Horner Desak Revisi Budget Cap F1: Tim Belanja Tiga Kali Lipat dari Batas
Baca dalam 60 detik
- Christian Horner menilai plafon anggaran F1 senilai $215 juta tak lagi mencerminkan realitas belanja tim yang disebut mencapai $500-600 juta per musim.
- Kritik Horner muncul saat Williams menyoroti ketimpangan: tim papan atas menikmati fasilitas mapan, sementara tim kecil terhambat biaya kapital.
- Wacana kenaikan budget cap berpotensi mengubah peta persaingan dan nilai waralaba tim, dengan keputusan regulasi menjadi taruhan.

Mantan bos Red Bull Racing, Christian Horner, melontarkan kritik tajam terhadap sistem plafon anggaran Formula 1 yang ia nilai sudah tidak relevan dengan kenyataan belanja tim. Dalam wawancara dengan Autosport, Horner mengklaim bahwa meski batas resmi berada di angka $215 juta per musim, sejumlah tim sebenarnya menggelontorkan dana hingga $500-600 juta per tahun. Pernyataan ini membuka kembali perdebatan tentang efektivitas budget cap yang diberlakukan sejak 2021.
Sejak diperkenalkan, plafon anggaran F1 memang dirancang untuk menekan disparitas pengeluaran antar tim. Dimulai dari $145 juta, angka itu naik bertahap menjadi $215 juta. Namun, batas tersebut tidak mencakup seluruh pos pengeluaran. Kontrak pembalap, gaji tiga eksekutif non-pembalap tertinggi, biaya perjalanan, dan belanja pemasaran berada di luar perhitungan. Selain itu, ada plafon terpisah untuk unit daya sebesar $190 juta. Alhasil, total pengeluaran riil tim tetap membubung, terutama di tengah lonjakan valuasi tim yang mencapai rekor.
Horner, yang pernah terjerat pelanggaran batas anggaran 2021 sebesar 5%—berujung denda $7 juta dan pemangkasan 10% jatah uji terowongan angin—sekarang mendesak F1 mengevaluasi ulang mekanisme tersebut. Ia menganalogikan budget cap seperti balon yang kurang udara: jika diperas di satu sisi, udara akan mencari celah di sisi lain. "Sekarang Anda melihat bayaran pembalap jauh lebih sehat daripada sebelum ada budget cap. Intinya adalah menemukan keseimbangan yang tepat," ujarnya.
Meski mengkritik, Horner mengakui budget cap telah membawa dampak positif besar. Ia mengenang era sebelum aturan itu, ketika F1 seperti "ember penuh uang yang bocor di bagian bawah"—tim berlomba menghabiskan dana secepat mungkin hingga kering, lalu mencari tambahan di luar kemampuan. Banyak tim gulung tikar akibatnya. Kini, dengan plafon anggaran, efisiensi menjadi kata kunci. Horner menyebut tumpukan suku cadang tak terpakai yang dulu menumpuk di gudang—ibarat adegan film Indiana Jones—kini jauh berkurang karena tim lebih selektif dalam memproduksi komponen.
Perubahan paling mencolok, kata Horner, adalah pergeseran peran departemen keuangan. "Tim akuntansi sekarang sama besarnya dengan kantor desain karena aturan finansial sama pentingnya dengan aturan teknis," tegasnya. Efisiensi ini pula yang membuat nilai waralaba tim melesat. Bahkan tim sekecil Haas atau Williams, yang dulu dianggap sebagai beban, kini memiliki valuasi miliaran dolar.
Namun, tidak semua tim puas. Bos Williams, James Vowles, baru-baru ini menyoroti ketimpangan dalam penerapan budget cap. Menurutnya, tim papan atas seperti Red Bull, Mercedes, dan Ferrari telah menanamkan investasi besar pada fasilitas kelas dunia sebelum aturan berlaku. Ketika plafon diberlakukan, mereka bisa mengalokasikan seluruh $215 juta untuk pengembangan mobil, sementara tim kecil seperti Williams masih harus mengeluarkan biaya kapital yang masuk dalam hitungan plafon. Akibatnya, daya saing tim non-unggulan tetap terbatas.
"Lebih banyak pos yang perlu dimasukkan ke dalam cakupan plafon. Plafon di sisi mesin, sebagai plafon menyeluruh, menurut saya ide bagus—hanya saja berapa levelnya?"
— Christian Horner, dikutip dari Autosport
Kritik Horner dan Vowles menunjukkan bahwa budget cap bukan sekadar soal angka, melainkan soal keadilan struktural. Di satu sisi, aturan ini menyelamatkan F1 dari krisis likuiditas dan menstabilkan ekosistem tim. Di sisi lain, ia menciptakan celah yang membuat tim kaya semakin kaya, sementara tim kecil berjuang dengan keterbatasan ganda: belanja kapital dan operasional. Jika F1 memutuskan menaikkan plafon, langkah itu bisa memperlebar jurang atau justru memberi ruang bagi tim kecil untuk bernapas—tergantung bagaimana pos-pos pengeluaran didefinisikan ulang.
Ke depan, desakan Horner bakal menguji keberanian F1 dan FIA merevisi regulasi finansial yang masih muda. Akankah mereka memperluas cakupan plafon, atau justru mempertahankannya demi stabilitas? Jawabannya akan menentukan apakah F1 benar-benar menjadi ajang adu inovasi, atau tetap sekadar pertarungan dompet di balik kemasan efisiensi.



