Bayi 28 Hari Meninggal Usai Diduga Diberi Telur Mentah, Ini Kata Dokter
Baca dalam 60 detik
- Alena, bayi berusia 28 hari, meninggal di RSUD Dr Soetomo Surabaya setelah sebelumnya dirawat intensif karena demam.
- Kisahnya viral di media sosial setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya untuk menurunkan panas, memicu perdebatan soal praktik perawatan bayi.
- Praktik pemberian makanan selain ASI atau susu formula pada neonatus dinilai berisiko dan tidak sesuai standar medis.

Seorang bayi perempuan berusia 28 hari, Alena, meninggal dunia di RSUD Dr Soetomo Surabaya pada Minggu (11/10) setelah sempat dirawat intensif. Kabar duka ini mencuat setelah kisahnya viral di media sosial karena diduga diberi telur mentah oleh neneknya untuk menurunkan demam.
Humas RSUD Dr Soetomo, Adin Niken, membenarkan meninggalnya Alena. Menurutnya, tim medis telah berupaya maksimal memberikan penanganan sesuai standar. "Pasien bayi tersebut meninggal pukul 07.10 WIB. Usianya 28 hari," ujar Niken, Senin (12/10).
Alena mulai dirawat di RSUD Dr Soetomo sejak Jumat (9/10) dan sempat membutuhkan perawatan di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Namun, Niken enggan merinci kondisi klinis Alena maupun kaitannya dengan dugaan pemberian telur mentah, dengan alasan privasi pasien.
Informasi yang beredar di media sosial menyebutkan Alena mengalami demam sebelum diberi telur mentah oleh nenek dari pihak ayah. Telur mentah diberikan dengan alasan untuk menurunkan suhu tubuh. Kondisi Alena kemudian memburuk hingga harus dirawat di rumah sakit.
Kabar meninggalnya Alena pertama kali disampaikan oleh akun Threads @calistaarisha, bibi Alena. Akun tersebut sebelumnya membagikan perkembangan kondisi Alena dan meminta doa warganet. Dalam unggahannya, ia mengucapkan terima kasih atas dukungan dan mengapresiasi bantuan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak serta tim medis RSUD Dr Soetomo. Ia juga meminta publik menghormati privasi keluarga, terutama ibu Alena yang belum siap memberikan keterangan.
"Bayi usia 24 hari termasuk neonatus yang membutuhkan perhatian khusus. Nutrisinya harus dipenuhi melalui ASI atau susu formula, bukan makanan atau minuman lain tanpa indikasi medis," ujar dr. Ferry, dikutip dari akun Threads @dr.ferrykslg.
Praktik pemberian makanan selain ASI atau susu formula pada bayi baru lahir memang berisiko. Dokter Ferry menegaskan bahwa MPASI baru boleh diberikan saat bayi berusia sekitar enam bulan. Pemberian asupan sebelum usia tersebut harus berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan.
Kasus ini menyoroti masih kuatnya kepercayaan pada pengobatan turun-temurun di sebagian masyarakat. Kebiasaan memberikan bahan makanan atau ramuan untuk mengatasi demam pada neonatus bisa berbahaya karena sistem pencernaan dan imun bayi belum matang. Demam pada bayi baru lahir juga merupakan kondisi serius yang memerlukan evaluasi medis segera, bukan penanganan mandiri.
Kementerian Kesehatan RI secara konsisten mengampanyekan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Namun, di lapangan, praktik pemberian makanan prelaktal masih ditemui. Diperlukan edukasi yang lebih masif dan pendekatan budaya agar orang tua dan keluarga memahami risiko tersebut.
Ke depan, kasus Alena bisa menjadi momentum untuk memperkuat literasi kesehatan ibu dan anak. Peran kader posyandu, bidan, dan tenaga kesehatan komunitas sangat penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Apakah masyarakat akan lebih kritis terhadap warisan kebiasaan yang membahayakan, atau justru mengabaikannya hingga korban berikutnya jatuh?



