Malware "Midnight Mimosa" Cemari Ribuan Ponsel Android Murah, Incar Pengguna di Negara Berkembang
Baca dalam 60 detik
- Bitdefender mengungkap kampanye malware bernama Midnight Mimosa yang sudah tertanam di firmware ponsel Android kelas bawah berbasis chipset MediaTek.
- Malware ini menyalahgunakan aplikasi sistem untuk menayangkan iklan penuh layar dan tersembunyi, sekaligus membuka celah bagi peretas lain.
- Puluhan ribu perangkat diperkirakan terdampak, dengan Meksiko sebagai negara paling banyak terinfeksi, sementara Indonesia berisiko tinggi karena besarnya pasar ponsel murah.

Ribuan ponsel Android murah yang dijual di pasar global ternyata telah disusupi malware sejak dari pabrik. Temuan Bitdefender ini mengungkap praktik kotor di balik rantai pasok perangkat kelas bawah yang selama ini luput dari perhatian pengguna maupun regulator.
Kampanye yang dijuluki "Midnight Mimosa" itu menargetkan perangkat dengan chipset MediaTek berdaya rendah, yang banyak dipakai pada ponsel merek Cubot, Doogee, hingga tiruan Samsung Galaxy S24, S25, dan S26. Malware ditanam langsung ke dalam firmware, bukan diinstal belakangan, sehingga pengguna tidak memiliki cara mudah untuk menghapusnya.
Menurut laporan Bitdefender, malware menyusup sebagai aplikasi bernama "System" dengan nama paket com.android.system.lite. Aplikasi ini berjalan dengan hak istimewa penuh dan secara diam-diam mengunduh serta menghapus aplikasi utilitas seperti weather dan app-lock. Aplikasi tersebut menjadi kedok untuk menampilkan iklan layar penuh maupun iklan tak terlihat, bahkan ketika pengguna tidak pernah membukanya. Kode malware dirancang untuk mengelabui pemindaian keamanan dan menyembunyikan aktivitas dari pemilik perangkat.
Yang membuat kasus ini rumit, para peneliti tidak dapat memastikan di titik mana malware masuk ke rantai pasokanโapakah di pabrik perangkat, pemasok firmware, merek perakit, atau selama pengiriman. Namun, jejak tanda tangan dalam aplikasi payload mengarah ke satu sumber: ODM asal Shenzhen, Zediel. Perusahaan itu belum memberikan tanggapan resmi atas temuan ini.
"Kami tidak dapat mengidentifikasi secara pasti di mana malware diperkenalkan dalam rantai pasokan," ujar peneliti Bitdefender, seraya menambahkan bahwa bukti mengarah pada satu sumber tunggal.
Sejarah menunjukkan masalah serupa bukan hal baru. Pada 2018, ODM asal AS, Blu, ditegur FTC karena membiarkan kontraktor firmware mengumpulkan data, pesan teks, dan log panggilan pengguna. Dua tahun sebelumnya, kontraktor firmware Ragentek menyebarkan binary updater yang bisa dibajak pihak tak berwenang melalui dua domain web tak terdaftar. Insiden itu memengaruhi jutaan ponsel dari merek Blu, Infinix, Doogee, dan Xolo.
Ancaman Midnight Mimosa tidak berhenti pada penipuan iklan. Malware memiliki kemampuan untuk memasang aplikasi di luar skema iklan, termasuk untuk bergabung dalam botnet dan serangan DDoS. Artinya, perangkat yang terinfeksi bisa disalahgunakan untuk menyerang layanan digital lain tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Bagi Indonesia, risiko ini tidak bisa diabaikan. Pasar ponsel murah di Tanah Air sangat besar, dan perangkat dari merek-merek yang disebut dalam laporan kerap dijual bebas di marketplace maupun toko fisik. Konsumen yang tergiur harga miring berpotensi menjadi sasaran empuk, terlebih karena malware sudah tertanam sejak awal sehingga tidak terdeteksi oleh pengguna awam.
Bitdefender menekankan bahwa merek besar seperti Google, Motorola, dan Samsung juga pernah memiliki celah keamanan, tetapi setidaknya mereka memiliki proses perlindungan firmware dan mekanisme respons jika terjadi masalah. Sementara itu, ponsel dari merek tak dikenal sering kali tidak memberikan jaminan serupa.
Ke depan, pertanyaannya adalah sejauh mana regulator dan pelaku industri akan menindak praktik semacam ini. Tanpa pengawasan ketat pada rantai pasokan, konsumen di negara berkembang akan terus menjadi pihak yang paling dirugikan.



