Aaron Sorkin Bantah The Social Reckoning Sebagai Film Politik: 'Saya Hanya Ingin Menawan Penonton'
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Aaron Sorkin menegaskan The Social Reckoning bukan kendaraan politik, melainkan tontonan yang harus memikat penonton di bioskop.
- Sekuel The Social Network itu mengangkat skandal kebocoran data Facebook 2021 oleh Frances Haugen, tetapi Sorkin menolak filmnya disebut sebagai 'PR untuk kesadaran publik'.
- Jesse Eisenberg menolak kembali memerankan Mark Zuckerberg, membuka ruang bagi wajah baru di jagat film yang mengkritik raksasa teknologi.

Setelah lebih dari satu dekade, Aaron Sorkin kembali menyoroti jagat raksasa teknologi lewat The Social Reckoning, sekuel dari The Social Network (2010). Namun, sutradara berusia 65 tahun itu menolak keras anggapan bahwa filmnya merupakan kendaraan politik atau alat propaganda. Dalam wawancara dengan The Independent, Sorkin menegaskan bahwa prioritas utamanya bukanlah menyampaikan pesan ideologis, melainkan menciptakan karya yang layak dinikmati di bioskop.
Pernyataan ini muncul ketika The Social Reckoning mengangkat peristiwa nyata kebocoran data Facebook pada 2021 yang diungkap oleh Frances Haugen, mantan karyawan yang kemudian menjadi whistleblower. Alih-alih membingkai film sebagai seruan moral, Sorkin justru menolak label tersebut. "Saya tidak punya agenda politik. Saya tidak berusaha meyakinkan Anda tentang apa pun. Saya hanya ingin menawan Anda selama durasi yang saya minta di ruang bioskop yang gelap," ujarnya.
Baginya, film yang baik harus berdiri di atas kualitas sinematik, bukan pesan sosial semata. Sorkin bahkan menyindir bahwa film tidak seharusnya terasa seperti pekerjaan rumah atau kewajiban intelektual. "Sebuah film harus bisa dinikmati sambil makan popcorn, dan tetap relevan 50 tahun dari sekarang," tambahnya. Prinsip ini sejalan dengan rekam jejaknya sebagai penulis naskah yang dikenal tajam dalam dialog, namun tetap mengutamakan daya tarik naratif.
Keputusan Jesse Eisenberg untuk tidak kembali memerankan Mark Zuckerberg menambah dimensi baru pada proyek ini. Dalam wawancaranya dengan Variety, aktor tersebut mengaku sempat berdiskusi dengan Sorkin selama beberapa hari, tetapi akhirnya memilih mundur. "Saya hanya bilang kepadanya bahwa saya sedang bergerak ke arah yang berbeda dalam hidup saya," kata Eisenberg. Ia memuji Sorkin sebagai sosok yang sangat fasih dan menawan, namun tetap pada pendiriannya.
"Sebelum sebuah film bisa relevan atau menggugah pemikiran, ia harus bagus terlebih dahulu. Bukan hanya hari ini, tetapi 50 tahun dari sekarang." โ Aaron Sorkin
Bagi industri film global, sikap Sorkin mencerminkan pergeseran menarik di tengah gelombang konten bertema teknologi dan kritik sosial. Sejumlah sineas mulai menghindari label 'film pesan' agar tidak terjebak dalam dikotomi politik praktis. Di sisi lain, penonton Indonesia yang akrab dengan platform media sosial justru dapat membaca The Social Reckoning sebagai cermin bagaimana data pribadi menjadi komoditas. Isu kebocoran data juga bukan hal asing di Tanah Air, dengan beberapa kasus besar yang sempat mencuat beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, Sorkin tidak sepenuhnya mengabaikan bobot materi. Ia mengakui bahwa cerita yang diangkat memang serius, tetapi pendekatannya tetap pada pengalaman menonton yang menghibur. "Kami tidak meminta Anda memakan sayuran. Ini bukan Homework: The Movie," kelakarnya. Dengan demikian, The Social Reckoning berpotensi menjadi tontonan arus utama yang memicu diskusi tanpa terkesan menggurui.
Ke depan, pertanyaannya adalah sejauh mana film ini akan memengaruhi cara publik memandang raksasa teknologi, terutama menjelang pemilu di berbagai negara. Jika Sorkin berhasil, ia mungkin membuktikan bahwa kritik sosial paling efektif justru disampaikan lewat cerita yang memikat, bukan ceramah. Apakah penonton akan menyambut pendekatan ini, atau justru menuntut sikap yang lebih tegas dari seorang sineas sekaliber Sorkin?



