Shin Tae-yong Minta The Jakmania Tertib di Serang: Jangan Sampai Dukungan Fanatik Bikin Rugi Persija
Baca dalam 60 detik
- Shin Tae-yong mengimbau The Jakmania menjaga sikap saat Persija bertandang ke markas Persita Tangerang di Banten International Stadium, Sabtu (17/10/2026).
- Pelatih asal Korea Selatan itu menyoroti pentingnya budaya mendukung yang positif seperti yang ditunjukkan suporter saat Persija menang 4-0 atas PSIM Yogyakarta.
- Insiden perusakan bus Persib di rest area tol Batang-Semarang menjadi latar belakang imbauan agar suporter tidak hadir dengan niat menimbulkan masalah.

Pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong, meminta The Jakmania untuk menampilkan dukungan yang tertib saat timnya melakoni laga tandang melawan Persita Tangerang pada pekan kelima BRI Super League 2026/2027 di Banten International Stadium, Serang, Sabtu (17/10/2026) malam WIB. Imbauan ini muncul setelah insiden perusakan bus Persib di rest area tol Batang-Semarang yang melibatkan sejumlah oknum suporter.
Shin Tae-yong secara khusus merujuk pada pengalaman positif saat Persija bertandang ke markas PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung, Bantul, pada 10 Oktober 2026. Dalam laga itu, ribuan The Jakmania hadir dan menyaksikan kemenangan 4-0 tanpa menimbulkan gangguan berarti. "Seperti saat datang ke Jogja dan menciptakan budaya mendukung seperti itu," ujar Shin Tae-yong di sela-sela sesi latihan di Persija Training Ground, Depok, Kamis (15/10/2026) sore WIB.
Pelatih berusia 55 tahun itu berharap pola serupa terulang di Serang. Ia menekankan bahwa kehadiran suporter seharusnya menjadi energi tambahan bagi pemain, bukan beban psikologis atau risiko sanksi. "Saya berharap ketika datang ke Serang juga mendukung dengan fair play dan menikmati dukungan itu," jelasnya.
Shin Tae-yong tidak menampik bahwa loyalitas The Jakmania patut diapresiasi. Namun, ia memberi garis tegas: dukungan yang anarkis justru merugikan tim. "Kalau datang dengan tujuan menimbulkan masalah, lebih baik tidak datang," tegasnya. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa manajemen dan tim pelatih ingin memutus rantai sanksi yang kerap membayangi klub akibat ulah oknum suporter.
Dalam beberapa tahun terakhir, sepak bola Indonesia masih bergulat dengan problem suporterisme. Insiden perusakan bus, bentrokan antarkelompok, hingga pelemparan benda ke lapangan menjadi catatan hitam yang berulang. Komisi Disiplin PSSI kerap menjatuhkan denda hingga larangan bermain tanpa penonton. Dampaknya tidak hanya finansial, tetapi juga mental para pemain yang kehilangan dukungan langsung di stadion.
Shin Tae-yong menyadari betul risiko tersebut. Ia menyebut bahwa kerusuhan suporter akan menimbulkan kerugian lebih besar bagi para pemain. "Justru hal itu akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi para pemain," ucapnya. Pernyataan ini sejalan dengan keluhan sejumlah pelatih di BRI Super League yang menilai sanksi komdis sering kali tidak adil karena menimpa tim secara kolektif.
Di sisi lain, The Jakmania memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia. Jumlah massa yang mencapai puluhan ribu menjadi kekuatan sekaligus tantangan dalam pengelolaan. Beberapa koordinator suporter telah berupaya menerapkan kode etik dan pengawasan internal, tetapi oknum di luar struktur kerap menjadi pemicu masalah.
Pertandingan melawan Persita menjadi ujian bagi konsistensi imbauan Shin Tae-yong. Jika The Jakmania mampu menjaga ketertiban, citra suporter Indonesia di mata publik dan sponsor berpotensi membaik. Sebaliknya, jika insiden terulang, bukan tidak mungkin Persija kembali menerima hukuman yang merugikan perjalanan tim di kompetisi.
Pertanyaannya, mampukah budaya mendukung ala Yogyakarta itu dipertahankan di Serang, ataukah euforia justru kembali melampaui batas?



