Pedro Acosta Bantah Isu Obsesi Kalahkan Marquez: Saya ke Ducati untuk Belajar, Bukan Perang Ego
Baca dalam 60 detik
- Pedro Acosta menegaskan kepindahannya ke Ducati bukan untuk menyaingi Marc Marquez, melainkan menimba ilmu dari pembalap terbaik dalam 15 tahun terakhir.
- Keputusan itu diambil tanpa negosiasi dengan KTM, bahkan setelah tawaran kontrak dan bujukan CEO Gottfried Neumeister ditolak mentah-mentah.
- Bergabung dengan Marquez dianggap investasi jangka panjang; kalah pun tetap menguntungkan karier Acosta di masa depan.

Pedro Acosta akhirnya buka suara soal alasan sebenarnya di balik kepindahannya ke Ducati pada 2027. Pembalap Spanyol itu menampik tudingan CEO KTM, Gottfried Neumeister, yang menyebut dirinya pindah demi bisa mengalahkan Marc Marquez dengan motor yang sama. Acosta menegaskan motivasinya murni untuk belajar dari pembalap terbaik dalam satu setengah dekade terakhir, bukan untuk memenangkan duel ego sesama pembalap.
Pernyataan itu disampaikan Acosta saat ditemui Motorsport.com di sela-sela gelaran Indonesian GP. Ia merespons cerita Neumeister yang mengaku sempat berusaha keras menahannya di KTM, bahkan dengan tawaran finansial lebih besar dan janji motor kompetitif. Menurut Neumeister, Acosta disebut berucap dalam bahasa Spanyol bahwa ia ingin mengalahkan Marc dengan senjata yang sama, bahkan jika motor KTM 850cc lebih unggul sekalipun.
Acosta membantah narasi tersebut. Ia menegaskan tidak pernah membuka ruang negosiasi dengan KTM. "Mereka mengirim kontrak, saya tolak. Mereka datang membujuk, saya bilang tidak akan pernah berubah pikiran," ujarnya. Ia mengungkap alasan mendasar: pengalaman pahit setahun lalu ketika KTM mempersoalkan status kontraknya. "Saya tidak akan mengulang situasi itu, bahkan untuk semua uang di dunia," tegasnya.
Pembalap muda itu juga menjelaskan bahwa tujuan utamanya bersama manajer Albert Valera adalah mendapatkan motor dan tim paling kompetitif dalam satu dekade terakhir. "Bukan soal mengalahkan Marc. Alasan saya ingin bersama Marc adalah karena saya tidak akan punya kesempatan lagi belajar dari pembalap terbaik dalam sejarah, atau setidaknya 15 tahun terakhir," paparnya.
"Bahkan jika saya kalah, berada di dekatnya akan lebih menguntungkan karier jangka panjang saya dibandingkan kerugian jika ia mengalahkan saya."
โ Pedro Acosta
Kepindahan Acosta ke Ducati menandai babak baru dalam peta kekuatan MotoGP. Selama ini Ducati mendominasi dengan deretan pembalap papan atas, dan kehadiran Acosta menambah kedalaman skuad pabrikan. Bagi KTM, kehilangan Acosta menjadi pukulan telak setelah mereka baru saja menunjukkan tanda kebangkitan lewat kemenangan di Austria. Neumeister sebelumnya menyebut sikap Acosta sebagai cerminan semangat balap yang sejati, namun kini pernyataan itu berbalik menjadi polemik.
Dari kacamata industri, langkah Acosta mencerminkan pergeseran prioritas pembalap muda. Jika dulu uang dan status pembalap utama menjadi magnet, kini akses ke tim terbaik dan kesempatan belajar dari legenda hidup seperti Marquez lebih bernilai. Ducati, dengan rekam jejak juara bertahan, menjadi kampus ideal bagi talenta yang ingin mengasah diri tanpa harus terjebak perang psikologis antar sesama pembalap.
Bagi penggemar MotoGP di Indonesia, dinamika ini menambah bumbu jelang musim 2027. Apalagi Marc Marquez masih menjadi ikon yang ditunggu aksinya di Sirkuit Mandalika. Kehadiran Acosta di garasi Ducati akan membuat persaingan internal semakin panas, namun juga menyajikan tontonan teknis berkualitas. Pertanyaannya, apakah Acosta benar-benar bisa menahan ego dan fokus belajar, atau justru terpicu untuk melampaui sang maestro lebih cepat dari perkiraan?



