Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak, Waller Sinyalkan Kenaikan Suku Bunga Lanjutan
Baca dalam 60 detik
- Imbal hasil Treasury AS naik tajam menjelang lelang obligasi 30 tahun, dengan yield 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2002.
- Gubernur Fed Christopher Waller menegaskan perlu kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk menekan inflasi, namun tidak harus dilakukan dalam pertemuan beruntun.
- Pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada Oktober dan menaikkannya pada Desember, sementara lelang obligasi jangka panjang menjadi ujian permintaan utang AS.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat kembali menanjak pada Kamis (8/10/2026), dipicu oleh pernyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang menilai masih diperlukan kenaikan suku bunga untuk menjinakkan inflasi. Pasar juga menanti lelang obligasi 30 tahun senilai US$22 miliar yang menjadi barometer permintaan terhadap utang AS di tengah kekhawatiran defisit global.
Yield acuan 10 tahun naik 4 basis poin menjadi 5,322%, setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 2002. Obligasi 30 tahun juga menanjak lebih dari 4 basis poin ke 5,705%, mendekati puncak 24 tahun. Sementara itu, yield obligasi 2 tahun bertambah hampir 3 basis poin menjadi 4,793%. Kenaikan yield ini mencerminkan tekanan jual di pasar obligasi, karena harga dan imbal hasil bergerak berlawanan arah.
Risalah rapat Fed yang dirilis Rabu menunjukkan para pejabat memperkirakan akan menaikkan suku bunga sekali lagi sebelum akhir tahun untuk meredam inflasi. Waller, dalam forum Bank Sentral Turki di Istanbul, menyatakan bahwa kenaikan tidak perlu dilakukan pada setiap pertemuan, tetapi harus terealisasi dalam periode yang wajar. "Kenaikan tidak harus datang di pertemuan berturut-turut," ujarnya, seraya menambahkan bahwa inflasi telah berada di atas target 2% selama sekitar 5,5 tahun.
Pelaku pasar saat ini memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober, lalu menaikkannya pada 9 Desember. Ekspektasi ini tercermin dari pergerakan yield yang terus meningkat, seiring investor menyesuaikan portofolio terhadap risiko suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
"Lelang 10 tahun telah menentukan nada pasar Treasury โ setidaknya untuk saat ini. Meskipun besarnya aksi jual antara pembukaan kembali September dan lelang hari ini biasanya menjadi alasan bagi pembeli untuk menunggu, kami mengambil kelegaan dari sponsor yang ada bahkan ketika itu menjadi lelang 10 tahun dengan yield tertinggi sejak November 2000," kata Ian Lyngen dari BMO Capital Markets.
Lyngen menambahkan bahwa lelang obligasi jangka panjang pada Kamis akan menjadi "barometer berikutnya untuk permintaan utang AS di lingkungan kekhawatiran defisit global." Selain lelang, investor juga menantikan rilis klaim pengangguran mingguan pada Kamis dan Sentimen Konsumen Michigan awal Oktober pada Jumat.
Bagi Indonesia, lonjakan yield AS berpotensi memperlebar spread imbal hasil SUN dan menekan nilai tukar rupiah. Kenaikan yield global sering memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor beralih ke aset safe haven. Bank Indonesia mungkin perlu menaikkan suku bunga acuan atau melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas. Namun, di sisi lain, imbal hasil SUN yang lebih tinggi dapat menarik minat investor domestik dan asing yang mencari imbal hasil menarik, asalkan risiko nilai tukar terkelola.
Ke depan, fokus pasar tertuju pada keputusan Fed pada Desember dan hasil lelang obligasi 30 tahun. Jika permintaan lelang lemah, yield dapat terus melonjak dan menekan pasar keuangan global. Sebaliknya, jika lelang sukses, tekanan jual mungkin mereda. Pertanyaannya, apakah The Fed akan benar-benar menaikkan suku bunga lagi, ataukah data ekonomi yang melambat akan memaksa mereka menahan diri?



