Binance Tutup Pool Bitcoin, 9,2 EH/s Menanti Arah Baru
Baca dalam 60 detik
- Binance menghentikan layanan Binance Pool per 10 November 2026, memaksa penambang mengalihkan perangkat dalam waktu sekitar empat minggu.
- Kapasitas komputasi pool itu merosot sekitar 65% dari 26 EH/s pada Desember menjadi 9,2 EH/s, memicu konsolidasi ke tiga pool terbesar yang kini menguasai 64,2% jaringan.
- Penutupan ini menandai berakhirnya era ekspansi bursa kripto ke sektor penambangan dan membuka pertanyaan tentang distribusi hash rate ke depan.

Binance resmi menutup layanan penambangan bitcoin (Binance Pool) yang diluncurkan pada April 2020, dengan kapasitas komputasi yang diarahkan ke layanan tersebut turun hampir dua pertiga dari posisi akhir tahun lalu. Keputusan ini diumumkan bursa kripto terbesar dunia itu sebagai bagian dari peninjauan produk dan layanan secara berkala, tanpa penjelasan finansial rinci.
Data Hashrate Index menunjukkan Binance Pool pernah menangani sekitar 26 exahash per detik (EH/s) atau 2,3% dari total jaringan Bitcoin pada Desember. Kini, pool tersebut hanya menyisakan sekitar 9,2 EH/s—di bawah 1% dan peringkat ke-11—setara penurunan sekitar 65%. Satu exahash per detik berarti satu triliun tebakan per detik untuk memecahkan teka-teki yang menghasilkan blok bitcoin. Pool penambangan menggabungkan tenaga dari banyak mesin agar pemiliknya menerima pembayaran rutin tanpa harus menunggu menemukan blok sendiri.
Binance menggunakan model pembayaran full pay-per-share (FPPS), di mana penambang dibayar atas kerja mereka dan pool menanggung risiko jika blok yang ditemukan lebih sedikit dari perkiraan. Penutupan ini mencakup Binance Pool, Pool Savings, Cloud Mining, akselerator transaksi, dan layanan terkait. Para penambang memiliki waktu sekitar empat minggu untuk mengalihkan mesin mereka ke penyedia lain. Setelah tenggat, Binance berhenti mengkredit saham penambangan—catatan kerja yang digunakan untuk menghitung pembayaran. Pengguna Pool Savings harus menebus posisi mereka, sementara siapa pun yang menunggu pembayaran akhir wajib menyelesaikan verifikasi identitas sebelum pukul 23.59 UTC pada hari yang sama.
Langkah ini menjadikan Binance sebagai pool besar terakhir yang gulung tikar dari gelombang ekspansi bursa kripto ke sektor penambangan. Sebelumnya, SBI Crypto menutup pool-nya pada 31 Juli setelah menyumbang sekitar 2% tenaga komputasi Bitcoin, disusul OKX yang mengakhiri layanan serupa pada Februari 2024. Poolin, yang pernah menjadi pool terbesar dengan hampir seperlima hash rate global, juga mengajukan pailit pada Juli dengan utang sekitar US$173 juta akibat dana dompet yang membeku dan proyek tambang di Texas yang mangkrak.
"Binance Pool adalah pool terakhir yang bertahan dari periode ketika bursa memperluas bisnis ke penambangan," tulis laporan Hashrate Index edisi Desember.
Penutupan pool tidak hanya soal kehilangan satu penyedia layanan. Operator pool tradisional menentukan transaksi mana yang dikonfirmasi oleh mesin yang berpartisipasi. Berkurangnya jumlah pool berarti pilihan penambang menyempit, dan hal ini memengaruhi transaksi bitcoin mana yang masuk ke dalam blok. Meski demikian, penambang dapat mengalihkan mesin mereka ke penyedia yang lebih kecil, dan saham pool tidak menentukan kepemilikan perangkat keras.
Jika seluruh kapasitas komputasi Binance yang tersisa berpindah ke tiga pool terbesar, pangsa gabungan mereka berpotensi mencapai sekitar 65%, dengan asumsi jaringan lainnya tidak berubah. Binance belum mengungkapkan ke mana para penambangnya akan mengarahkan perangkat. Konsentrasi hash rate ini memunculkan kekhawatiran lama tentang risiko sentralisasi di jaringan Bitcoin, meskipun secara teknis penambang dapat memilih pool mana pun.
Bagi Indonesia, penutupan ini bisa menjadi sinyal bagi pelaku industri kripto domestik. Meskipun pasar penambangan bitcoin dalam negeri tidak sebesar Amerika Serikat atau Tiongkok, keberadaan pool global yang lebih sedikit dapat memengaruhi pilihan penambang lokal yang selama ini mengandalkan layanan lintas negara. Regulasi aset kripto di Indonesia yang semakin ketat, termasuk kewajiban perizinan melalui Bappebti, menuntut penambang untuk lebih selektif dalam memilih mitra. Fenomena ini juga menggarisbawahi pentingnya diversifikasi layanan bagi bursa kripto agar tidak terlalu bergantung pada satu segmen yang rentan terhadap perubahan pasar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah konsolidasi pool akan berlanjut atau justru muncul pemain baru yang menawarkan model lebih terdesentralisasi. Binance sendiri belum mengisyaratkan apakah akan kembali ke bisnis penambangan dalam bentuk lain. Sementara itu, para penambang yang terdampak harus segera mengambil keputusan dalam hitungan hari. Apakah ini awal dari babak baru industri penambangan yang lebih terpusat, atau justru momentum bagi pool-pool kecil untuk bangkit? Waktu empat minggu akan menjadi ujian bagi ketahanan ekosistem penambangan global.



