Asos Diterpa Dugaan Kebocoran Data, Pelanggan Diminta Ganti Kata Sandi
Baca dalam 60 detik
- Ritel mode Asos tengah menyelidiki aktivitas tidak sah setelah pengguna aplikasinya melihat peringatan mencurigakan pada 6 Oktober.
- Nama dan informasi kontak pelanggan diduga turut terakses, meski perusahaan menegaskan kata sandi dan data pembayaran tidak terdampak.
- Pakar hak konsumen mendesak pengguna segera mengganti kata sandi, terutama jika kredensial yang sama dipakai di layanan lain.

Raksasa ritel mode asal Inggris, Asos, tengah menyelidiki dugaan akses tidak sah terhadap data pelanggan setelah sejumlah pengguna aplikasinya melaporkan kemunculan peringatan yang menyerupai pesan peretas pada 6 Oktober. Perusahaan menyatakan nama dan informasi kontak pelanggan berpotensi terekspos, meski menegaskan kata sandi akun serta data pembayaran tidak ikut terdampak.
Insiden ini mencuat ke publik bukan melalui pemberitahuan resmi perusahaan, melainkan dari unggahan di media sosial dan pemberitaan BBC News. Seorang pakar hak konsumen yang diwawancarai BBC mendesak pelanggan segera mengganti kata sandi, khususnya mereka yang memakai kredensial serupa di platform lain. Keluhan pun muncul dari sebagian pelanggan yang merasa tidak mendapat informasi langsung dari Asos. "Mereka bahkan tidak menghubungi kami soal ini โ kami tahunya dari media sosial!" tulis seorang pengguna dalam kolom komentar, seperti dikutip BBC News.
Meski Asos menyatakan data pembayaran dan kata sandi aman, kombinasi nama dan kontak tetap bernilai bagi pelaku kejahatan siber. Pakar tersebut memperingatkan bahwa penipu akan berupaya memonetisasi situasi ini, terutama ketika pelanggan sudah mengetahui ada potensi kebocoran. Modus yang paling mungkin adalah serangan lanjutan berupa telepon atau pesan yang mengaku dari bank atau pihak resmi, dengan memanfaatkan nomor yang dipalsukan agar tampak sah.
"Jika Anda mendapat telepon dari seseorang yang meminta data pribadi dan Anda merasa curiga, tutup saja. Tunggu dulu. Bisa jadi itu spoofing, di mana penipu memakai nomor bank Anda agar tampak seperti panggilan resmi," ujar pakar hak konsumen tersebut.
Rekomendasi pertama yang disampaikan adalah segera mengganti kata sandi, terlebih bagi yang memakai login sama atau mirip di situs lain. Karena nama dan kontak mungkin telah terakses, memperbarui kredensial di akun-akun yang tumpang tindih dapat mencegah paparan terbatas berkembang menjadi masalah besar. Untuk kekuatan kata sandi, pakar menyarankan panjang minimal delapan karakter, menghindari kata utuh atau nama asli, serta mengombinasikan huruf besar-kecil, angka, dan simbol. Autentikasi dua faktor juga disarankan bila tersedia.
Kasus Asos bukan insiden tunggal di sektor ritel dan e-commerce global. Sebelumnya, Uni Eropa menuduh AliExpress gagal secara sistemik mencegah peredaran produk ilegal di pasar daringnya. Pakar tekstil juga menyoroti praktik merek yang menjual pakaian sintetis bernilai rendah, sementara konsumen semakin sadar bahwa poliester bisa mengandung pewarna dan bahan kimia beracun yang jarang diungkap produsen. Investigasi lain mengaitkan pemasok H&M dengan dugaan pekerja anak yang meluas. Rangkaian ini memperkuat kekhawatiran bahwa perlindungan data dan transparansi rantai pasok masih menjadi titik lemah industri mode global.
Bagi Indonesia, insiden semacam ini menjadi pengingat bahwa perlindungan data pribadi bukan urusan domestik semata. Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang mulai berlaku penuh pada Oktober 2024 menuntut pelaku usaha, termasuk platform e-commerce, untuk transparan dalam pelaporan kebocoran data. Namun, penegakannya masih menghadapi tantangan, terutama ketika data mengalir lintas yurisdiksi. Pelanggan Indonesia yang memiliki akun di platform global seperti Asos berisiko terkena dampak tidak langsung, terutama jika mereka memakai kredensial yang sama untuk layanan perbankan atau dompet digital.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah Asos akan mengungkap detail investigasinya, tetapi juga seberapa cepat regulator di berbagai negara menuntut akuntabilitas. Jika insiden ini terbukti terbatas pada nama dan kontak, dampaknya mungkin tidak langsung terasa. Namun, pola serangan lanjutan yang menyasar kepercayaan konsumen bisa jauh lebih merusak. Akankah pelanggan menuntut standar keamanan yang lebih tinggi, ataukah mereka akan beralih ke platform yang lebih transparan? Waktu yang akan menentukan, tetapi tekanan publik sudah mulai terasa.



