Nurisa Dian Ashrifah Cetak Sejarah Panahan Indonesia, Raih Emas Asian Games 2026 dan Bonus Rp1 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Nurisa Dian Ashrifah menyumbangkan emas pertama bagi Indonesia di cabang panahan Asian Games sepanjang sejarah keikutsertaan.
- Atas prestasi tersebut, Perpani memberikan bonus Rp1 miliar dan satu unit mobil listrik sebagai bentuk apresiasi.
- Atlet berusia 20 tahun itu menargetkan medali Olimpiade 2028 Los Angeles sebagai langkah berikutnya.

Nurisa Dian Ashrifah mengukir sejarah baru bagi olahraga panahan Indonesia dengan meraih medali emas pada Asian Games 2026 Jepang, Jumat (17/10/2026). Kemenangan di nomor Women's Individual itu menjadi emas pertama kontingen panahan Merah Putih sejak pertama kali berpartisipasi di ajang multicabang terbesar Asia tersebut.
Prestasi ini bukan sekadar tambahan koleksi medali. Panahan Indonesia selama puluhan tahun kerap absen dari podium tertinggi Asian Games, bahkan ketika berhasil menembus babak final. Emas Nurisa pun mematahkan dominasi negara-negara kuat seperti Korea Selatan, yang secara tradisional mendominasi nomor recurve dan compound. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat, Nurisa disebut melewati wakil Korea pada fase krusial—sebuah pencapaian yang dianggap sinyal kebangkitan panahan nasional.
Penghargaan atas torehan bersejarah itu diserahkan dalam acara syukuran di Beranda Kitchen, Jakarta Selatan, Jumat malam. Ketua Umum Perpani Arsjad Rasjid menyerahkan langsung bonus Rp1 miliar, sementara manajer tim panahan Indonesia Azis Armand memberikan satu unit mobil listrik. Hadir pula Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari dan Ketua Akuatik Indonesia Anindya Bakrie, menandakan dukungan lintas cabang terhadap prestasi Nurisa.
"Ini adalah momen yang patut kita syukuri. Indonesia belum pernah meraih emas di Asian Games untuk panahan, dan hari ini sejarah itu tercipta," ujar Arsjad Rasjid dalam sambutannya.
Arsjad menekankan bahwa keberhasilan Nurisa bukan hanya buah kerja keras atlet, tetapi juga doa dan dukungan dari pelatih, suporter, serta pengurus. Ia berharap momentum ini menjadi batu loncatan menuju Olimpiade 2028. "Kami berharap ke depan bisa meraih medali yang lebih baik lagi di Olimpiade," tambahnya.
Bagi Nurisa, bonus tersebut menjadi motivasi tambahan. Atlet yang akrab disapa Hani itu mengaku bersyukur atas apresiasi yang diberikan. "Terima kasih kepada Pak Arsjad, Pak Azis, dan Pak Iman. Ini pengalaman pertama saya di Asian Games dan langsung mendapat emas," tuturnya.
Perempuan berusia 20 tahun itu tidak menyembunyikan ambisinya untuk tampil di Olimpiade 2028 Los Angeles. "Sejak dulu saya ingin sekali ikut Olimpiade. Jika bisa meraih medali di sana, itu akan menjadi hadiah yang sangat istimewa," ujarnya.
Prestasi Nurisa juga menjadi angin segar bagi ekosistem olahraga nasional. Panahan, yang sering kali kurang mendapat sorotan dibanding cabang populer seperti bulu tangkis atau sepak bola, kini memiliki wajah baru yang berpotensi menarik minat generasi muda. Bonus berupa mobil listrik pun mencerminkan arah dukungan yang semakin modern dan ramah lingkungan.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi. Asian Games 2026 masih menyisakan beberapa nomor, dan Nurisa diharapkan dapat menambah pundi medali. Namun, yang tak kalah penting adalah bagaimana Perpani dan pemerintah membangun sistem pembinaan berkelanjutan agar prestasi ini tidak berhenti di satu titik. Olimpiade 2028 akan menjadi ujian sesungguhnya: apakah emas Asian Games ini menjadi awal kebangkitan, atau hanya kilasan sesaat?



