Mercedes Ungkap Alasan Kembalikan Russell ke Spesifikasi Lama di Singapura
Baca dalam 60 detik
- Mercedes memilih spesifikasi terpisah untuk Russell di Singapura guna menguji paket upgrade yang hasilnya tidak sesuai prediksi di Malaysia.
- Batas biaya menjadi faktor pendorong efisiensi pengujian, sementara kondisi sirkuit Sepang yang ekstrem membuat data sulit dibandingkan.
- Hasil uji coba menjadi investasi untuk pengembangan mobil 2026, dengan target tampil lebih kompetitif di Austin.

Mercedes mengambil keputusan tak biasa pada Grand Prix Singapura dengan mengembalikan mobil George Russell ke spesifikasi lama yang pernah membawanya menang di Baku. Langkah ini diambil setelah tim asal Jerman itu gagal memahami mengapa paket peningkatan performa yang diperkenalkan di Malaysia tidak memberikan hasil sesuai simulasi. Keputusan tersebut menjadi cerminan betapa kompleksnya pengembangan mobil Formula 1 di bawah tekanan batas biaya dan regulasi ketat.
Wakil Prinsipal Tim Bradley Lord menjelaskan bahwa eksperimen dua spesifikasi berbeda di Marina Bay merupakan cara tercepat dan paling hemat untuk mempelajari perilaku mobil di dunia nyata. “Batas biaya menjadi salah satu alasan kami menjalankan uji coba bolak-balik di Singapura,” ujarnya dalam acara radio tim. Meski akhir pekan sprint bukan kondisi ideal untuk pengujian, Mercedes tetap memanfaatkannya karena hanya dengan cara itu mereka bisa membandingkan langsung antara komponen lama dan baru.
Wakil Direktur Teknis Simone Resta menambahkan bahwa sirkuit Sepang memiliki karakter unik yang membuat data dari balapan di Malaysia sulit untuk digeneralisasi. “Tarmac-nya sangat berbeda, cuaca bisa berubah cepat, suhu udara tinggi, dan degradasi ban sangat besar,” jelasnya. Menurut Resta, kondisi ekstrem tersebut membuat Mercedes ragu apakah peningkatan yang terukur di lintasan akan tereplikasi di sirkuit lain. “Kami meninggalkan Malaysia dengan keyakinan bahwa kami kompetitif, tetapi mungkin tidak melihat lompatan performa yang diharapkan dalam kondisi tersebut,” imbuhnya.
Keraguan itu mendorong tim untuk segera melakukan pengujian pada balapan berikutnya. “Cara terbaik menjawab keraguan adalah dengan tes, dan lakukan secepat mungkin,” kata Resta. Russell pun menyatakan kesediaannya untuk menjalani pengujian dengan spesifikasi lama, sebuah sikap yang diapresiasi tim. “George selalu menjadi pemain tim yang hebat,” puji Resta.
“Kami mengukur downforce tambahan seperti yang diharapkan, tetapi downforce itu tidak tersalurkan secara konsisten di seluruh area mobil, sehingga memengaruhi keseimbangan dan membuat bagian depan terasa lebih kuat dari perkiraan,” ujar Resta.
Mercedes juga menyempatkan diri menguji sayap depan baru pada sesi latihan bebas pertama di Singapura. Sayap itu hanya tersedia satu unit sehingga tim memilih tidak memakainya di kualifikasi atau balapan demi menghindari risiko kerusakan. “Kami mempercepat produksi, tetapi dengan hanya satu contoh, risikonya terlalu besar jika terjadi insiden,” kata Lord. Meski demikian, data dari uji sayap tersebut dianggap berharga untuk persiapan ke Austin, di mana kedua mobil akan memakai spesifikasi terbaru dan sayap depan baru.
Bagi Mercedes, langkah di Singapura bukan sekadar upaya jangka pendek, melainkan investasi untuk masa depan. “Kami ingin belajar secepat mungkin untuk jangka pendek dan menengah,” tegas Resta. “Kami mengumpulkan data, memahaminya, lalu melakukan simulasi dan move on.” Lord menambahkan bahwa pembelajaran dari sesi latihan bebas akan membantu tim memaksimalkan potensi performa puncak mobil di sirkuit yang menuntut seperti Austin.
Keputusan Mercedes ini menyoroti dilema yang dihadapi semua tim di era batas biaya: bagaimana menyeimbangkan antara pengembangan agresif dan efisiensi sumber daya. Dengan regulasi teknis yang stabil hingga 2026, setiap data yang dikumpulkan dari eksperimen semacam ini menjadi aset berharga. Apakah pendekatan berani Mercedes akan berbuah manis di putaran-putaran mendatang, atau justru menjadi bumerang dalam perburuan gelar? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi langkah mereka di Singapura menunjukkan bahwa inovasi tak selalu datang dari komponen baru—kadang dari keberanian untuk kembali ke yang lama.



