiap kali Colapinto terlibat insiden di lintasan. Sebelumnya, Colapinto sempat menyebut bahwa masalah ini tidak hanya berasal dari penggemar Argentina, melainkan juga dari basis pendukung lain di seluruh dunia. Namun, ia mengakui bahwa pendukungnya di Argentina merupakan salah satu yang paling vokal.
“Saya sangat berterima kasih atas dukungan yang diberikan, tetapi terkadang kita melangkah terlalu jauh. Alih-alih mendukung saya, kita malah mengkritik dan menyerang orang lain—pembalap lain, rekan kerja, mekanik, insinyur. Itu tidak membantu saya atau masa depan saya.”
Pernyataan Colapinto ini menjadi yang paling keras sepanjang kariernya di F1. Ia tidak hanya berbicara tentang dampak psikologis yang dialami korban, tetapi juga menyoroti bagaimana citra negatif tersebut dapat memengaruhi prospek kariernya di masa depan. Meski kontraknya untuk 2027 sudah aman, reputasi sebagai pembalap yang dikelilingi penggemar toxic bisa menjadi beban tersendiri, terutama dalam negosiasi sponsorship dan hubungan dengan tim.
Dalam konteks yang lebih luas, kasus Colapinto mencerminkan tantangan yang dihadapi dunia olahraga modern: bagaimana mengelola basis penggemar yang fanatik tanpa mengorbankan sportivitas. F1 sebagai ajang global semakin sering menghadapi masalah serupa, dengan pembalap seperti Lando Norris dan Lewis Hamilton juga menjadi sasaran ujaran kebencian daring. Langkah Colapinto untuk berbicara terbuka patut diapresiasi, tetapi efektivitasnya masih perlu dibuktikan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah imbauan ini akan benar-benar mengubah perilaku penggemar, atau justru memicu reaksi balik. Yang jelas, Colapinto telah memilih untuk tidak tinggal diam. Ia sadar bahwa masa depannya di F1 tidak hanya ditentukan oleh performa di lintasan, tetapi juga oleh bagaimana ia mengelola tekanan dari luar—termasuk dari mereka yang mengaku sebagai pendukungnya.



